INDAHNYA SILATURAHIM
Setiap kali kita mengakhiri Ramadhan dan merayakan Idul Fitri, kita selalu mengadakan acara silaturahmi, yang lebih popular kita sebut halal bi halal. Kedua istilah itu, silaturahmi dan halal bi halal, bukanlah kata-kata Arab yang tepat. Silaturahmi sebetulnya harus diucapkan silaturahim. Halal bi halal juga tidak bisa dipahami orang Arab mana pun, kecuali yang pernah datang ke Indonesia. Kata ini tidak ada dalam kamus bahasa Arab. Dalam Kamus Indonesia-Arab, karangan Abdullah bin Nuh, halal bi halal diartikan al-haflah ba`da yaum `id al-fithri, perayaan sesudah Hari Raya Idul Fitri.
Halal bi halal adalah suatu metode sosial untuk mengubah relasi yang makruh (tidak menyenangkan) dan haram di antara manusia, menjadi suatu relasi dan pergaulan kolektif yang bersifat atau bernilai halal. Jadi halal bi halal bermakna halalnya hubungan-hubungan sosial, ekonomi, politik dan hukum di antara manusia. Oleh karenanya, dalam proses halal bi halal diperlukan proses pembersihan total, pembayaran harta kalau ada tanggungan, pemenuhan amanat-amanat yang selama ini diabaikan, kemudian dilanjutkan dengan permohonan maaf dan janji membayar atau memenuhi segala sesuatu yang menjadi syarat pemaafan.
Jadi apabila dikatakan antara si A dan si B sudah melakukan halal bi halal bermakna di antara keduanya sudah tidak ada keburukan, kejahatan, kemungkaran, ketidakbenaran, dan ketidakadilan yang belum di bereskan.
Kalau proses halal bi halal telah berjalan maka silaturahim menjadi buahnya. Artinya ketika antara sesama manusia sudah tidak ada lagi ketidakadilan, kedzaliman, dan ganjalan lainnya dalam hal apa pun, maka hubungan kasih sayang akan otomatis terjalin.
Perintah Silaturahim
Allah dalam banyak firman-Nya yang tersebar di banyak ayat dalam Al-Qur`an sangat menganjurkan dan memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyambung hubungan kasih sayang (silaturahim), baik terhadap sesama manusia maupun kepada seluruh makhluk Allah. Dalam Surat an-Nisa` ayat 1 misalnya Allah berfirman, “Wahai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan menciptakan darinya pasangannya, dan menggelarkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kamu kepada Allah yang karena-Nya kamu saling meminta tolong dan peliharalah silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu memperhatikan kamu semua”. (an-Nisa` 4 : 1).
Dalam ayat lain Allah berfirman, “ (Ulul Albab adalah orang-orang) yang memenuhi perjanjian dengan Tuhan dan tidak memutuskan ikatan. Dan orang-orang yang menyambungkan (persaudaraan) yang Allah perintahkan untuk disambungkan dan takut kepada Tuhan mereka serta mencemaskan pertanggungjawaban yang paling buruk dan orang-orang yang bersabar karena mengharapkan ridha Tuhan mereka, mendirikan salat, membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; bagi mereka itulah kampung kembali yang terakhir; yakni surga `And. Mereka masuk ke dalamnya dan orang-orang saleh di antara orang-orang tua, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Dan malaikat masuk menyambut mereka dari setiap pintu. Salam bagi kalian karena kesabaran kalian. Alangkah baiknya kampung tempat kembali. Dan orang-orang yang memutuskan perjanjian dengan Allah sesudah memperkuat ikatannya serta memutuskan silaturahim yang Allah perintahkan untuk disambungkan dan melakukan kerusakan di bumi,bagi mereka laknat dan bagi mereka kampung yang paling buruk”. (ar-Ra`d 13 : 19-25)
Dalam surah Muhammad 47 ayat 22-23 Allah juga berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusahan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kamu. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka”.
Rasulullah pun memerintakan umatnya untuk menjalin silaturahim dan melarang bahkan mengecam siapa pun yang memutuskannya dalam banyak hadisnya. Di antara hadis-hadis tersebut adalah :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati dan muliakanlah tamumu, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka sambunglah tali silaturahim, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik atau kalau tidak bisa lebih baik diam”. (HR. Bukhari)
”Barang siapa yang ingin dimudahkan (Allah) rezekinya atau dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (hubungan kasih sayang).” (HR. Bukhari)
“Sambunglah silaturahim kepada orang memutuskankan kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad).
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang memutuskan kekeluargaan, Aku akan putuskan hubungan-Ku dengan dia, dan barang siapa yang menyambungkan tali kekeluargaan, Aku akan mengukuhkan tali kekeluargaannya”. (HR. Muslim)
“Ar-Rahim yang bergantung di Arsy berkata, “Barang siapa menyambungkan silaturahim, Allah akan menyambungkan (berkumunikasi) dengannya, dan barang siapa yang memutuskan silaturahim, Allah juga akan memutus hubungan dengannya”. (HR mutaffa` alaihi).
Filosofi Silaturahim
Kenapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan dan memerintahkan silaturahim dan melarang bahkan mengecam siapa pun yang memutuskannya? Paling tidak ada landasan filosofis dan sebab hakiki yang bisa menjawab pertayaan di atas, di antaranya adalah :
1. Karena Ar-rahim merupakan nama Allah, Rasul bersabda bahwa Allah berfirman, “Aku adalah ar-Rahman, Aku ciptakan ar-Rahim, dan Aku tetapkan ia termasuk nama-Ku, maka barang siapa menyambungkannya Aku juga menjalin kumunikasi dengannya, dan barang siapa memutuskannya Aku pun akan memutuskan komunikasinya dengannya”. (HR. al-Tirmidzi).
2. Karena kaum beriman hakikatnya satu. Islam mengajarkan bahwa kita wajib menyayangi sesama mukmin dan muslim, dan melarang untuk saling menyakiti dan bertikai. Al-Qur`an memerintahkan bahwa umat Islam harus berpegang teguh kepada tali Allah yang satu dan dilarang untuk bercerai berai, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran 3 :103). Rasulullah pun telah menegaskan bahwa kaum mukmin bagaikan satu bangunan yang mestinya saling mengokohkan dan mengasihi. Rasulullah saw. bersabda, “ Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain. (kemudian Rasul merapatkan jari-jari tangan beliau”. (Mutafa` alaih). Di hadis yang lain beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta dan kasih sayang seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing), maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam”. (HR. Muslim).
3. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Allah telah menetapkan semua ciptaannya berpasangan (azwajan) dan sebagai makhluk sosial manusia harus berhubungan dengan sesamanya (hablum minan naas) dan dilarang untuk bersikap individualis dan egois. Sebab pada hakikatnya manusia dan semua makhluk Allah lainnya tidak bisa menggapai kesuksesan dan kebahagiaanya sendirian. Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya “orang lain” dalam menggapai kebahagiaan dan kesuksesan kita dengan sabdanya, “Tiadalah kamu mendapat pertolongan dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah di sekitarmu”. Bukankah kita bisa mempunyai rumah mewah, selain mempunyai uang, juga membutuhkan arsitek, kontraktor juga para tukang dan kuli untuk mewujudkannya. Begitu juga rumah kita beres segala sesuatunya karena andil dan bantuan para pembantu kita. Kita pun bisa menikmati mobil mewah kita kalau ada sopir yang membantu kita. Intinya, mustahil kita bisa berhasil dan berbahagia tanpa bantuan orang lain, baik langsung maupun tidak.
Hakikat Silaturahim
Tidak sedikit di antara kita yang beranggapan bahwa silaturahim hanya sekadar saling berkunjung, saling berjabat tangan, seraya meminta maaf. Padahal kalau diselisik, ada yang lebih dari itu semua yaitu aspek mental atau keluasan hati.
Berdasar asal katanya, silaturahim berasal dari kata shilat dan ar-rahiim. Shilat berarti menyambung, dan ar-rahiim berarti kasih sayang. Dengan demikian silaturahim bermakna menyambung kasih sayang. Makna menyambungkan menuju pada proses aktif dari sesuatu yang asalnya terputus menjadi tersambung, dari sesuatu yang asalnya bercerai berai menjadi utuh kembali. Sesuai yang disabdakan Rasulullah SAW., “Yang disebut silaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahim itu orang yang diputuskan silaturahimnya tetapi dia menyambungkan” (HR. Bukhari). Di hadis yang lain Rasulullah bersabda : “Sambunglang silaturahim kepada orang yang memutuskannya kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat dhalim kepadamu”.( H.R. Imam Ahmad).
Jika batasnya pada kunjungan yang disertai dengan barang bawaan maka pemberian akan menjadi patokan seseorang untuk silaturahim, karena tak jarang orang yang enggan berkunjung dengan alasan tidak ada bawaan untuk yang dikunjungi. Pun dengan saling berjabat tangan, seperti yang biasa kita lakukan di hari Fitri, jika hanya sebatas aktivitas bersentuhan atau berjabat tangan, bagaimana dengan orang yang diberi keterbatasan dengan tidak memiliki tangan.
Oleh karena itu perlu kita sadari bahwa silaturahim tidak hanya sebatas rekayasa gerak-gerik tubuh tapi pelibatan hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati ini yang akan menjadi kekuatan untuk berbuat lebih baik dan lebih bermutu. Dari sini terlihat jelas betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahim. Betapa tidak! dengan silaturahim akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia bahkan dengan makhuk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat Allah dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita. Tapi sebaliknya rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahim terputus. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan”.
Dengan tersambungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Pintu rahmat dan pertolongan Allah pun terbuka lebar. Semoga Allah memberi kelayakan bagi kita untuk mendapatkan rahmat-Nya atas silaturahim yang kita jaga.
Manfaat Silaturahim
Ada banyak manfaat yang bisa kita peroleh apabila kita selalu menyambung tali silatiurahim, di antaranya adalah :
1. Diluaskan rezekinya dan dipanjankan umurnya (baik secara majazi maupun sebenarnya). Anas bin Malik meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Siapa yang ingin dimudahkan (Allah) rezekinya dan dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (hubungan kasih sayang).” (Hadis riwayat Bukhari). Dengan silaturahim maka hubungan yang terjalin bisa menjadi sarana dan media untuk saling tukar informasi tentang banyak hal termasuk tentang bisnis. Dalam bahasa sekarang networking akan sangat dibutuhkan bagi pelaku bisnis, bahkan merupakan salah satu faktor terpenting. Nah, dengan silaturahim, networking akan terbentuk dengan kuat. Dan dengan networking yang kuat, jalan mengalirnya rezeki Allah terbentang luas. Sedangkan makna dipanjangkan umur, saya lebih memahaminya secara kiasan. Artinya, orang yang rajin silaturahim, maka umurnya akan terus bertambah walaupun secara fisik dia sudah mati. Selama orang masih mengingat dan mengenang namanya, maka hakikatnya dia masih hidup. Bukankah Rasulullah dan para sahabat masih hidup terus bersama kita walupun sudah lima belas abad mereka wafat. Bukankah para wali songo terus hidup di hati kaum muslimin Indonesia walaupun sudah meninggal ratusan tahun yang lalu. Para pahlawan kemerdekaan juga terus hidup di mata rakyat Indonesia walaupun sudah puluhan tahun mereka gugur di medan laga. Leluhur, kakek, ataupun ayah ibu kita yang telah wafat juga tetap hidup hakikatnya di dalam sanubari kita. Semuanya karena mereka pernah menjalin silaturahim dengan kita, baik dalam bentuk silaturahim fisik, ilmu, sosial maupun ruhani.
2. Mendapatkan kasih sayang Allah. Allah menjanjikan dan mensyaratkan bagi siapa pun yang ingin mendapatkan kasih sayang dan Allah akan selalu berkomunikasi dengannya agar menjalin dan menyebarkan kasih sayang terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah yang lain. Rasul bersabda, “Orang-orang yang selalu menyambung tali silaturahim yang Maha Rahman akan menyayangi mereka, karenanya sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangimu. Dan ar-Rahim adalah dahan dari ar-Rahman, maka barang siapa yang menyambungkannya maka Aku juga akan terus berkumunikasi dengannya, dan barang siapa memutuskannya Aku pun akan memutuskan hubungan dengannya”. (HR Ahmad)
3. Akan mendapatkan surga `Adn di akhirat kelak. Pada bagian akhir Surah Al-Ra`d 13 ayat 23 Allah menceritakan hamba-hamba-Nya yang beruntung pada hari kiamat nanti karena mereka diberi anugerah untuk masuk surga beserta orang tua, istri, keluarga, dan keturunannya. Al-Qur`an melukiskan dengan indah ketika mereka datang dengan rombongan keluarganya menuju surga. Para malaikat memberikan sambutan khusus pada mereka dengan mengucapkan, ‘Salamun `alaikum bima shabartum fani`ma `uqbad dar. Selamatlah bagi kalian semua karena kalian bersabar dahulu. Inilah tempat kembali yang paling indah bagi kalian.” Mereka masuk surga bersama-sama seluruh keluarganya, seperti melakukan “reuni” pada hari akhirat. Reuni yang mereka adakan melintasi ruang dan waktu. Reuni yang sering kita adakan di dunia adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita hanya dapat berkumpul dan bersilaturahim dengan orang-orang yang berada dalam satu tempat yang tidak berjahuan dan dalam satu zaman dengan kita. Kita tidak pernah bisa mengadakan silaturahim dengan orang tua kita yang sudah meninggal atau keturunan kita yang belum lahir. Tetapi nanti pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan seluruh keluarganya, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudah mereka. Al-Qur`an menyebutnya, “abaaihim wa azwajihim wa dzurriyyatihim. Generasi terdahuu, generasi yang sezaman, dan generasi kemudian (QS ar-Ra`d 13 : 23). Siapa gerangan orang yang beruntung bisa mengadakan silaturahim pada hari akhirat beserta seluruh keluarganya? Dalam surah ar-Ra`d disebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung nanti di hari akhirat adalah orang yang di dunianya senang menyambung silaturahim, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.” (Ar-Ra`d 13 : 21). Karena di dunia mereka senang menyambungkan tali kekeluargaan dan silaturahim, maka Allah sambungkan tali kekeluargaan mereka nanti pada hari akhirat.
Bentuk dan Jenis Silaturahim
1. Silaturahim fisik. Silaturahim fisik adalah menyambung kasih sayang dalam bentuk atau dengan media ketemu secara fisik. Silaturahim jenis ini merupakan jenis silaturahim yang popular dan sudah banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Walaupun popular tetapi jenis silaturahim fisik ini tidak mencerminkan silaturahim yang sejati kalau hati tidak dilibatkan. Sebab, boleh jadi orang sudah ketemu secara fisik, tetapi kalau di dalam hati masih ada ganjalan, dendam, iri dan dengki serta tidak ada niatan untuk memberikan kasih sayang yang tulus, maka hakikat silaturahim belumlah terwujud. Ingat, bentuk luar yang fisikal seringkali menipu, karena tidak selalu mencerminkan kondisi yang ada di dalamnya.
2. Silaturahim ilmu. Yang dimaksud silaturahim ilmu adalah sebuah bentuk menyambung dan menyebarkan kasih sayang lewat media ilmu, baik itu lewat menulis buku, mengajar, maupun bentuk berbagi ilmu lainnya. Silaturahim ini bisa menjadi alternatif bagi yang mempunyai keterbatasan waktu untuk bersilaturahim secara fisik. Sebab, silaturahim ilmu tidak mesti dengan ketemu fisik. selain itu jangkauannya juga semakin luas, baik bagi yang sudak kita kenal maupun yang belum, bahkan bisa melampaui batas-batas geografis. Silaturahim ilmu terjadi apabila ada interaksi antara produk ilmu dengan pembacanya. Lewat buku misalnya, penulis buku telah melakukan silaturahim dengan siapa pun yang membaca buku tersebut, tanpa dibatasi oleh faktor agama, golongan, ras, jenis kulit bahkan bisa lintas negara. Dan silaturahim ini keberlangsungannya bisa sangat lama, selama masih ada interaksi antara buku dengan pembacanya. Buku Ihya` Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali telah lebih seribu tahun bersilaturahim dengan pembacanya di mana pun mereka berada, dan akan terus berlanjut silaturahim ini selama masih ada orang yang membaca karya tersebut. Hadis-hadis Nabi pun telah menjadi media silaturahim Rasulullah kepada umatnya selama lima belas abad dan akan terus sampai akhir zaman selama masih ada umatnya yang membacanya.
3. Silaturahim sosial. Segala bentuk kegiatan dan aktivitas sosial yang bertujuan untuk kemanfaatan umat bisa dikategorikan silaturahim sosial ini. Silaturahim sosial ini juga sangat luas cakupannya, baik secara fisik, geografis, negara maupun keyakinan atau agama. Dan kita bisa melakukannya tanpa harus terlebih dahulu kenal secara fisik kepada mereka. Bukankah menyumbang korban tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, Tasikamalaya dan Sumatera Barat serta siapa pun yang tertimpa musibah di manapun mereka berada, kita lakukan tanpa pertimbangan kita kenal sama mereka atau tidak, apakah mereka seagama atau satu negara dengan kita atau tidak? Intinya, siapa pun yang berkorban dan berbagi untuk sesamanya, dalam bentuk apa pun maka ia telah melakukan silaturahim sosial.
4. Silaturahim ruhani, dengan saling berkirim doa antar sesama mukminin dan muslimin. Ini bisa dilakukan kapan saja dan bisa lintas negara bahkan lintas dunia. Artinya kita masih tetap bisa silaturahim kepada orang tua kita atau siapa pun yang telah meninggal atau bahkan bisa silaturahim dengan siapa pun yang tidak pernah bertemu secara fisik dengan kita. Bukankan dengan bersalawat kepada Rasulullah, bertawasul dengan mengirim hadiah al-Fatihah kepara sahabat nabi, para wali atau para ulama, sesungguhnya kita sedang melakukan silaturahim secara ruhani dengan mereka.
Obyek Silaturahim
Berbicara tentang obyek atau kepada siapa kita mesti menjalin silaturahim, maka Islam mengajarkan bahwa kita harus melakukannya dengan siapa pun, baik meliputi Sang Pencipta maupun ciptaan atau makhluk-Nya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Kepada Allah. Al-Quran dan Hadis Nabi mengajarkan kepada kita bahwa kita wajib menjaga komunikasi kita kepada Allah setiap saat, kapan pun dan di manapun kita berada. Rasulullah bersabda, “Jagalah komunikasimu dengan Allah kapan pun dan di mana pun kalian berada”. Kita tidak boleh sedetik atau sekejap pun memutuskan silaturahim kita kepada-Nya. Sebab tanpa kasih sayang dan bimbingan-Nya pasti manusia akan tersesat. Karenanya Rasul mengajarkan sebuah doa, “ Rabbiy laa takilniy ilaa nafsiy tharfata `ain, Ya Tuhanku janganlah Engkau putuskan silaturahim kepadaku walaupun sekejap mata”. Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Dia memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Barang siapa memperhatikan urusan akhiratnya, Allah akan memperhatikan urusan dunianya. Barang siapa menjadi penasihat bagi dirinya sendiri, Allah akan menjadi penjaganya”.
2. Kepada diri sendiri. Kita sering tanpa sadar berbuat tidak adil terhadap diri kita sendiri. Kita lebih sering bersilaturahim dengan diri kita yang berbentuk fisik dan jarang sekali melakukannya kepada yang bersifat ‘ruhani’. Begitu banyak dana kita investasikan untuk bersilaturahim dengan badan fisik kita, dalam bentuk makanan dan minuman, pakaian, alat make up, obat-obatan, maupun kebutuhan fisik lainnya. Namun berapa banyak kita investasikan uang kita untuk silaturahim dengan akal kita dengan membeli buku maupun proses mencari ilmu lainnya, berapa banyak dana atau perhatian kita keluarkan dan berikan untuk ruhani kita. Kadang kita acuh tak acuh dengan penyakit ruhani atau hati kita yang mungkin sudah sangat akut dan parah. Kalau kita masih dengki, riya`, sombong, tamak, malas beribadah, maka itu artinya ruhani kita sakit. Tapi kita tidak sesigap dan setakut dibandingkan dengan penyakit jantung, kanker, lever, ginjal yang menyerang fisik kita. Intinya, kita masih belum sepenuhnya bersilaturahim dengan diri kita. Karena itulah Rasul bersabda, “ Ibda` binafsik, mulailah dengan dirimu sendiri. Artinya, bersilaturahimlah dahulu dengan dirimu sendiri secara benar sebelum engkau bersilaturahim dengan orang lain.
3. Kepada kedua orang tua kita. Karena mereka berdualah kita lahir ke dunia ini. Karena mereka berdualah kita bisa menjadi seperti ini. Maka merupakan keniscayaan untuk berbakti dan memberikan kasih sayang kepada mereka berdua (Al-Ankabut 29 : 8; al-Ahqaf 46 : 15). Ridha Allah pun baru kita peroleh setelah kita mendapatkan ridha kedua orang tua. Terutama sekali kita wajib menjalin silaturahim dengan baik dengan ibu kita, yang oleh Rasulullah sampai diulang tiga kali sebagai orang yang mendapatkan pelayanan dari kita sebelum bapak kita ( Mutaffa` ‘alaih). Rasulullah pernah ditanya kedua orang tua, beliau menjawab : “Mereka berdua adalah surgamu atau nerakamu”. (H.R. Ibnu Majah).
4. Kepada orang yang sekasur dengan kita (baca : suami atau istri). Kalau silaturahim dengan diri sendiri telah dilakukan dengan baik, maka selanjutnya adalah silaturahim dengan orang yang sekasur dengan kita. Kalau suami kepada istrinya, dan kalau istri kepada suaminya. Mereka berdua harus berbagi kasih sayang, saling menghormati dan menghargai serta masing-masing menjadi pakaian (bisa menutupi aib) bagi pasangannya. (Al-Baqarah 2 : 187)
5. Kepada yang sedapur dengan kita. Saudara sedapur ini mencakup siapa pun yang ada di rumah kita, bisa anak, pembantu, sopir, satpam, dan lain-lain. Berilah makan kepada anak, pembantu, sopir, satpam, dengan makanan yang sama dengan yang kita makan. Begitu juga dengan pakain dan lainnya. Itulah yang dicontohkan oleh Rasul. Rasul bersabda, “Yang paling dekat denganku duduknya nanti di akhirat adalah yang paling baik akhlaknya dan paling baik kepada keluarganya, Dalam hadis yang lain Rasul bersabda, “Berikankan upah pembantumu sebelum kering keringatnya”.
6. Kepad sedulur, keluarga kandung dan keluarga dekat. Allah menyuruh kita setelah itu dengan silaturahim dengan Al-Qurba, keluarga yang dekat. Keluarga yang dihubungkan dengan kita melalui pertalian rahim. Dalam bahasa Arab, rahim berarti womb (bahasa Inggris yang berarti organ wanita yang menyimpan kita sebelum kita lahir). Karena itu, keluarga disebut Al-Rahim dan bentuk jamaknya Al-Arham. Sebuah keluarga dipertalikan lewat hubungan darah dan melalui rahim yang sama. Rasul bersabda, “Sesungguhnya sedekah kepada kaum muslimin dianggap sedekah, dan sedekah kepada saudara serahim dihitung sedekah dan menyambung tali silaturahim.”
7. Kepada tetangga. Tetangga adalah orang pertama yang kita mintai pertolongan. Karena boleh jadi keluarga serahim kita bertempat tinggal jauh dari rumah kita. Maka bersilaturahim dengan tetangga adalah sangat penting. Rasulullah bersabda, “Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang (berbuat baik) dengan tetangga sampai aku mengira bahwasanya mereka akan menjadi ahli warisku”. (HR. Bukhari). Di hadis yang lain riwayat at-Tirmidzi Rasul bersabda, “Sebaik-baik keluarga yang paling baik dengan anggota keluarganya, dan sebaik-baik tetangga yang paling baik dengan tetangganya”. Begitu pentingnya tetangga, karenanya rasul bersabda ada 8 macam hak tetangga yang mesti kita penuhi, “bila sakit jenguklah, bila wafat antarkan jenazahnya sampai ke kubur, bila kekurangan bantulah, bila mempunyai aib rahasiakan atau tutuplah, bila memperoleh kebahagiaan ucapakanlah selamat atau ikutlah berbahagia, bila mendapatkan kesedihan atau musibah hiburlah, janganlah kamu meninggikan bangunan melebihi bangunan tetangga yang dapat menutup sirkulasi udara bagi mereka, dan jangan mengganggunya dengan bau masakanmu kecuali engkau memberinya.” (HR. Thabraniy)
8. Kepada yang sejalur dengan kita, artinya satu akidah atau sesama muslim. Rasul bersabda, “ Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim, maka janganlah engkau mendzalimi, mengecewakan, dan merusak nama baiknya (saudaramu sesama muslim). (HR. Muslim). Artinya sesama muslim harus saling menyayangi, bersatu, berbagi, dan memperhatikan persoalan di antara mereka. Rasul bersabda, “Barang siapa tidak peduli dengan problem saudara muslimnya, maka dia tidaklah bagian dari mereka”.
9. Kepada yang seunsur dengan kita. Artinya kita wajib menjalin silaturahim kepada sesama manusia tanpa membedakan agama, ras, suku, warna kulit, kaya miskin dan sebagainya.
10. Kepada sesama makhluk Allah, harus harmoni dengan alam semesta. Kita tidak boleh merusak ekosistem alam dengan menebang hutan, berburu binatang yang dilindungi, penambangan liar dan sebagainya, karena dengan merusaknya berarti kita telah memutuskan silaturahim dengan mereka.
Dengan terjalinanya silaturahim dengan sepuluh obyek di atas, kedamaian di muka bumi insyaAllah akan terwujud. Mudah-mudahan permusuhan dan pertikaan antar mazhab, antar agama, antar negara, antar sesama, antar kelompok dan ras semakin berkurang. Semoga kerusakan hutan dan ekosistem serta kepunahan binatang langka semakin kecil. Dan akhirnya bumi akan damai, tenang dan tentram karena energi positif dari penghuninya yang selalu bersilaturahim. Amien
Wallaahu a’lam bish shawab
Via Vallen Isyaratkan KDRT, Terkesan Sebagai Curahan Hatinya
-
SeringKepo – Pedangdut Via Vallen baru-baru ini isyaratkan KDRT yang memicu
kepanikan di kalangan netizen....
Artikel Via Vallen Isyaratkan KDRT, Terkesa...
1 tahun yang lalu




Tidak ada komentar:
Posting Komentar