10 November 2009

Menghampiri Ilahi Lewat Haji

MENGHAMPIRI ILAHI LEWAT HAJI

Para Ulama membagi jenis ibadah dari sisi pelaksanaannya menjadi tiga macam. Pertama Ibadah jasmaniyah dan ruhaniyah, yaitu perpaduan antara ibadah badan dan ruhani seperti Shalat dan puasa. Kedua, Ibadah maliyah ruhaniyah, yaitu perpaduan antara amalan ruhani dan harta seperti zakat. Dan ketiga, ibadah jasmaniyah, ruhaniyah serta maliyah, yaitu ibadah yang memadukan antara amalan ragawi, ruhani sekaligus memerlukan harta seperti ibadah haji.
Memahami makna ibadah haji, membutuhkan pemahaman secara khusus sejarah Nabi Ibrahim dan ajarannya, kerena praktek-praktek ritual ibadah ini dikaitkan dengan pengalaman-pengalaman yang dialami Nabi Ibrahim bersama keluarga beliau. Ibrahim dikenal sebagai “Bapak para Nabi”, juga “bapak Monotheisme, “serta “proklamator keadilan Ilahi. Kepada belaiulah merujuk agama-agama samawi terbesar selama ini.
Ibadah haji dikumandangkan Ibrahim sekitar 3600 tahun lalu. Sesudah masa beliau, praktek-prakteknya sedikit atau banyak telah mengalami perubahan, namun kemudia diluruskan kembali oleh Muhammad SAW. Salah satu hal yang diluruskan itu adalah praktek ritual yang bertentangan dengan penghayatan nilai universal kemanusiaan haji. Al-Quran Surat al-Baqarah 2:199, menegur sekelompok manusia (yang dikenal dengan nama al-Hummas) yang merasa diri memiliki keistimewaan sehingga enggan bersatu dengan orang banyak dalam melakukan wukuf. Mereka wukuf di Muzdalifah sedang orang banyak di Arafah. Pemisahan diri yang dilatarbelakangi perasaan superioritas dicegah oleh Al-Quran dan turunlah ayat tersebut di atas.
Ibadah haji dilakukan pada bulan Dzulhijjah yang sangat dimuliakan kaum muslimin. Mekah adalah kota yang aman dan damai. Kota padang pasir ini tidak dicirikan oleh ketakutan, kebencian, dan perang, tetapi oleh keamanan dan kedamaian. Di kota ini sangat terasa suasana ibadah di mana manusia bebes menghadap Allah Yang Maha Besar. Tidakkah kita mendengar seruan Ibrahim:
“Dan serulah manusia untuk melakukan haji. Mereka akan datang kepadamu dengan bertelanjang kaki atau dengan menunggang unta yang sudah lemah. Mereka datang sari segala penjuru yang jauh” (Surat al-Hajj 22:27).
Wahai makhluk-makhluk yang diciptakan dari tanah, kalian mencari dan mengikuti ruh Allah. Terimalah ajakannya, tinggalkan kampung halaman kalian untuk “menemui” Dia yang sedang menantikan kedatangan kalian.
Eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah mendekati ruh Allah (taqarrub ila ruhillah). Bebaskanlah diri kalian dari segala kebutuhan dan ketamakan yang membuat kalian lupa kepada Allah. Oleh karena itu lakukanlah perjalanan haji yang di sepanjang masa dilakukan oleh manusia. “kunjungilah” Allah Yang Maha Besar dan Agung.

Pengamalan Nilai-Nilai Kemanusian Universal Haji
Secara ibadah, ritual haji haruslah mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh Rosulullah ketika beliau melaksanakan ibadah haji. Rasulullah bersabda : “Khudzdzuu `anniy manaasikakum” ambillah (contohlah) dariku manasik haji kalian. Mulai dari Ihram, tempat miqat, thawaf, sa`i, wukuf, jamarat, tahalul, haruslah dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasulullah, dan tidak boleh membuat cara-cara ritual sendiri. Hal yang selanjutnya harus dilakukan oleh para hujjaj setelah melakukan manasik haji dengan baik dan benar adalah memahami apa nilai-nilai yang dapat diambil sebagai pelajaran dari setiap ritual ibadah haji yang kita lakukan.
Setiap Allah memerintahkan manusia untuk melakukan suatu aktivitas ibadah, pastilah di dalamnya ada manfaat dan pelajaran bagi manusia yang melakukannya. Begitu juga dengan ibadah haji. Ibadah yang merupakan bagain dari rukun Islam ini, mengajarkan berbagai nilai-nilai kemanusian universal yang sangat diperlukan dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Pertama, ibadah haji dimulai dengan niat sambil menanggalkan pakain biasa dan mengenakan pakaian ihram. Tak dapat disangkal bahwa pakaian menurut kenyataannya dan juga menurut Al-Quran berfungsi sebagai pembeda antara seseorang atau sekelompok dengan lainnya. Perbedaan tersebut dapat mengantar kepada perbedaan status sosial, ekonomi atau profesi. Pakain menciptakan “batas” palsu yang menyebabkan “perpecahan” di antara umat manusia. Dari “perpecahan” itu timbul konsep “aku”, bukan “kami atau kita”. “Aku” dipergunakan di dalam konteks-konteks seperti : rasku, kelasku, kelompokku, kedudukanku, hartaku, keluargaku, dan bukan “aku” sebagai manusia.
Di Miqat Makani, engkau harus menyadari apa yang harus engkau lakukan dan mengapa hal tersebut harus engkau lakukan. Dengan mengenakan pakain ihram engkau melakukan shalat ihram. Di dalam shalat ini engkau menghadap Allah sambil berkata : “Ya Allah, aku tidak lagi menyembah berhala-berhala dan apa pun yang selain-Mu”.
Di Miqat Makani, tempat di mana ritual ibadah haji dimulai, perbedaan dan pembedaan tersebut harus ditanggalkan. Semua harus memakai pakaian yang sama. Pengaruh-pengaruh psikologis dari pakaian harus ditanggalkan, sehingga semua merasa dalam satu kesatuan dan persamaan. “Di Miqat ini apa pun ras dan sukumu serta dari bangsa mana pun kalian berasal , lepaskan semua pakaian yang engkau kenakan sehari-hari sebagai srigala (yang melambangkan kekajaman dan penindasan), tikus (yang melambangkan kelicikan), anjing (yang melambangkan tipu daya), domba (yang melambangkan penghambaan kepada makhluk). Tinggalkan semua itu di Miqat dan berperanlah sebagai manusia yang sesungguhnya, yaitu sebagai hamba Allah.
Di Miqat dengan mengenakan dua helai pakaian berwarna putih-putih, sebagaimana yang akan membalut tubuhnya ketika ia mengakhiri perjalanan hidup di dunia ini, seseorang yang melaksanakan ibadah haji akan atau seharusnya dipengaruhi jiwanya oleh pakaian ini. Seharusnya ia merasakan kelemahan dan keterbatasannya, serta pertanggungjawaban yang akan ditunaiakannya kelak di hadapan Tuhan. Yang di sisi-Nya tiada perbedaan antara seseorang dengan yang lain, kecuali atas dasar pengabdian dan ketakwaan kepada-Nya.
Kedua, dengan dikenakannya pakaian ihram, maka sejumlah larangan harus diindahkan oleh pelaku ibadah haji. Di dalam keadaan ihram ada berbagai hal yang tidak boleh kita lakukan, misalnya setiap yang mengingatkan kita kepada usaha, posisi, kelas sosial, dan ras kita. Kita juga dilarang menyakiti binatang, membunuh, menumpahkan darah, dan mencabut pepohonan. Mengapa? Karena manusia berfungsi memelihara makhluk-makhluk Tuhan itu, dan memberinya kesempatan seluas mungkin mencapai tujuan penciptaannya. Dilarang juga menggunakan wangi-wangian, bercumbu atau nikah, dan berhias supaya setiap orang yang berhaji menyadari bahwa manusia bukan hanya materi semata-mata, bukan pula birahi. Hiasan yang dinilai Tuhan adalah hiasan ruhani. Dilarang pula menggunting rambut, kuku, supaya masing-masing menyadari jati dirinya dan menghadap kepada Tuhan sebagaimana adanya.
Ketiga, Ka`bah yang dikunjungi mengandung pelajaran yang amat berharga dari segi kemanusiaan. Di sebelah barat ka`bah ada sebuah tembok rendah yang berbentuk setengah lingkaran dan menghadap ke ka`bah. Bangunan ini disebut Hijr Ismail yang arti harfiahnya pangkuan Ismail. Di sanalah Ismail, putra Ibrahim, pembangun Ka`bah ini pernah berada dalam pangkuan ibunya yang bernama Hajar, seorang wanita hitam, miskin bahkan budak, tetapi wanita ini dimuliakan di sisi Tuhan. Hal ini mengandung pelajaran bahwa Allah memberi kedudukan untuk seseorang bukan karena keturunan atau status sosialnya, tapi karena kedekatannya kepada Allah dan usahanya untuk melakukan hajar (berhijrah dari kejahatan menuju kebaikan).
Keempat, setelah selesai melakukan thawaf yang menjadikan pelakunya larut dan berbaur bersama manusia lain, serta memberi kesan kebersamaan menuju satu tujuan yang sama yakni berada dalam lingkungan Allah , yaitu dilakukannya sa`i. Di sini muncul lagi Hajar, budak wanita bersahaja yang diperistri oleh Nabi Ibrahim itu, diperagakan pengalamannya mencair air untuk putranya. Keyakinan wanita ini akan kebesaran dan kemahakuasaan Allah sedemikian kokoh, terbukti jauh sebelum peristiwa pencarian ini, ketika ia bersedia ditinggal (Ibrahim) bersama anaknya di suatu lembah yang tandus. Keyakinannya yang begitu dalam tak menjadikannya samasekali berpangku tangan menunggu turunnya hujan dari langit, tapi ia berusaha berkali-kali mondar mandir demi mencari kehidupan. Hajar memulai usahanya dari bukit Shafa yang arti harfiahnya adalah “kesucian dan ketegaran”- sebagai lambang bahwa mencapai kehidupan harus dengan usaha yang dimulai dengan niat yang suci dan ketegaran- dan berakhir di Marwah yang berarti “ideal manusia, sikap menghargai, bermurah hati dan memaafkan orang lain”.
Adakah makna yang lebih agung berkaitan dengan pengamalan kemanusiaan dalam mencari kehidupan duniawi melebihi makna-makna yang digambarkan di atas? Kalau thawaf menggambarkan larut dan meleburnya manusia dalam hadirat Ilahi, atau dalam istilah kaum sufi al-fana` fi Allah, maka sa`i menggambarkan usaha manusia mencari hidup –yang dilakukan begitu selesai thawaf- yang melambangkan bahwa kehidupan dunia dan akhirat merupakan suatu kesatuan dan keterpaduan. (Al-Qashash 28 : 77)
Kelima, di Arafah, padang yang luas lagi gersang itu seluruh jamaah haji wukuf (berhenti) sampai terbenamnya matahari. Di sanalah mereka seharusnya menemukan ma`rifat, pengetahuan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarkannya di padang `arafah untuk menjadi `arif atau sadar dan lebih mengenal Tuhannya. Apabila kearifan telah menghiasi seseorang, maka Anda akan, menurut Ibnu Sina “selalu gembira, senyum dan bahagia karena telah mengenal-Nya”.
Keenam, dari Arafah para jamaah ke Muzdalifah mengumpulkan senjata menghadapi musuh utama yaitu setan. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Mina dan di sanalah para jamaah haji melampiaskan kebencian dan kemarahan mereka masing-masing terhadap musuh yang selama ini menjadi penyebab segala kegetiran yang dialaminya. Di Mina, jamaah haji melakukan jamarat selama dua hari atau tiga hari, sebagai simbol bahwa perlawanan kepada setan harus kita lakukan terus menerus.
Demikianlah ibadah haji merupakan kumpulan simbol-simbol yang sangat indah dan bermakna. Apabila dihayati dan diamalkan secara baik dan benar, maka pasti akan mengantarkan setiap pelakunya dalam lingkungan kemanusiaan yang benar sebagaimana dikehendaki oleh Allah. Itulah sejatinya makna haji mabrur, yaitu haji yang pelakunya dipenuhi dan dihiasi setelah ibadah hajinya dengan berbagai kebajikan dan kesalehan, baik individu maupun kesalehan sosial.

Adab-adab Batiniyah Ibadah Haji
Al-Ghazali menyebutkan ada beberapa adab batiniyah ibadah haji :
1. Hendaklah ia berhaji dengan harta yang halal. Ia harus meninggalkan perhatian pada urusan pekerjaan dan pekerjaannya. Ia harus mencurahkan perhatiannya semata-mata kepada Allah. Rasulullah bersabda :” Pada akhir zaman nanti, manusia yang keluar melakukan ibadah terdiri dari empat macam. Para pejabat haji untuk pesiar, pedagang untuk berniaga, orang miskin untuk mengemis, dan ulama untuk kebanggaan.
2. Hendaklah ia tidak memboroskan bekalnya untuk makan dan minum yang mewah atau membeli kelezatan-kelezatan di perjalanan. Ia harus banyak menggunakan hartanya untuk bersedekah, menolong orang lain, atau memberikan bekal kepada teman seperjalanan.
3. Hendaklah ia meninggalkan segala macam akhlak tercela, yaitu kekejian dan kefasikan serta perdebatan dan perbantahan. Yang termasuk kekejian adalah berkata kotor, kasar atau menusuk perasaan. Juga berdusta, memfitnah dan menipu.
4. Diutamakan banyak berjalan. Sekarang ini mungkin lebih baik meninggalkan Arafah dan menuju Mina dengan berjalan kaki daripada dengan kendaraan. Dengan berjalan kaki, ia akan sempat tidur di Muzdalifah, dan pagi-pagi berangkat menuju Mina. Sudah bisa dipastikan, mereka akan tiba di Mina lebih cepat daripada orang yang menyewa kendaraan.
5. Hendaklah ia berpakaian sederhana dan meninggalkan tanda-tanda kesombongan dan kemewahan. Bukankah pada waktu ihram, kita dianjurkan untuk tidak menyisir rambut sehingga rambut kita akan kelihatan kusut-masai. Haji dimaksudkan untuk membesarkan Allah dan mengecilkan diri kita.
6. Hendaklah ia bersabar menerima musibah yang menimpa badannya atau bila ia kehilangan hartanya.

Sementara itu Ja`far al-Shadiq memberikan nasihat kepada para jemaah haji dengan mengatakan : “Jika engkau berangkat haji, kosongkanlah hatimu dari segala urusan. Hadapkanlah dirimu sepenuhnya kepada Allah. Tinggalkan setiap penggalang, dan serahkan urusanmu kepada Penciptamu. Bertawakalah kepada-Nya dalam setiap gerak dan diammu. Berserah dirilah kepada ketentuan-ketentuan-Nya, hukum-hukum-Nya, dan takdir-Nya. Tinggalkan dunia, kesenangan, dan seluruh makhluk. Keluarlah dari kewajiban yang dibebankan kepadamu dari makhluk Tuhan. Janganlah bersandar kepada bekalmu, kendaraanmu, sahabatmu, kekuatanmu, kemudaanmu, dan kekayaanmu.
Buatlah persiapan seakan-akan engkau tidak akan kembali lagi. Bergaullah dengan baik. Jaga waktu-waktu dalam melaksanakan kewajiban yang ditetapkan Allah dan Sunnah Nabi Muhammad, berupa adab, kesabaran, syukur, kasih-sayang, kedermawanan, mendahulukan orang lain sepanjang waktu. Bersihkan dosa-dosamu dengan air taubat yang ikhlas.
Pakailah pakain kejujuran, kesucian, kerendahan hati dan kekhusukan. Beihramlah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menghalangi kamu mengingat Allah dan mencegahmu mentaati-Nya. Bertalbiahlah kamu dengan menjawab panggilan Allah dengan ikhlas, suci dan bersih dalam doa-doa kamu, seraya tetap berpegang pada tali yang kokoh.
Bertawaflah dengan hatimu bersama para malaikat sekitar Arsy, sebagaimana kamu bertawaf denga jasadmu bersama manusia di sekitar Baitullah. Keluarlah dari kelalaianmu dan ketergelinciranmu ketika engkau keluar ke Mina. Janganlah mengharapkan apa pun yang tidak halal dan tidak layak bagimu.
Akuilah segala kesalahan di tempat pengakuan (Arafah). Perbaruilah perjanjianmu di depan Allah dengan mengakui keesaan-Nya. Mendekatlah kepada Allah di Muzdalifah. Sembelihlah tengkuk hawa nafsu dan kerasukan ketika engkau menyembilah dam. Lemparkan syahwat, kerendahan, kekejian, dan segala perbuatan tercela ketika melempar jamarat.
Cukurlah aib-aib lahir dan batin ketika mencukur rambut. Tinggalkan kebiasaan menuruti kehendakmu dan masuklah kepada perlindungan ke Masjid Al-Haram. Tinggalkan apa saja selain Allah ketika engkau tawaf perpisahan. Sucikan ruh dan batinmu untuk menemui Dia pada hari pertemuan dengan Dia, ketika kamu berdiri di Shafa. Tempatkan dirimu pada pengawasan Allah dengan membersihkan perilakumu di Marwah.
Setelah menerapkan dan memahami niat, keikhlasan, dan pengabdian dalam ritual ibadah haji dengan benar, maka satu bekal yang paling penting dan harus ada sebelum, selama haji dan setelahnya adalah ”bekal takwa”. Takwa adalah kesadaran bersama Dia terus menerus di mana pun dan kapan pun serta dalam aktivitas apa pun. Allah berfirman : ”Dan berbekalah kalian semua, dan sebaik-baik bekal adalah takwa (kesadaran hidup bersama-Nya), dan jagalah kesadaran kalian bersama-Ku wahai orang-orang yang telah hidup lubnya (inti qalbunya)” (Al-Baqarah 2 : 197).
Dengan bekal ”pakaian” takwa maka hakikat ihram akan terus dikenakan walaupun ibadah haji telah selesai dilaksanakan. Maka diharapkan orang yang telah melakukan ibadah haji adalah orang yang telah melakukan perjalanan internal menuju ke al-Awwal yang hasilnya adalah menemukan dirinya berasal dari Allah dan karenanya statusnya adalah hamba Allah. Perjalanan ini dinamakan dengan tawakal. Dan setelah itu dia harus melakukan perjalanan eksternal menuju ke Al-Akhir (menghampiri Ilahi) yang hasilnya adalah transformasi sosial atau takwa. Para wali mengatakan peran ini dengan ungkapan : weweh pangan marang wong kan luwe. Weweh sandang marang wong kang wudo. Weweh payung marang wong kang kodanan lan kepanasan. Weweh teken marang wong kang wuto. Memberi makan kepada yang lapar. Memberi pakain kepada yang telanjang. Memberi payung kepada yang kehujanan dan kepanasan. Memberi tongkat kepada yang buta.
SEMOGA MENJADI HAJI MABRUR

02 November 2009

Indahnya Silaturahim

INDAHNYA SILATURAHIM

Setiap kali kita mengakhiri Ramadhan dan merayakan Idul Fitri, kita selalu mengadakan acara silaturahmi, yang lebih popular kita sebut halal bi halal. Kedua istilah itu, silaturahmi dan halal bi halal, bukanlah kata-kata Arab yang tepat. Silaturahmi sebetulnya harus diucapkan silaturahim. Halal bi halal juga tidak bisa dipahami orang Arab mana pun, kecuali yang pernah datang ke Indonesia. Kata ini tidak ada dalam kamus bahasa Arab. Dalam Kamus Indonesia-Arab, karangan Abdullah bin Nuh, halal bi halal diartikan al-haflah ba`da yaum `id al-fithri, perayaan sesudah Hari Raya Idul Fitri.
Halal bi halal adalah suatu metode sosial untuk mengubah relasi yang makruh (tidak menyenangkan) dan haram di antara manusia, menjadi suatu relasi dan pergaulan kolektif yang bersifat atau bernilai halal. Jadi halal bi halal bermakna halalnya hubungan-hubungan sosial, ekonomi, politik dan hukum di antara manusia. Oleh karenanya, dalam proses halal bi halal diperlukan proses pembersihan total, pembayaran harta kalau ada tanggungan, pemenuhan amanat-amanat yang selama ini diabaikan, kemudian dilanjutkan dengan permohonan maaf dan janji membayar atau memenuhi segala sesuatu yang menjadi syarat pemaafan.
Jadi apabila dikatakan antara si A dan si B sudah melakukan halal bi halal bermakna di antara keduanya sudah tidak ada keburukan, kejahatan, kemungkaran, ketidakbenaran, dan ketidakadilan yang belum di bereskan.
Kalau proses halal bi halal telah berjalan maka silaturahim menjadi buahnya. Artinya ketika antara sesama manusia sudah tidak ada lagi ketidakadilan, kedzaliman, dan ganjalan lainnya dalam hal apa pun, maka hubungan kasih sayang akan otomatis terjalin.

Perintah Silaturahim
Allah dalam banyak firman-Nya yang tersebar di banyak ayat dalam Al-Qur`an sangat menganjurkan dan memerintahkan kepada hamba-Nya untuk menyambung hubungan kasih sayang (silaturahim), baik terhadap sesama manusia maupun kepada seluruh makhluk Allah. Dalam Surat an-Nisa` ayat 1 misalnya Allah berfirman, “Wahai manusia, bertakwalah kamu kepada Tuhanmu yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan menciptakan darinya pasangannya, dan menggelarkan dari keduanya laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kamu kepada Allah yang karena-Nya kamu saling meminta tolong dan peliharalah silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu memperhatikan kamu semua”. (an-Nisa` 4 : 1).
Dalam ayat lain Allah berfirman, “ (Ulul Albab adalah orang-orang) yang memenuhi perjanjian dengan Tuhan dan tidak memutuskan ikatan. Dan orang-orang yang menyambungkan (persaudaraan) yang Allah perintahkan untuk disambungkan dan takut kepada Tuhan mereka serta mencemaskan pertanggungjawaban yang paling buruk dan orang-orang yang bersabar karena mengharapkan ridha Tuhan mereka, mendirikan salat, membelanjakan apa yang Kami berikan kepada mereka secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, dan menolak keburukan dengan kebaikan; bagi mereka itulah kampung kembali yang terakhir; yakni surga `And. Mereka masuk ke dalamnya dan orang-orang saleh di antara orang-orang tua, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Dan malaikat masuk menyambut mereka dari setiap pintu. Salam bagi kalian karena kesabaran kalian. Alangkah baiknya kampung tempat kembali. Dan orang-orang yang memutuskan perjanjian dengan Allah sesudah memperkuat ikatannya serta memutuskan silaturahim yang Allah perintahkan untuk disambungkan dan melakukan kerusakan di bumi,bagi mereka laknat dan bagi mereka kampung yang paling buruk”. (ar-Ra`d 13 : 19-25)
Dalam surah Muhammad 47 ayat 22-23 Allah juga berfirman, “Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa, kamu akan berbuat kerusahan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan kamu. Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan telinga mereka dan dibutakan penglihatan mereka”.
Rasulullah pun memerintakan umatnya untuk menjalin silaturahim dan melarang bahkan mengecam siapa pun yang memutuskannya dalam banyak hadisnya. Di antara hadis-hadis tersebut adalah :
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hormati dan muliakanlah tamumu, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka sambunglah tali silaturahim, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, berkatalah yang baik atau kalau tidak bisa lebih baik diam”. (HR. Bukhari)
”Barang siapa yang ingin dimudahkan (Allah) rezekinya atau dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (hubungan kasih sayang).” (HR. Bukhari)
“Sambunglah silaturahim kepada orang memutuskankan kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang mendzalimi kamu.” (HR. Ahmad).
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silaturahim”. (HR. Bukhari dan Muslim)
“Barang siapa yang memutuskan kekeluargaan, Aku akan putuskan hubungan-Ku dengan dia, dan barang siapa yang menyambungkan tali kekeluargaan, Aku akan mengukuhkan tali kekeluargaannya”. (HR. Muslim)
“Ar-Rahim yang bergantung di Arsy berkata, “Barang siapa menyambungkan silaturahim, Allah akan menyambungkan (berkumunikasi) dengannya, dan barang siapa yang memutuskan silaturahim, Allah juga akan memutus hubungan dengannya”. (HR mutaffa` alaihi).

Filosofi Silaturahim
Kenapa Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan dan memerintahkan silaturahim dan melarang bahkan mengecam siapa pun yang memutuskannya? Paling tidak ada landasan filosofis dan sebab hakiki yang bisa menjawab pertayaan di atas, di antaranya adalah :
1. Karena Ar-rahim merupakan nama Allah, Rasul bersabda bahwa Allah berfirman, “Aku adalah ar-Rahman, Aku ciptakan ar-Rahim, dan Aku tetapkan ia termasuk nama-Ku, maka barang siapa menyambungkannya Aku juga menjalin kumunikasi dengannya, dan barang siapa memutuskannya Aku pun akan memutuskan komunikasinya dengannya”. (HR. al-Tirmidzi).
2. Karena kaum beriman hakikatnya satu. Islam mengajarkan bahwa kita wajib menyayangi sesama mukmin dan muslim, dan melarang untuk saling menyakiti dan bertikai. Al-Qur`an memerintahkan bahwa umat Islam harus berpegang teguh kepada tali Allah yang satu dan dilarang untuk bercerai berai, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali Imran 3 :103). Rasulullah pun telah menegaskan bahwa kaum mukmin bagaikan satu bangunan yang mestinya saling mengokohkan dan mengasihi. Rasulullah saw. bersabda, “ Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seumpama bangunan yang saling mengokohkan satu dengan yang lain. (kemudian Rasul merapatkan jari-jari tangan beliau”. (Mutafa` alaih). Di hadis yang lain beliau bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta dan kasih sayang seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing), maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam”. (HR. Muslim).
3. Karena manusia tidak bisa hidup sendiri. Allah telah menetapkan semua ciptaannya berpasangan (azwajan) dan sebagai makhluk sosial manusia harus berhubungan dengan sesamanya (hablum minan naas) dan dilarang untuk bersikap individualis dan egois. Sebab pada hakikatnya manusia dan semua makhluk Allah lainnya tidak bisa menggapai kesuksesan dan kebahagiaanya sendirian. Rasulullah mengingatkan kita akan pentingnya “orang lain” dalam menggapai kebahagiaan dan kesuksesan kita dengan sabdanya, “Tiadalah kamu mendapat pertolongan dan rezeki kecuali karena orang-orang yang lemah di sekitarmu”. Bukankah kita bisa mempunyai rumah mewah, selain mempunyai uang, juga membutuhkan arsitek, kontraktor juga para tukang dan kuli untuk mewujudkannya. Begitu juga rumah kita beres segala sesuatunya karena andil dan bantuan para pembantu kita. Kita pun bisa menikmati mobil mewah kita kalau ada sopir yang membantu kita. Intinya, mustahil kita bisa berhasil dan berbahagia tanpa bantuan orang lain, baik langsung maupun tidak.

Hakikat Silaturahim
Tidak sedikit di antara kita yang beranggapan bahwa silaturahim hanya sekadar saling berkunjung, saling berjabat tangan, seraya meminta maaf. Padahal kalau diselisik, ada yang lebih dari itu semua yaitu aspek mental atau keluasan hati.
Berdasar asal katanya, silaturahim berasal dari kata shilat dan ar-rahiim. Shilat berarti menyambung, dan ar-rahiim berarti kasih sayang. Dengan demikian silaturahim bermakna menyambung kasih sayang. Makna menyambungkan menuju pada proses aktif dari sesuatu yang asalnya terputus menjadi tersambung, dari sesuatu yang asalnya bercerai berai menjadi utuh kembali. Sesuai yang disabdakan Rasulullah SAW., “Yang disebut silaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan silaturahim itu orang yang diputuskan silaturahimnya tetapi dia menyambungkan” (HR. Bukhari). Di hadis yang lain Rasulullah bersabda : “Sambunglang silaturahim kepada orang yang memutuskannya kepadamu, berbagilah kepada orang yang pelit kepadamu, dan berpalinglah dari orang yang berbuat dhalim kepadamu”.( H.R. Imam Ahmad).
Jika batasnya pada kunjungan yang disertai dengan barang bawaan maka pemberian akan menjadi patokan seseorang untuk silaturahim, karena tak jarang orang yang enggan berkunjung dengan alasan tidak ada bawaan untuk yang dikunjungi. Pun dengan saling berjabat tangan, seperti yang biasa kita lakukan di hari Fitri, jika hanya sebatas aktivitas bersentuhan atau berjabat tangan, bagaimana dengan orang yang diberi keterbatasan dengan tidak memiliki tangan.
Oleh karena itu perlu kita sadari bahwa silaturahim tidak hanya sebatas rekayasa gerak-gerik tubuh tapi pelibatan hati. Dengan kombinasi bahasa tubuh dan bahasa hati ini yang akan menjadi kekuatan untuk berbuat lebih baik dan lebih bermutu. Dari sini terlihat jelas betapa pentingnya menyambungkan tali silaturahim. Betapa tidak! dengan silaturahim akan terjalin rasa kasih sayang dengan sesama manusia bahkan dengan makhuk Allah lainnya. Bila ini terjadi maka rahmat Allah dan kasih sayang Allah pun akan turun dan menaungi hidup kita. Tapi sebaliknya rahmat dan kasih sayang Allah akan menjauh bila tali silaturahim terputus. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya rahmat Allah tidak akan turun yang di dalamnya ada orang yang memutuskan tali persaudaraan”.
Dengan tersambungnya silaturahim, maka ukhuwah Islamiyah akan terjalin dengan baik. Pintu rahmat dan pertolongan Allah pun terbuka lebar. Semoga Allah memberi kelayakan bagi kita untuk mendapatkan rahmat-Nya atas silaturahim yang kita jaga.

Manfaat Silaturahim
Ada banyak manfaat yang bisa kita peroleh apabila kita selalu menyambung tali silatiurahim, di antaranya adalah :
1. Diluaskan rezekinya dan dipanjankan umurnya (baik secara majazi maupun sebenarnya). Anas bin Malik meriwayatkan bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda : ”Siapa yang ingin dimudahkan (Allah) rezekinya dan dipanjangkan (Allah) umurnya, maka hendaklah dia memperhubungkan silaturahim (hubungan kasih sayang).” (Hadis riwayat Bukhari). Dengan silaturahim maka hubungan yang terjalin bisa menjadi sarana dan media untuk saling tukar informasi tentang banyak hal termasuk tentang bisnis. Dalam bahasa sekarang networking akan sangat dibutuhkan bagi pelaku bisnis, bahkan merupakan salah satu faktor terpenting. Nah, dengan silaturahim, networking akan terbentuk dengan kuat. Dan dengan networking yang kuat, jalan mengalirnya rezeki Allah terbentang luas. Sedangkan makna dipanjangkan umur, saya lebih memahaminya secara kiasan. Artinya, orang yang rajin silaturahim, maka umurnya akan terus bertambah walaupun secara fisik dia sudah mati. Selama orang masih mengingat dan mengenang namanya, maka hakikatnya dia masih hidup. Bukankah Rasulullah dan para sahabat masih hidup terus bersama kita walupun sudah lima belas abad mereka wafat. Bukankah para wali songo terus hidup di hati kaum muslimin Indonesia walaupun sudah meninggal ratusan tahun yang lalu. Para pahlawan kemerdekaan juga terus hidup di mata rakyat Indonesia walaupun sudah puluhan tahun mereka gugur di medan laga. Leluhur, kakek, ataupun ayah ibu kita yang telah wafat juga tetap hidup hakikatnya di dalam sanubari kita. Semuanya karena mereka pernah menjalin silaturahim dengan kita, baik dalam bentuk silaturahim fisik, ilmu, sosial maupun ruhani.
2. Mendapatkan kasih sayang Allah. Allah menjanjikan dan mensyaratkan bagi siapa pun yang ingin mendapatkan kasih sayang dan Allah akan selalu berkomunikasi dengannya agar menjalin dan menyebarkan kasih sayang terhadap sesama manusia maupun makhluk Allah yang lain. Rasul bersabda, “Orang-orang yang selalu menyambung tali silaturahim yang Maha Rahman akan menyayangi mereka, karenanya sayangilah penduduk bumi maka penduduk langit akan menyayangimu. Dan ar-Rahim adalah dahan dari ar-Rahman, maka barang siapa yang menyambungkannya maka Aku juga akan terus berkumunikasi dengannya, dan barang siapa memutuskannya Aku pun akan memutuskan hubungan dengannya”. (HR Ahmad)
3. Akan mendapatkan surga `Adn di akhirat kelak. Pada bagian akhir Surah Al-Ra`d 13 ayat 23 Allah menceritakan hamba-hamba-Nya yang beruntung pada hari kiamat nanti karena mereka diberi anugerah untuk masuk surga beserta orang tua, istri, keluarga, dan keturunannya. Al-Qur`an melukiskan dengan indah ketika mereka datang dengan rombongan keluarganya menuju surga. Para malaikat memberikan sambutan khusus pada mereka dengan mengucapkan, ‘Salamun `alaikum bima shabartum fani`ma `uqbad dar. Selamatlah bagi kalian semua karena kalian bersabar dahulu. Inilah tempat kembali yang paling indah bagi kalian.” Mereka masuk surga bersama-sama seluruh keluarganya, seperti melakukan “reuni” pada hari akhirat. Reuni yang mereka adakan melintasi ruang dan waktu. Reuni yang sering kita adakan di dunia adalah reuni yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Kita hanya dapat berkumpul dan bersilaturahim dengan orang-orang yang berada dalam satu tempat yang tidak berjahuan dan dalam satu zaman dengan kita. Kita tidak pernah bisa mengadakan silaturahim dengan orang tua kita yang sudah meninggal atau keturunan kita yang belum lahir. Tetapi nanti pada hari akhirat, ada orang yang bisa melakukan reuni kembali dengan seluruh keluarganya, baik dengan yang sebelum maupun dengan yang sesudah mereka. Al-Qur`an menyebutnya, “abaaihim wa azwajihim wa dzurriyyatihim. Generasi terdahuu, generasi yang sezaman, dan generasi kemudian (QS ar-Ra`d 13 : 23). Siapa gerangan orang yang beruntung bisa mengadakan silaturahim pada hari akhirat beserta seluruh keluarganya? Dalam surah ar-Ra`d disebutkan bahwa salah satu tanda orang yang beruntung nanti di hari akhirat adalah orang yang di dunianya senang menyambung silaturahim, “Dan orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan.” (Ar-Ra`d 13 : 21). Karena di dunia mereka senang menyambungkan tali kekeluargaan dan silaturahim, maka Allah sambungkan tali kekeluargaan mereka nanti pada hari akhirat.

Bentuk dan Jenis Silaturahim
1. Silaturahim fisik. Silaturahim fisik adalah menyambung kasih sayang dalam bentuk atau dengan media ketemu secara fisik. Silaturahim jenis ini merupakan jenis silaturahim yang popular dan sudah banyak dilakukan oleh kaum muslimin. Walaupun popular tetapi jenis silaturahim fisik ini tidak mencerminkan silaturahim yang sejati kalau hati tidak dilibatkan. Sebab, boleh jadi orang sudah ketemu secara fisik, tetapi kalau di dalam hati masih ada ganjalan, dendam, iri dan dengki serta tidak ada niatan untuk memberikan kasih sayang yang tulus, maka hakikat silaturahim belumlah terwujud. Ingat, bentuk luar yang fisikal seringkali menipu, karena tidak selalu mencerminkan kondisi yang ada di dalamnya.
2. Silaturahim ilmu. Yang dimaksud silaturahim ilmu adalah sebuah bentuk menyambung dan menyebarkan kasih sayang lewat media ilmu, baik itu lewat menulis buku, mengajar, maupun bentuk berbagi ilmu lainnya. Silaturahim ini bisa menjadi alternatif bagi yang mempunyai keterbatasan waktu untuk bersilaturahim secara fisik. Sebab, silaturahim ilmu tidak mesti dengan ketemu fisik. selain itu jangkauannya juga semakin luas, baik bagi yang sudak kita kenal maupun yang belum, bahkan bisa melampaui batas-batas geografis. Silaturahim ilmu terjadi apabila ada interaksi antara produk ilmu dengan pembacanya. Lewat buku misalnya, penulis buku telah melakukan silaturahim dengan siapa pun yang membaca buku tersebut, tanpa dibatasi oleh faktor agama, golongan, ras, jenis kulit bahkan bisa lintas negara. Dan silaturahim ini keberlangsungannya bisa sangat lama, selama masih ada interaksi antara buku dengan pembacanya. Buku Ihya` Ulum al-Din karya Imam Al-Ghazali telah lebih seribu tahun bersilaturahim dengan pembacanya di mana pun mereka berada, dan akan terus berlanjut silaturahim ini selama masih ada orang yang membaca karya tersebut. Hadis-hadis Nabi pun telah menjadi media silaturahim Rasulullah kepada umatnya selama lima belas abad dan akan terus sampai akhir zaman selama masih ada umatnya yang membacanya.
3. Silaturahim sosial. Segala bentuk kegiatan dan aktivitas sosial yang bertujuan untuk kemanfaatan umat bisa dikategorikan silaturahim sosial ini. Silaturahim sosial ini juga sangat luas cakupannya, baik secara fisik, geografis, negara maupun keyakinan atau agama. Dan kita bisa melakukannya tanpa harus terlebih dahulu kenal secara fisik kepada mereka. Bukankah menyumbang korban tsunami di Aceh, gempa bumi di Yogyakarta, Tasikamalaya dan Sumatera Barat serta siapa pun yang tertimpa musibah di manapun mereka berada, kita lakukan tanpa pertimbangan kita kenal sama mereka atau tidak, apakah mereka seagama atau satu negara dengan kita atau tidak? Intinya, siapa pun yang berkorban dan berbagi untuk sesamanya, dalam bentuk apa pun maka ia telah melakukan silaturahim sosial.
4. Silaturahim ruhani, dengan saling berkirim doa antar sesama mukminin dan muslimin. Ini bisa dilakukan kapan saja dan bisa lintas negara bahkan lintas dunia. Artinya kita masih tetap bisa silaturahim kepada orang tua kita atau siapa pun yang telah meninggal atau bahkan bisa silaturahim dengan siapa pun yang tidak pernah bertemu secara fisik dengan kita. Bukankan dengan bersalawat kepada Rasulullah, bertawasul dengan mengirim hadiah al-Fatihah kepara sahabat nabi, para wali atau para ulama, sesungguhnya kita sedang melakukan silaturahim secara ruhani dengan mereka.

Obyek Silaturahim
Berbicara tentang obyek atau kepada siapa kita mesti menjalin silaturahim, maka Islam mengajarkan bahwa kita harus melakukannya dengan siapa pun, baik meliputi Sang Pencipta maupun ciptaan atau makhluk-Nya. Adapun rinciannya adalah sebagai berikut :
1. Kepada Allah. Al-Quran dan Hadis Nabi mengajarkan kepada kita bahwa kita wajib menjaga komunikasi kita kepada Allah setiap saat, kapan pun dan di manapun kita berada. Rasulullah bersabda, “Jagalah komunikasimu dengan Allah kapan pun dan di mana pun kalian berada”. Kita tidak boleh sedetik atau sekejap pun memutuskan silaturahim kita kepada-Nya. Sebab tanpa kasih sayang dan bimbingan-Nya pasti manusia akan tersesat. Karenanya Rasul mengajarkan sebuah doa, “ Rabbiy laa takilniy ilaa nafsiy tharfata `ain, Ya Tuhanku janganlah Engkau putuskan silaturahim kepadaku walaupun sekejap mata”. Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, niscaya Dia memperbaiki hubungannya dengan orang lain. Barang siapa memperhatikan urusan akhiratnya, Allah akan memperhatikan urusan dunianya. Barang siapa menjadi penasihat bagi dirinya sendiri, Allah akan menjadi penjaganya”.
2. Kepada diri sendiri. Kita sering tanpa sadar berbuat tidak adil terhadap diri kita sendiri. Kita lebih sering bersilaturahim dengan diri kita yang berbentuk fisik dan jarang sekali melakukannya kepada yang bersifat ‘ruhani’. Begitu banyak dana kita investasikan untuk bersilaturahim dengan badan fisik kita, dalam bentuk makanan dan minuman, pakaian, alat make up, obat-obatan, maupun kebutuhan fisik lainnya. Namun berapa banyak kita investasikan uang kita untuk silaturahim dengan akal kita dengan membeli buku maupun proses mencari ilmu lainnya, berapa banyak dana atau perhatian kita keluarkan dan berikan untuk ruhani kita. Kadang kita acuh tak acuh dengan penyakit ruhani atau hati kita yang mungkin sudah sangat akut dan parah. Kalau kita masih dengki, riya`, sombong, tamak, malas beribadah, maka itu artinya ruhani kita sakit. Tapi kita tidak sesigap dan setakut dibandingkan dengan penyakit jantung, kanker, lever, ginjal yang menyerang fisik kita. Intinya, kita masih belum sepenuhnya bersilaturahim dengan diri kita. Karena itulah Rasul bersabda, “ Ibda` binafsik, mulailah dengan dirimu sendiri. Artinya, bersilaturahimlah dahulu dengan dirimu sendiri secara benar sebelum engkau bersilaturahim dengan orang lain.
3. Kepada kedua orang tua kita. Karena mereka berdualah kita lahir ke dunia ini. Karena mereka berdualah kita bisa menjadi seperti ini. Maka merupakan keniscayaan untuk berbakti dan memberikan kasih sayang kepada mereka berdua (Al-Ankabut 29 : 8; al-Ahqaf 46 : 15). Ridha Allah pun baru kita peroleh setelah kita mendapatkan ridha kedua orang tua. Terutama sekali kita wajib menjalin silaturahim dengan baik dengan ibu kita, yang oleh Rasulullah sampai diulang tiga kali sebagai orang yang mendapatkan pelayanan dari kita sebelum bapak kita ( Mutaffa` ‘alaih). Rasulullah pernah ditanya kedua orang tua, beliau menjawab : “Mereka berdua adalah surgamu atau nerakamu”. (H.R. Ibnu Majah).
4. Kepada orang yang sekasur dengan kita (baca : suami atau istri). Kalau silaturahim dengan diri sendiri telah dilakukan dengan baik, maka selanjutnya adalah silaturahim dengan orang yang sekasur dengan kita. Kalau suami kepada istrinya, dan kalau istri kepada suaminya. Mereka berdua harus berbagi kasih sayang, saling menghormati dan menghargai serta masing-masing menjadi pakaian (bisa menutupi aib) bagi pasangannya. (Al-Baqarah 2 : 187)
5. Kepada yang sedapur dengan kita. Saudara sedapur ini mencakup siapa pun yang ada di rumah kita, bisa anak, pembantu, sopir, satpam, dan lain-lain. Berilah makan kepada anak, pembantu, sopir, satpam, dengan makanan yang sama dengan yang kita makan. Begitu juga dengan pakain dan lainnya. Itulah yang dicontohkan oleh Rasul. Rasul bersabda, “Yang paling dekat denganku duduknya nanti di akhirat adalah yang paling baik akhlaknya dan paling baik kepada keluarganya, Dalam hadis yang lain Rasul bersabda, “Berikankan upah pembantumu sebelum kering keringatnya”.
6. Kepad sedulur, keluarga kandung dan keluarga dekat. Allah menyuruh kita setelah itu dengan silaturahim dengan Al-Qurba, keluarga yang dekat. Keluarga yang dihubungkan dengan kita melalui pertalian rahim. Dalam bahasa Arab, rahim berarti womb (bahasa Inggris yang berarti organ wanita yang menyimpan kita sebelum kita lahir). Karena itu, keluarga disebut Al-Rahim dan bentuk jamaknya Al-Arham. Sebuah keluarga dipertalikan lewat hubungan darah dan melalui rahim yang sama. Rasul bersabda, “Sesungguhnya sedekah kepada kaum muslimin dianggap sedekah, dan sedekah kepada saudara serahim dihitung sedekah dan menyambung tali silaturahim.”
7. Kepada tetangga. Tetangga adalah orang pertama yang kita mintai pertolongan. Karena boleh jadi keluarga serahim kita bertempat tinggal jauh dari rumah kita. Maka bersilaturahim dengan tetangga adalah sangat penting. Rasulullah bersabda, “Jibril selalu berwasiat kepadaku tentang (berbuat baik) dengan tetangga sampai aku mengira bahwasanya mereka akan menjadi ahli warisku”. (HR. Bukhari). Di hadis yang lain riwayat at-Tirmidzi Rasul bersabda, “Sebaik-baik keluarga yang paling baik dengan anggota keluarganya, dan sebaik-baik tetangga yang paling baik dengan tetangganya”. Begitu pentingnya tetangga, karenanya rasul bersabda ada 8 macam hak tetangga yang mesti kita penuhi, “bila sakit jenguklah, bila wafat antarkan jenazahnya sampai ke kubur, bila kekurangan bantulah, bila mempunyai aib rahasiakan atau tutuplah, bila memperoleh kebahagiaan ucapakanlah selamat atau ikutlah berbahagia, bila mendapatkan kesedihan atau musibah hiburlah, janganlah kamu meninggikan bangunan melebihi bangunan tetangga yang dapat menutup sirkulasi udara bagi mereka, dan jangan mengganggunya dengan bau masakanmu kecuali engkau memberinya.” (HR. Thabraniy)
8. Kepada yang sejalur dengan kita, artinya satu akidah atau sesama muslim. Rasul bersabda, “ Seorang muslim adalah saudara bagi sesama muslim, maka janganlah engkau mendzalimi, mengecewakan, dan merusak nama baiknya (saudaramu sesama muslim). (HR. Muslim). Artinya sesama muslim harus saling menyayangi, bersatu, berbagi, dan memperhatikan persoalan di antara mereka. Rasul bersabda, “Barang siapa tidak peduli dengan problem saudara muslimnya, maka dia tidaklah bagian dari mereka”.
9. Kepada yang seunsur dengan kita. Artinya kita wajib menjalin silaturahim kepada sesama manusia tanpa membedakan agama, ras, suku, warna kulit, kaya miskin dan sebagainya.
10. Kepada sesama makhluk Allah, harus harmoni dengan alam semesta. Kita tidak boleh merusak ekosistem alam dengan menebang hutan, berburu binatang yang dilindungi, penambangan liar dan sebagainya, karena dengan merusaknya berarti kita telah memutuskan silaturahim dengan mereka.

Dengan terjalinanya silaturahim dengan sepuluh obyek di atas, kedamaian di muka bumi insyaAllah akan terwujud. Mudah-mudahan permusuhan dan pertikaan antar mazhab, antar agama, antar negara, antar sesama, antar kelompok dan ras semakin berkurang. Semoga kerusakan hutan dan ekosistem serta kepunahan binatang langka semakin kecil. Dan akhirnya bumi akan damai, tenang dan tentram karena energi positif dari penghuninya yang selalu bersilaturahim. Amien
Wallaahu a’lam bish shawab

02 Agustus 2009

Mutiara Hikmah

”Tertundanya pemberian atau pengkabulan setelah engkau mengulang-ulang permintaan, janganlah membuatmu berpatah harapan. Allah menjamin pengabulan do`a sesuai dengan apa yang Dia pilih buatmu, bukan menurut apa yang engkau pilih, dan pada saat yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau ingini”

Manusia

KONSEP AL-QUR`AN TENTANG MANUSIA

Dalam Al-Qur`an ada tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia. Tiga istilah kunci tersebut adalah: Basyar, Insan dan An-Nas. Di samping itu ada istilah unas yang mengacu pada kosa kata anasiy, insiy dan ins, sebagaimana diungkap dalam Al-Qur`an Surat Al-Baqarah 2:60; Al-A`raf:82; Al-Ma`arij 70:160; Al-Isra` 17:71; dan An-Naml 27:56). Istilah unas menunjukan pada kelompok atau golongan manusia. Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 60, misalnya, menggunakan istilah unas untuk menunjukan ada dua belas golongan pada Bani Israel. Selanjutnya anasiy disebut dalam Al-Qur`an sebanyak satu kali, yaitu pada Surat Al-Furqan 25 ayat 49. Anasiy adalah bentuk jamak dari insan, dengan mengganti nun dengan ya atau boleh jadi juga bentuk jama` dari insiy. Sementara ins dalam Al-Qur`an disebut sebanyak 18 kali ( Al-An`am 6:112,128,130; Al-A`raf 7:38,179; Al-Isra` 17:1,17,27; Fushilat 41:25,29; Al-Ahqaf 46:18,51,56; Ar-Rahman 55:23,29,56,74; dan Al-Jin 72:5,6) dan kerapkali dihubungkan dengan kata jin sebagai hubungan kata-kata manusia yang mukallaf (obyek dari perintah dan larangan Allah).
Kata-kata Basyar dalam Al-Qur`an disebut sebanyak 36 kali. Kata-kata basyar dalam seluruh ayat tersebut menunjuk kepada manusia sebagai makhluk biologis. Hal ini dapat dilihat dari ucapan Maryam yang berbunyi: “Tuhanku, bagaimanan aku mungkin dapat mempunyai anak, padahal tak pernah ada manusia (basyar) yang menyentuhku” (Ali Imran 3:47).
Kata-kata basyar kemudian dihubungkan dengan kata-kata mitslukum (seperti kalian) sebanyak 7 kali, dan dengan kata-kata mitsluna (seperti kita) sebanyak 6 kali. Nabi Muhammad sendiri misalnya berulang kali menyebut dirinya secara biologis sebagai basyar. Surat An-Nisa` 4:6 dan Al-Kahfi 18:110, misalnya, menyatakan: ”Katakanlah, aku ini manusia biasa (basyaran) seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu”. Secara singkat dapat disebutkan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat biologis manusia yang memerlukan makan, minum, hubungan seksual dan lain sebagainya.
Selanjutnya mengenai kata-kata insan, disebutkan dalam Al-Qur`an sebanyak 65 kali. Kata-kata insan ini dapat dikelompokkan dalam tiga katagori: Pertama, insan dihubungkan dengan keistimewaanya sebagai khalifah atau penanggung atau pengemban amanah Allah di muka bumi. Kedua, insan dihubungkan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia, dan Ketiga, insan dihubungkan dengan proses penciptaanya. Semua konteks insan ini menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga, fisik dan spiritual.
Pada kategori pertama, manusia dilihat dari keistimewaanya sebagai wujud yang berbeda dengan hewan. Surat Al-`Alaq 96 ayat 4 dan 5 misalnya menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. “Dialah yang mengajari manusia dengan pena dan mengajarkan apa yang belum diketahuinya”. Manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan ilmu dengan daya nalarnya. Karena itu, kata-kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Ayat 86 Surat Al-A`raf (7) menyuruh manusia merenung, memikirkan, menganalisa dan mengamati perbuatannya (me-nazhar), dan mengamati tentang proses terbentuknya makanan sejak siraman air hujan sampai menjadi buah-buahan (`Abasa 80:24-36), dan mengamati kejadian mereka sendiri (At-Thariq 86:4-5).
Sebagai pemikul amanah (Al-Ahzab 33:72), maka insan dalam Al-Qur`an juga dihubungkan dengan konsep tanggungjawab ( Al-Qiyamah 75:36; Ya siin 36:75; Qaf 50:16). Ia diwasiatkan agar berbuat baik (Al-Ankabu 29:8; Lugman 31:14; Al-Ahqaf 46:15), amalnya akan dicatat dengan cermat untuk kemudian diberi balasan yang sesuai dengan apa yang dikerjakannya itu (An-Najm 53:39).
Dalam berbakti kepada Tuhan, insan dipengaruhi oleh lingkungannya. Bila diuji dengan musibah, ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. Sebaliknya bila ia mendapat keuntungan, ia cenderung sombong, takabur atau bahkan musyrik ( Yunus 10:12; Hud 11:9, Al-Isra` 17:67,83; Az-Zumar 39:8,49; Fushilat 41:51,95; Asy-Syuura 42:48; dan Al-Fajr 89:15).
Pada kategori berikutnya, kata-kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif, diantaranya sifat zhalim dan kufur (Ibrahim 14:34; Hajj 22:66; Az-Zukhruf 43:15), tergesa-gesa (Al-Isra` 17:11; Al-Anbiya` 21:37), bakhil atau kikir (Al-Isra` 17:110), bodoh (Al-Ahzab 33:72), banyak membantah (Al-Kahfi 18:54, An-Nahl 16:4, Ya siin 36:77), resah, gelisah, dan segan membantu (Al-Ma`arij 70:19-21), ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (Al-Insyiqaq 84:6, Al-Balad 90:4), tidak berterima kasih (Al-`Adiyat 100:6), berbuat dosa (At-Taubah 9:6, Al-Qiyamah 75:5), meragukan kiamat dan hari akhirat (Maryam 19:66), dan sebagainya.
Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama, insan menjadi makhluk paradoksal, yaitu makhluk yang selalu berada dalam posisi berjuang mengatasi konflik antara dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kekuatan untuk memegang fitrah (cenderung kepada kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah) dan memikul amanah ( Ar-Rum 30:30, Al-A`raf 7:172) dengan kekuatan untuk mengikuti predisposisi negatifnya (As-syams 91:8-10). Manusia adalah tempat bertarungnya kekuatan Ilahi (ketuhanan) dengan kekuatan nasuti (sifat dasar manusia yang cenderung menjauh dari kebenaran dan Tuhan). Antara taqwa dan fujur atau antara kebaikan dengan kejahatan dan kedurhakaan (Asy-Syams 91:8-10).
Adapun kategori ketiga dikaitkan dengan proses kejadian manusia. Kejadian manusia ditampilkan dalam Al-Qur`an sebagai wujud yang amat erat berkaitan dengan tanah. Al-Qur`an Surat Nuh 71 ayat 17-18 misalnya menyebutkan : ”Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai suatu tumbuhan dari tanah, dan kemudian Dia akan mengembalikanmu kepada-tanah dan Dia akan mengeluarkan kamu (dibangkitkan) dengan sesungguhnya”.
Kata-kata tanah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur`an terkadang memakai kata ardun, turabin, salsalin (tanah lempung) hamaim-masnun, sulalat (sari pati). Semuanya menunjukkan unsur materi. Di samping unsur materi, terdapat pula unsur non materi yaitu ruhani sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur`an Surat Al-Hijr 15:28-29: “ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah kering dari tanah hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud (menghormat)”. Jadi manusia adalah makhluk fisik atau jasmani dan juga makhluk ruhani atau spiritual.
Konsep kunci kata-kata yang ketiga adalah An-Nas, yang mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial. Istilah inilah yang paling banyak disebut dalam Al-Qur`an yaitu sebanyak 240 kali. Banyak ayat yang menunjukkan kelompok sosial dengan karateristiknya. Ayat-ayat itu lazimnya memakai ungkapan “wa minannasi” (dan diantara sebagian manusia) misalnya ayat 8 Surat Al-Baqarah (2) : ”Dan diantara sebagian manusia yang menyatakan dirinya beriman, tetapi sebetulnya mereka tidak beriman”.

Potensi Manusia
Al-Qur`an menyatakan bahwa manusia dimuliakan dibanding dengan kebanyakan makhluk-makhluk yang lain (Al-Isra` 17:70) . Manusia berbeda dengan makhluk-makhluk Allah yang lain karena manusia mempunyai potensi-potensi yang sangat sempurna, dibandingkan dengan makhluk yang lain, yang hanya diberikan sebagian potensi. Potensi-potensi manusia tersebut antara lain:

1. Jasmani atau Raga
Allah menginformasikan dalam firman-Nya bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik penciptaan (At-Tin 95:4). Allah mengelurkan manusia dari perut ibunya tidak mengetahui sesuatu, lalu Allah melengkapinya dengan pendengarkan, penglihatan dan hati, supaya dapat bersyukur (An-Nahl 16:78; Al-Insan 76:2-3).
2. `Aql
Kata `aql (akal) tidak ditemukan dalam Al-Qur`an, yang ada adalah bentuk kata kerja. Al-Qur`an menjelaskan bahwa konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata `aql dapat dipahami sebagai : Pertama, daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman Allah dalam Surat Al-Ankabut 29 ayat 43 : ”Demikianlah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya (ya`qiluha) kecuali orang-orang alim (berpengetahuan)”. Kedua, dorongan moral, seperti firman Allah : ”Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi. Dan jangan kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya (ta`qiluun) (Al-An`am 6:151)”. Ketiga, daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah. Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir.
Al-Qur`an dan hadis Nabi menempatkan akal sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam diri manusia. Oleh sebab itu, akal biasa pula dipertentangkan dengan nafsu. Akal senantiasa membawa kepada pertimbangan yang berakhir positif, sementara nafsu adalah keinginan tanpa pertimbangan, yang membawa kepada kehancuran.
3. Nafs
Kata Nafs dalam Al-Qur`an mempunyai aneka makna, sekali diartikan sebagai totalitas manusia (Al-Maidah 5:32), dilain kali ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku seperti maksud firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka (anfusihim)” (Al-Ra`d 13:11). Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Dalam pandangan Al-Qur`an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Allah berfirman “Demi nafs serta penyempunaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan nafsnya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (Asy-Syams 91:7-10)”. Al-Qur`an juga mengisyaratkan keaneragaman nafs serta peringkat-peringkatnya. Secara eksplisit disebutkan tentang nafs ammarah bissu` (nafsu yang masih liar, nafsu ini selalu mengajak kepada kejahatan (Yusuf 12 :53). Orang yang nafsnya masih ammarah biasanya mereka menjadikan hawa nafs sebagai tuhannya (Al-Jasiyah 45:23); nafs lawwamah (nafs ini sudah mulai menyadari kesalahan-kesalahannya, karena mulai menyadari akan adanya hari perhitungan di akhir zaman (Al-Qiyamah 75:1-5), mereka mulai bisa menahan keinginan nafsnya disebabkan rasa takut akan kebesaran Tuhannya (An-Naziat 79:40-41) dan nafs muthmainah (nafs ini benar-benar sudah tenang karena telah dirahmati Tuhannya, dikarenakan keistiqamahan (konsisten dan kontinyu) manusia dalam beribadah, khusu` hatinya dan selalu bersegera dalam kebaikan (Fushilat 41:30; Al-Mukminun 23:57), dan nafs muthmainnah inilah yang dipanggil Tuhannya di akhirat kelak untuk kembali kepada-Nya dengan ridha dan diridai (Al-Fajr 89:27-30).
4. Qalb
Kata qalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan hati. Penamaan demikian, karena ada kaitannya dengan sifat hati itu sendiri yang menjadi lokus (tempat) kebaikan dan kajahatan, kebenaran dan kesalahan, di mana ia sering berubah-ubah, bolak-balik, maju-mundur dalam menerima kebaikan dan kejahatan, sekali senang sekali susah, sekali setuju sekali menolak. Jadi Qalb amat berpotensi untuk tidak konsisten. Al-Qur`an pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula sebaliknya. Dari Surat Qaf 50:37; Al-Hadid 57:27; Ali Imran 3:151; dan Al-Hujurat 49:7, terlihat bahwa kalbu adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan. Al-Qur`an juga menginformasikan bahwa ada qalb yang disegel : “Allah telah mengunci mati hati mereka” (Al-Baqarah 2:7), sehingga wajar jika Al-Qur`an menyatakan bahwa ada kunci-kunci penutup kalbu (Muhammad 47:24). Wadah qalb dapat diperbesar, diperkecil atau dipersempit. Al-Qur`an mengatakan, “Mereka itulah yang diperluas hatinya untuk menampung takwa” (Al-Hujurat 49:3). Dan “Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan, Dia menjadikan dada (qalb)nya sempit lagi sesak (Al-An`am 6:125)”. Hati dapat diperlebar dengan cara selalu mensucikannya, mengingat Tuhan (zikir), ikhlas dalam beribadah, memuliakan syiar Allah dan hanya berlindung kepada Allah (Asy-Syams 91:10; Ar-Ra`d 13:28; Hajj 22:31 dan Al-Isra` 17:65).
Al-Ghazali ketika mencoba menjelaskan pengertian qalb, terlebi dahulu membuat dua kategori qalb. Pertama, qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagai organ tubuh yang terletak pada bagian kiri rongga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; dimana darah itu pula yang membawa kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori pertama ini adalah hati biologis yang menjadi objek kajin para ahli kesehatan.
Kedua, qalb dalam pengertian lathifah rabbaniyyah ruhaniyyah, `sesuatu yang halus, yang memiliki sifat ketuhanan dan keruhanian. Dengannya kita merasa sedih, duka, kesal, gembira, kagum, hormat, benci, marah, cinta, dan sebagainya. Jika fisik kita memiliki indra lahir, maka ruhani memiliki indra batin. Dengan indra batin inilah kita melihat yang tak dapat dilihat oleh penglihatan lahir, mendengar yang tak dapat terdengar oleh pendengaran lahir, dan seterusnya. Jika indra lahir menghadap kepada dunia material, indra batin menghadap kepada dunia metafisik atau spiritual. Orang yang senantiasa mensucikan batinnya, niscaya hatinya akan bersih dan indra batinnya akan lebih tajam. Kebeningan hati menyebabkan hilangnya kabut-kabut penghalang (hijab) antara hamba dan Tuhannya, yang disebut kasyf, sehingga sang hamba dapat menyaksikan Tuhan dengan mata batinya (musyahadah) dan merasa tenggelam dalam hadirat ketuhanan.
Hati dalam kategori kedua inilah yang menjadi fokus pandangan Tuhan, sebagaimana disebutkan Al-Qur`an, ”Tidak ada dosanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengaja.” (Al-Ahzab 33: 5). Dalam hadis Nabi saw. Disebutkan, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk dan tubuhmu, tetapi Dia memperhatikan hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim). Tuhan hanya memperhatikan hati, karena hati itulah yang menjadi hakikat manusia. Karakter seseorang berbeda dengan yang lain karena hatinya berbeda. Perbedaan itu pula yang menyebabkan perbedaan manusia dalam laku-perbuatannya, dan selanjutnya akan membedakan peringkat manusia di hadapan Tuhannya.
5. Ruh
Berbicara tentang ruh, kata ini seakar dengan kata rih, yang berarti angin. Disebut ruh yang ada dalam jasad manusia dengan sebutan demikian karena halusnya laksana angin, tetapi dapat dirasakan. A-Qur`an mengungkapkan kata ruh dalam lima pengertian, yakni : Malaikat (Ruh al-Qudus), wahyu, rahmat Allah, kenabian, hidup atau kehidupan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa sekelompok orang Yahudi saling berdebat tentang ruh, lalu mereka bertanya kepada Nabi Muhammad saw.. Tidak lama berselang turunlah ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu adalah urusan Tuhan-ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit (Al-Isra` 17:85)”.
Meski ayat di atas mengisyaratkan keterbatasan pemahaman manusia tentang ruh, bukan berarti ruh itu tidak boleh dikaji, hanya saja, kata Sachico Murata, ruh itu tidak dapat didefinisikan, namun pengetahuan diskursif tentang sifat-sifat dalam kenyataannya diberikan oleh pengalaman manusia dan teks-teks wahyu. Ruh tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki ukuran, tidak dapat diindra, tidak dapat dibagi-bagi. Ringkasnya, ia bersifat transenden. Jadi manusia tidak akan tahu hakehat ruh, manusia hanya diberi ilmu yang sedikit, yang dengannya bisa mengetahui gejala-gejalanya.
Di kalangan sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ketika berbicara tentang ruh, Al-Ghazali dalam Ihya` `Ulum al-Din, membicarakannya dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Untuk itu, Al-Ghazali membagi ruh menjadi dua kategori. Pertama, ruh yang berhubungan dengan jasad. Ruh ini erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh ini. Ruh dalam kategori ini pula yang menjadi sumber pengindraan, dia adalah laksana cahaya yang melimpah dari sebuah pelita ke segenap penjuru rumah. Ruh dalam kategori ini, menurut Al-Ghazali, bukan tujuan kita. Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf ialah ruh sebagai al-lathifah al-`alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang memungkinkan mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia).
Ruh dalam kategori pertama adalah pemberi hayat atau kehidupan bagi tubuh. Sedangkan ruh dalam kategori kedua adalah pemberi makna dalam kehidupan manusia. Inilah yang terungkap dalam puisi Sa`di :
Jasad manusia mulia karena ruhnya
Tubuh yang indah bukanlah tanda kemanusiaan
Jika manusia itu (disebut) manusia
Karena mata, telinga, atau lidahnya
Maka apa bedanya
Antara manusia dan gambar manusia di dinding

Meski tak terpisah dari tubuh, ruh diciptakan bukan seasal dan tidak sama dengan tubuh. Inilah yang tersirat dalam firman Allah, ” “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Adam dari tulang punggung mereka, dan Allah menganbil kesaksian atas diri mereka : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: betul, kami menjadi saksi (bersyahadah).(Al-A`raf 7: 172). Dengan demikian, sejak awal penciptaanya ruh telah memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Akan tetapi, pengetahuan ini tertutup ketika ruh menyatu dengan jasad, tertutup oleh tabiat-tabiat jasadi yang menariknya ke asal usul jasad. Jasad diciptakan dari materi tanah. Karena itu, memiliki sifat-sifat ketanahan yang senantiasa akan jatuh ke bawah, kasar, kotor, dan sifat-sifat rendah lainnya. Berbeda dengan ruh, karena ia berasal langsung dari Ruh Mutlak, maka ia senantiasa rindu untuk kembali kepada asalnya, Tuhan.
Jadi, ruh bersifat ilahiah dan senantiasa rindu kepada kesucian. Puncak kesucian itu sendiri ialah Tuhan Yang Maha Suci. Dengan demikian, puncak kerinduan ruh adalah bertemu dengan Zat Yang Maha Suci. Dengan demikian, ruh merupakan motor penggerak dalam pendekatan diri kepada Tuhan. Bahkan, menurut kaum sufi, ruh adalah penggerak ke arah kebaikan pada umumnya. Kecintaan ruh kepada Tuhan telah melahirkan suatu hasrat dan daya yang terarah kepada satu titik, yakni Tuhan sebagai Kebaikan Mutlak.

31 Juli 2009

DOA SEBELUM BELAJAR

DOA IBTIDAAUL MAJLISIL `ILMI
DOA PEMBUKAAN MAJLIS ILMU

• Membaca Shalawat
• Membaca dua kalimat Syahadah
• Membaca Istigfar 3x

رَبَّنَا لاَ تَكِلْنَا اِلىَ نَفْسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ

Rabbanaa laa takilnaa ilaa nafsinaa tharfata `ain
Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami sendirian tanpa bimbingan dan petunjuk-Mu walaupun hanya sekejab mata.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا اِسْتِعْدَادًا كَاِملاً لِقَبُوْلِ فَيْضِكَ اْلاَ قْدَاسِ

Rabbanaa hablanaa isti`daadan kaamilan liqabuuli faidhikal aqdas
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesiapan (ruhani) yang sempurna untuk menerima pancaran suci-Mu.

رَبَّنَا ِزدْنَا عِلْمًا وَرْزُقْنَا فَهْمًا وَاهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Rabbanaa zidnaa `ilma warzuqnaa fahma wahdinash shiraathal mustaqim

Ya Tuhan kami, tambahkanlah kepada kami pengetahuan, anugerahkanlah kepada kami kemudahan untuk memahami ilmu-Mu, dan bimbinglah kami ke jalan-Mu yang lurus.


DOA KAFARATUL MAJLISIL `ILMI
DOA PENUTUP MAJLIS ILMU

سُبْحَانَكَ اَلَّلهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ ِالَيْكَ

Subhaanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik

Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku kembali kepada-Mu.

30 Juli 2009

Mutiara Hikmah

Cukuplah kematian sebagai nasehat dan keyakinan (iman) sebagai kekayaan.

Muraqabah : Hidup Bersama Tuhan

MURAQABAH :
HIDUP BERSAMA TUHAN

“Dia beserta kamu, di mana pun kamu berada. Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan ( Al-Hadid 57 ayat 4).”
Salah seorang syaikh (guru) mempunyai beberapa orang santri, tetapi ia lebih menyukai salah seorang santrinya dan memberinya perhatian lebih dari santri-santri yang lainnya. Ketika ditanya oleh santri-santrinya tentang hal ini, sang syaikh menjawab: Aku akan menunjukan kepada kalian mengapa aku lebih menyukai dia. Lalu sang syaikh memberikan kepada setiap santrinya seekor burung dan memerintahkan agar menyembelih burung tersebut di suatu tempat di mana tidak seorang pun akan melihatnya. Mereka semua lalu berangkat , kemudian masing-masing kembali dengan burung sembelihannya, kecuali sang santri kesayangan syaikh. Ketika syaikh bertanya, Mengapa engkau tidak menyembelihnya? Si santri menjawab, Tuan guru memerintahkan saya untuk menyembelih burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun, dan saya tidak menemukan tempat seperti itu. Mendengar jawaban santrinya itu, sang syaikh lalu berkata kepada santri-santrinya yang lain, inilah sebabnya mengapa aku lebih memberikan perhatian kepadanya dan menyayanginya.
Suatu ketika, saat Umar bin Khaththab r.a. sedang dalam perjalanan, ia melihat seorang anak menggembala domba. Umar meminta kepadanya agar menjual seekor dombanya. Penggembala itu menjawab, domba-domba ini bukan milikku, aku hanya seorang budak. Umar membujuknya agar menjualnya seekor saja dengan berkata, dombanya kan banyak sekali, jika ketahuan kurang satu, bilang saja di makan serigala! Anak penggembala itu terdiam. Ia menatap Umar serius sembari berkata : ”Lalu di mana Allah sekarang”.
Satu malam, Umar bin Khattab RA, sebagaimana lajimnya, keluar secara menyamar untuk mengecek denyut kehidupan rakyatnya. Menjeleng tengah malam, dari kejauhan beliau melihat kerdipan lampu, pertanda penghuni gubuk itu belum tidur. Ketika didekati, samar-samar khalifah kedua ini mendengar suara seorang ibu yang meminta putrinya untuk mencampuri susu sapi dengan air sebelum dijual. Maksudnya agar volumenya bertambah sehingga lebih menguntungkan. Namun si anak berkata : "Bukankah Amirul mukmini melarang kita untuk berbuat demikian ?". "Memangnya kamu tahu di mana Amirul Mukminin sekarang ?. Dia kan tidak melihat kita", guman sang Ibu. "Ibu, meskipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi pasti Tuhannya Amirul Mukminin melihat !".
Jawaban sanri, anak penggembala dan anak penjual susu tersebut adalah esensi muraqabah. Keduanya menyadari sepenuhnya bahwa Allah senantiasa menyaksikan, mengawasi dan mengetahui perbuatan hamba-Nya.

Makna Muraqabah
Kata muraqabah berasal dari kata raqaba yang berarti menjaga, menyertai dan mengawasi. Dalam Al-Qur`an, Allah menegaskan, “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (Al-Ahzab 33 ayat 52). Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan hadis Jibril atau arkan al- din ( sendi-sendi agama : Iman, Islam, dan Ihsan ), khusus mengenai Ihsan disebutkan ” Beritahu aku wahai Muhammad apa itu Ihsan? Nabi menjawab, ”Ihsan itu an ta`budallah ka-annaka tarahu fain lam yakun yarahu fainnahu yaraka (hendaknya Engkau menyembah Allah seolah-olah Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu).”
Secara terminologis, muraqabah berarti melestarikan pengamatan kepada Allah dengan hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya. Atau dengan kata lain, muraqabah adalah meresapkan kesadaran bahwa Allah melihat, mengawasi, memonitor diri kita dalam gerak dan diam kita, baik lahir maupun batin.
Adapun di kalangan para sufi, kita menemukan beberapa definisi atau makna muraqabah, diantaranya:
• Al-Junaid berkata, “Barang siapa mewujudkan muraqabah, hanyalah takut akan hilangnya bagian dari Allah, tidak yang lain”.
• Dzun Nuu al-Mishry mengatakan,” Tanda muraqabah adalah memilih apa yang dipilih oleh Allah, menganggap besar apa yang dipandang besar oleh-Nya, dan menganggap remeh apa yang dipandang-Nya remeh”.
• Ibrahim an-Nashr Abadzy menegaskan, ” Harapan (raja`) mendorongmu untuk taat, takut (khauf) menghindarkanmu dari maksiat, dan muraqabah diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki”.
• Al-Jurary menjelaskan, ” Jalan kita dibangun atas dua jalan, yaitu hendaknya engkau memaksa jiwamu untuk muraqabah terhadap Allah dan hendaknya ilmu tampak dalam perilaku lahiriyahmu”.
• Abdullah al-Murta`isy berkomentar, ” Muraqabah adalah menjaga diri atas batin sendiri dikarenakan kesadaran akan Yang Gaib dalam setiap pandangan dan ucapan”.
• Abu Ustman menuturkan, ” Abu Hafs mengatakan kepadaku : “Manakala engkau duduk mengajar orang banyak, jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu, sebab mereka hanya memperhatikan wujud lahiriyahmu, sedangkan Allah memperhatikan wujud batinmu”.
• Muhammad al-Wasithy berkata, ”Amal ibadah terbaik adalah menjaga waktu”. Artinya, si hamba tidak melihat ke luar batas dirinya, tidak memikirkan sesuatu pun selain Tuhannya, dan tidak menyertakan diri dengan sesuatu pun selain waktunya."
• Abu Sa'id al Kharraz mengabarkan, "Salah seorang syeikh mengatakan kepadaku, 'Engkau harus mengawasi batinmu dan bermawas diri terhadap Allah. Suatu ketika aku sedang bepergian melalui padang pasir, dan tiba tiba aku mendengar suara keras yang menakutkan di belakangku. Aku ingin menoleh, tapi hal itu tak kulakukan. Lalu, aku melihat sesuatu jatuh ke atas pundakku, dan aku menoleh, sedang aku menjaga batinku, lantas aku menoleh dan kulihat seekor binatang buas yang besar'."

Manfaat Muraqabah
" Barang siapa bisa muraqabah kepada Allah, niscaya ia akan ikhlas kepada-Nya, baik secara rahasia maupun terang-terangan dan lahir maupun batin di setiap waktu dalam kehidupannya", tulis Syaikh Khalid Sayyid Rusyah dalam bukunya Nikmatnya Beribadah. Terkait dengan hal ini, Allah SWT. berfirman : " Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya" (Al Baqarah 235). "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud", (Asy-Syu'ara 218). "Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan", (Al Qashash 69).
Karena itu barangsiapa yang selalu mengingat Allah dalam hatinya, maka Allah akan melindunginya dalam setiap gerakan tubuhnya. Dan barangsiapa selalu mengingat Allah di dalam batinnya, maka Allah akan menunjukkan perilaku yang baik dalam hatinya. Seorang mukmin yang saleh yang selalu ingat Tuhannya dalam setiap gerakannya dan mengetahui bahwa Tuhannya mengawasinya baik lahir maupun batinnya. Dengan begitu perilakunya menjadi berubah lebih santun dan ia mempunyai sifat malu. Sesungguhnya, sifat malu tidak akan dimiliki kecuali orang yang selalu mengingat Tuhannya dan dia tahu bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Ia juga memilih amal-amal yang lebih utama karena ia sadar bahwa Tuhannya mengetahui dan mengawasinya. Selain itu ia juga akan senantiasa tetap istiqamah. Setiap kali setan datang untuk menjerumuskannya dari jalan yang lurus, ia akan teringat dengan pengawasan Tuhannya sehingga ia pun kembali istiqamah.
Selain itu, muraqabah dipraktekkan agar kita dapat menyaksikan dan mengalami kesadaran diri dan keterjagaan diri sebagai proses awal kebangunan gnostik (makrifat) atau pencerahan spiritual. Selain itu, dengan muraqabah, orang akan sadar setiap waktu tentang keadaan di dalam batin yang tak terlukiskan, yang tak ada batasnya , dan senantiasa merasakan kehadiran Tuhan bersamanya.
Orang yang Muraqabah adalah orang yang sadar bahwa setiap ucapan dan perilakunya selalu berada di bawah tatapan-Nya. Badannya bergetar ketika menyebut asma Allah, hatinya menangis ketika mendengar suara azan, air matanya menetes ketika membaca atau mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Quran, dia merasa kecil ketika menyebut kalimat 'Allahu Akbar', dia selalu merasa takut kepada Allah kalau-kalau ikrarnya dalam doa iftitah setiap salat, tidak diterima oleh Allah.

Proses Muraqabah
Untuk mencapai derajat muraqabah, seseorang yang berjalan menuju Tuhan haruslah menaiki tujuh anak tangga sebagai berikut :
1. Muhasabah (instropeksi). Kita melakukan perhitungan baik dan buruk terhadap perbuatan yang sudah kita lakukan. Bila kita lebih banyak melakukan kebaikan kita bersyukur dan berusaha meningkatkannya, atau paling tidak mempertahankannya, dan kalau ternyata amal kejahatan dan kelalaian kita lebih banyak kita wajib taubat dan memperbaikinya.
Umar bin Khattab mengatakan : ”Adakanlah perhitungan terhadap dirimu sendiri sebelum kamu nanti diadakan perhitungan di hadapan Tuhan”. Ibn `Araby berkata : ”Buatlah perhitungan sebelum perhitungan di buat untukmu, timbanglah dosa-dosamu sebelum ia timbang untukmu”. Allah berfirman : “ Bacalah bukumu. Cukuplah engkau sendiri pada hari ini menghitung amalmu” (Al-Isra` 17: 14).
Bagi Ibn `Araby ada tiga bahaya yang mencegah dari muhasabah, instropeksi atas tindakan-tindakanmu dan bersyukur atas kedermawanan Tuhan. Ketiga bahaya dan kendala itu adalah : Ketaksadaran, kelalaian, ghaflah; luapan selera dan hasrat hawa nafsumu, jiwa rendahmu; dan kebiasaan buruk, atau semua kebiasaanmu yang membuatmu seperti sebuah mesin.
2. Mu`aqabah (sanksi terhadap pelanggaran). Bila kita melakukan kesalahan, kita harus mengecam diri kita, mempersoalkannya, dan kemudian menghukumnya. Kita menjadi hakim sekaligus terdakwa bagi diri kita sendiri. Proses mu`aqabah ini perlu dilakukan untuk melemahkan posisi hawa nafsu yang memang potensi dasarnya menyuruh kita untuk berbuat kesalahan. Tanpa mu`aqabah biasanya kita begitu mudah dan gampang untuk mengulangi kesalahan yang telah kita lakukan.
3. Muhasanah (memperbaiki dan mempercantik diri). Hal ini bisa dilakukan dengan cara membiasakan dan menghiasi diri dengan perbuatan baik ( a`mal al-hasanat) agar proses muhasabah dan mu`aqabah-nya menjadi benar. Dalam tahap ini kita dituntut untuk memperbanyak amalan-amalan saleh sehingga suatu saat menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
4. Mujahadah (optimalisasi). Kita berjuang keras dengan segala yang kita miliki untuk terus menjaga dan meningkatkan kebaikan serta kedekatan kita kepada Allah. Kita harus memaksimalkan setiap potensi kita untuk menjaga kesadaran kita akan Dia, dan kalau bisa meningkatkannya.
5. Istiqamah (disiplin). Kita menjaga kesinambungan atau kontinuitas kebaikan kita agar selalu stabil, atau bahkan kalau bisa lebih baik. Rasulullah lebih menyukai amal yang istiqamah walaupun sedikit daripada yang amal yang banyak tetapi tidak istiqamah. Membaca Al-Qur`an 5 atau bahkan 1 ayat perhari tetapi rutin akan lebih berdampak positif daripada kita membacanya mungkin satu surat tapi tidak rutin, seminggu sekali atau mungkin sebulan sekali.
6. Muraqabah (merasakan pengawasan Allah terus-terus setiap waktu).
7. Mukasyafah atau Musyahadah (terbukanya tabir antara diri dengan Allah)

Macam-macam Muraqabah
Penggapaian kesadaran akan kehadiran Allah SWT itu tidak instan. Perlu keimanan yang dipertajam oleh pengetahuan akan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, ditambah dengan perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur`an. Sebab, bagaimana mungkin menggapai muraqabah, jika tidak mengetahui bahwa Allah SWT adalah raqib (Yang Maha Mengawasi setiap saat).
Latihan muraqabah dapat dilakukan melalui dzikir, tafakur, dan do`a dalam suasana uzlah (menyendiri). Uzlah adalah salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengasingkan diri, baik secara fisik dengan cara menyendiri di suatu tempat maupun secara batini dengan cara menjaga hati dari hiruk pikuk serta pengaruh negatif dunia, dengan memperbanyak ibadah, berzikir, dan bertafakur.
Ada empat macam cara yang bisa kita gunakan untuk muraqabah, Yaitu:
1. Muraqabah yang diambil dari sari Al-Qur`an, yang diijtihadkan untuk merasakan kehadiran Allah, yaitu dengan memperbanyak membaca kalimah : Allahu hadiriy (Allah hadir bersamaku); Allahu nadzari (Allah selalu melihatku); Allahu syahidi (Allah selalu menyaksikanku); dan Allahu ma`i(Allah sealu bersamaku)
2. Muraqabah melalui asma` al-Husna (nama-nama Allah yang baik). Diantara nama-nama itu yang paling agung adalah ism al-Dzat, yaitu Allah. Kita mengucapakannya melalui lisan, menghayatinya dalam hati lewat dzikir sirr atau pelan. Atau dengan menyebut nama-nama Allah yang lain misalkan, Ar-Raqib (Maha penjaga); Al-`alim (Maha mengetahui), AS-Sami` (Maha mendengar), Al-Bashir (Maha Melihat).
3. Muraqabah melalui perenungan ayat-ayat Allah , diantaranya:
• “Di sisi-Nya segala kunci yang gaib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui segala yang ada dalam lautan dan di daratan. Tiada gugur sehelai daun pun melainkan Allah mengetahuinya, dan sebiji pun jatuh dalam gelap gulita bumi serta tiada pula benda yang basah maupun yang kering melainkan semuanya itu dalam kitab yang terang.” (Al-An`am 6 : 59)
• “Sesungguhnya telah kami jadikan manusia dan Kami ketahui apa-apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Al-Qaf 50 ayat 16)
• “Dia yang Awal dan Dia yang Akhir, Dia yang Lahir dan yang Batin, dan Dia mengetahui tiap-tiap sesuatu .”( Al-Hadid 57 ayat 3). Dan ayat-ayat yang lain.
4. Muraqabah melalui mengingat mati. Banyak ayat Al-Qur`an yang menyentak kesadaran kita tentang kematian yang pasti kita mengalaminya, seperti:
• Katakanlah, “Sesungguhnya mati yang kamu lari darinya, sesungguhnya ia akan menemui kamu. Kemudian kamu dikembalaikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dikabarkan kepadamu apa-apa yang kamu kerjakan (Al-Jumu`ah 62 ayat 8)
• Di mana pun kamu berada, niscaya maut akan menjemputmu, meskipun kamu tinggal dalam benteng yang tertinggi (An-Nisa` 4 ayat 78).