10 November 2009

Menghampiri Ilahi Lewat Haji

MENGHAMPIRI ILAHI LEWAT HAJI

Para Ulama membagi jenis ibadah dari sisi pelaksanaannya menjadi tiga macam. Pertama Ibadah jasmaniyah dan ruhaniyah, yaitu perpaduan antara ibadah badan dan ruhani seperti Shalat dan puasa. Kedua, Ibadah maliyah ruhaniyah, yaitu perpaduan antara amalan ruhani dan harta seperti zakat. Dan ketiga, ibadah jasmaniyah, ruhaniyah serta maliyah, yaitu ibadah yang memadukan antara amalan ragawi, ruhani sekaligus memerlukan harta seperti ibadah haji.
Memahami makna ibadah haji, membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, kerena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim bersama keluarga beliau. Ibrahim dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “bapak Monotheisme, “serta “proklamator keadilan Ilahi. Kepada belaiulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini.
Ibadah haji dikumandangkan Ibrahim sekitar 3600 tahun lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, namun kemudia diluruskan kembali oleh Muhammad SAW. Salah satu hal yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan nilai universal kemanusiaan haji. Al-Quran Surat al-Baqarah 2:199, menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-Hummas) yang merasa diri memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wukuf. Mereka wukuf di Muzdalifah sedang orang banyak di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi perasaan superioritas dicegah oleh Al-Quran dan turunlah ayat tersebut di atas.
Ibadah haji dilakukan pada bulan Dzulhijjah yang sangat dimuliakan kaum muslimin. Mekah adalah kota yang aman dan damai. Kota padang pasir ini tidak dicirikan oleh ketakutan, kebencian, dan perang, tetapi oleh keamanan dan kedamaian. Di kota ini sangat terasa suasana ibadah di mana manusia bebes menghadap Allah Yang Maha Besar. Tidakkah kita mendengar seruan Ibrahim:
“Dan serulah manusia untuk melakukan haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang sudah lemah. Mereka datang sari segala penjuru yang jauh” (Surat al-Hajj 22:27).
Wahai makhluk-makhluk yang diciptakan dari tanah, kalian mencari dan mengikuti ruh Allah. Terimalah ajakannya, tinggalkan kampung halaman kalian untuk “menemui” Dia yang sedang menantikan kedatangan kalian.
Eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah mendekati ruh Allah (taqarrub ila ruhillah). Bebaskanlah diri kalian dari segala kebutuhan dan ketamakan yang membuat kalian lupa kepada Allah. Oleh karena itu lakukanlah perjalanan haji yang di sepanjang masa dilakukan oleh manusia. “kunjungilah” Allah Yang Maha Besar dan Agung.

Pengamalan Nilai-Nilai Kemanusian Universal Haji
Secara ibadah, ritual haji haruslah mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah ketika beliau melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda : “Khudzdzuu `anniy manaasikakum” ambillah (contohlah) dariku manasik haji kalian. Mulai dari Ihram, tempat miqat, thawaf, sa`i, wukuf, jamarat, tahalul, haruslah dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, dan tidak boleh membuat cara-cara ritual sendiri. Hal yang selanjutnya harus dilakukan oleh para hujjaj setelah melakukan manasik haji dengan baik dan benar adalah memahami apa nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran dari setiap ritual ibadah haji yang kita lakukan.
Setiap Allah memerintahkan manusia untuk melakukan suatu aktivitas ibadah, pastilah di dalamnya ada manfaat dan pelajaran bagi manusia yang melakukannya. Begitu juga dengan ibadah haji. Ibadah yang merupakan bagain dari rukun Islam ini, mengajarkan berbagai nilai-nilai kemanusian universal yang sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakain biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Perbedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakain menciptakan “batas” palsu yang menyebabkan “perpecahan” di antara umat manusia. Dari “perpecahan” itu timbul konsep “aku”, bukan “kami atau kita”. “Aku” dipergunakan di dalam konteks-konteks seperti : rasku, kelasku, kelompokku, kedudukanku, hartaku, keluargaku, dan bukan “aku” sebagai manusia.
Di Miqat Makani, engkau harus menyadari apa yang harus engkau lakukan dan mengapa hal tersebut harus engkau lakukan. Dengan mengenakan pakain ihram engkau melakukan shalat ihram. Di dalam shalat ini engkau menghadap Allah sambil berkata : “Ya Allah, aku tidak lagi menyembah berhala-berhala dan apa pun yang selain-Mu”.
Di Miqat Makani, tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. “Di Miqat ini apa pun ras dan sukumu serta dari bangsa mana pun kalian berasal , lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari sebagai srigala (yang melambangkan kekajaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), domba (yang melambangkan penghambaan kepada makhluk). Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya, yaitu sebagai hamba Allah.
Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuhnya ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seseorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi jiwanya oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaiakannya kelak di hadapan Tuhan. Yang di sisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain, kecuali atas dasar pengabdian dan ketakwaan kepada-Nya.
Kedua, dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Di dalam keadaan ihram ada berbagai hal yang tidak boleh kita lakukan, misalnya setiap yang mengingatkan kita kepada usaha, posisi, kelas sosial, dan ras kita. Kita juga dilarang menyakiti binatang, membunuh, menumpahkan darah, dan mencabut pepohonan. Mengapa? Karena manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan itu, dan memberinya kesempatan seluas mungkin mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau nikah, dan berhias supaya setiap orang yang berhaji menyadari bahwa manusia bukan hanya materi semata-mata, bukan pula birahi. Hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani. Dilarang pula menggunting rambut, kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap kepada Tuhan sebagaimana adanya.
Ketiga, Ka`bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sebelah barat ka`bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke ka`bah. Bangunan ini disebut Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail, putra Ibrahim, pembangun Ka`bah ini pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, tetapi wanita ini dimuliakan di sisi Tuhan. Hal ini mengandung pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk melakukan hajar (berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan).
Keempat, setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah , yaitu dilakukannya sa`i. Di sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistri oleh Nabi Ibrahim itu, diperagakan pengalamannya mencair air untuk putranya. Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh, terbukti jauh sebelum peristiwa pencarian ini, ketika ia bersedia ditinggal (Ibrahim) bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu dalam tak menjadikannya samasekali berpangku tangan menunggu turunnya hujan dari langit, tapi ia berusaha berkali-kali mondar mandir demi mencari kehidupan. Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang arti harfiahnya adalah “kesucian dan ketegaran”- sebagai lambang bahwa mencapai kehidupan harus dengan usaha yang dimulai dengan niat yang suci dan ketegaran- dan berakhir di Marwah yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain”.
Adakah makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas? Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, atau dalam istilah kaum sufi al-fana` fi Allah, maka sa`i menggambarkan usaha manusia mencari hidup –yang dilakukan begitu selesai thawaf- yang melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan. (Al-Qashash 28 : 77)
Kelima, di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu seluruh jamaah haji wukuf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma`rifat, pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang `arafah untuk menjadi `arif atau sadar dan lebih mengenal Tuhannya. Apabila kearifan telah menghiasi seseorang, maka Anda akan, menurut Ibnu Sina “selalu gembira, senyum dan bahagia karena telah mengenal-Nya”.
Keenam, dari Arafah para jamaah ke Muzdalifah mengumpulkan senjata menghadapi musuh utama yaitu setan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Di Mina, jamaah haji melakukan jamarat selama dua hari atau tiga hari, sebagai simbol bahwa perlawanan kepada setan harus kita lakukan terus menerus.
Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah dan bermakna. Apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Itulah sejatinya makna haji mabrur, yaitu haji yang pelakunya dipenuhi dan dihiasi setelah ibadah hajinya dengan berbagai kebajikan dan kesalehan, baik individu maupun kesalehan sosial.

Adab-adab Batiniyah Ibadah Haji
Al-Ghazali menyebutkan ada beberapa adab batiniyah ibadah haji :
1. Hendaklah ia berhaji dengan harta yang halal. Ia harus meninggalkan perhatian pada urusan pekerjaan dan pekerjaannya. Ia harus mencurahkan perhatiannya semata-mata kepada Allah. Rasulullah bersabda :” Pada akhir zaman nanti, manusia yang keluar melakukan ibadah terdiri dari empat macam. Para pejabat haji untuk pesiar, pedagang untuk berniaga, orang miskin untuk mengemis, dan ulama untuk kebanggaan.
2. Hendaklah ia tidak memboroskan bekalnya untuk makan dan minum yang mewah atau membeli kelezatan-kelezatan di perjalanan. Ia harus banyak menggunakan hartanya untuk bersedekah, menolong orang lain, atau memberikan bekal kepada teman seperjalanan.
3. Hendaklah ia meninggalkan segala macam akhlak tercela, yaitu kekejian dan kefasikan serta perdebatan dan perbantahan. Yang termasuk kekejian adalah berkata kotor, kasar atau menusuk perasaan. Juga berdusta, memfitnah dan menipu.
4. Diutamakan banyak berjalan. Sekarang ini mungkin lebih baik meninggalkan Arafah dan menuju Mina dengan berjalan kaki daripada dengan kendaraan. Dengan berjalan kaki, ia akan sempat tidur di Muzdalifah, dan pagi-pagi berangkat menuju Mina. Sudah bisa dipastikan, mereka akan tiba di Mina lebih cepat daripada orang yang menyewa kendaraan.
5. Hendaklah ia berpakaian sederhana dan meninggalkan tanda-tanda kesombongan dan kemewahan. Bukankah pada waktu ihram, kita dianjurkan untuk tidak menyisir rambut sehingga rambut kita akan kelihatan kusut-masai. Haji dimaksudkan untuk membesarkan Allah dan mengecilkan diri kita.
6. Hendaklah ia bersabar menerima musibah yang menimpa badannya atau bila ia kehilangan hartanya.

Sementara itu Ja`far al-Shadiq memberikan nasihat kepada para jemaah haji dengan mengatakan : “Jika engkau berangkat haji, kosongkanlah hatimu dari segala urusan. Hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah. Tinggalkan setiap penggalang, dan serahkan urusanmu kepada Penciptamu. Bertawakalah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu. Berserah dirilah kepada ketentuan-ketentuan-Nya, hukum-hukum-Nya, dan takdir-Nya. Tinggalkan dunia, kesenangan, dan seluruh makhluk. Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk Tuhan. Janganlah bersandar kepada bekalmu, kendaraanmu, sahabatmu, kekuatanmu, kemudaanmu, dan kekayaanmu.
Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi. Bergaullah dengan baik. Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan Sunnah Nabi Muhammad, berupa adab, kesabaran, syukur, kasih-sayang, kedermawanan, mendahulukan orang lain sepanjang waktu. Bersihkan dosa-dosamu dengan air taubat yang ikhlas.
Pakailah pakain kejujuran, kesucian, kerendahan hati dan kekhusukan. Beihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah dan mencegahmu mentaati-Nya. Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan Allah dengan ikhlas, suci dan bersih dalam doa-doa kamu, seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.
Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arsy, sebagaimana kamu bertawaf denga jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina. Janganlah mengharapkan apa pun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.
Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaruilah perjanjianmu di depan Allah dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerasukan ketika engkau menyembilah dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar jamarat.
Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjid Al-Haram. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau tawaf perpisahan. Sucikan ruh dan batinmu untuk menemui Dia pada hari pertemuan dengan Dia, ketika kamu berdiri di Shafa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwah.
Setelah menerapkan dan memahami niat, keikhlasan, dan pengabdian dalam ritual ibadah haji dengan benar, maka satu bekal yang paling penting dan harus ada sebelum, selama haji dan setelahnya adalah ”bekal takwa”. Takwa adalah kesadaran bersama Dia terus menerus di mana pun dan kapan pun serta dalam aktivitas apa pun. Allah berfirman : ”Dan berbekalah kalian semua, dan sebaik-baik bekal adalah takwa (kesadaran hidup bersama-Nya), dan jagalah kesadaran kalian bersama-Ku wahai orang-orang yang telah hidup lubnya (inti qalbunya)” (Al-Baqarah 2 : 197).
Dengan bekal ”pakaian” takwa maka hakikat ihram akan terus dikenakan walaupun ibadah haji telah selesai dilaksanakan. Maka diharapkan orang yang telah melakukan ibadah haji adalah orang yang telah melakukan perjalanan internal menuju ke al-Awwal yang hasilnya adalah menemukan dirinya berasal dari Allah dan karenanya statusnya adalah hamba Allah. Perjalanan ini dinamakan dengan tawakal. Dan setelah itu dia harus melakukan perjalanan eksternal menuju ke Al-Akhir (menghampiri Ilahi) yang hasilnya adalah transformasi sosial atau takwa. Para wali mengatakan peran ini dengan ungkapan : weweh pangan marang wong kan luwe. Weweh sandang marang wong kang wudo. Weweh payung marang wong kang kodanan lan kepanasan. Weweh teken marang wong kang wuto. Memberi makan kepada yang lapar. Memberi pakain kepada yang telanjang. Memberi payung kepada yang kehujanan dan kepanasan. Memberi tongkat kepada yang buta.
SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR

Tidak ada komentar: