MURAQABAH :
HIDUP BERSAMA TUHAN
“Dia beserta kamu, di mana pun kamu berada. Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan ( Al-Hadid 57 ayat 4).”
Salah seorang syaikh (guru) mempunyai beberapa orang santri, tetapi ia lebih menyukai salah seorang santrinya dan memberinya perhatian lebih dari santri-santri yang lainnya. Ketika ditanya oleh santri-santrinya tentang hal ini, sang syaikh menjawab: Aku akan menunjukan kepada kalian mengapa aku lebih menyukai dia. Lalu sang syaikh memberikan kepada setiap santrinya seekor burung dan memerintahkan agar menyembelih burung tersebut di suatu tempat di mana tidak seorang pun akan melihatnya. Mereka semua lalu berangkat , kemudian masing-masing kembali dengan burung sembelihannya, kecuali sang santri kesayangan syaikh. Ketika syaikh bertanya, Mengapa engkau tidak menyembelihnya? Si santri menjawab, Tuan guru memerintahkan saya untuk menyembelih burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun, dan saya tidak menemukan tempat seperti itu. Mendengar jawaban santrinya itu, sang syaikh lalu berkata kepada santri-santrinya yang lain, inilah sebabnya mengapa aku lebih memberikan perhatian kepadanya dan menyayanginya.
Suatu ketika, saat Umar bin Khaththab r.a. sedang dalam perjalanan, ia melihat seorang anak menggembala domba. Umar meminta kepadanya agar menjual seekor dombanya. Penggembala itu menjawab, domba-domba ini bukan milikku, aku hanya seorang budak. Umar membujuknya agar menjualnya seekor saja dengan berkata, dombanya kan banyak sekali, jika ketahuan kurang satu, bilang saja di makan serigala! Anak penggembala itu terdiam. Ia menatap Umar serius sembari berkata : ”Lalu di mana Allah sekarang”.
Satu malam, Umar bin Khattab RA, sebagaimana lajimnya, keluar secara menyamar untuk mengecek denyut kehidupan rakyatnya. Menjeleng tengah malam, dari kejauhan beliau melihat kerdipan lampu, pertanda penghuni gubuk itu belum tidur. Ketika didekati, samar-samar khalifah kedua ini mendengar suara seorang ibu yang meminta putrinya untuk mencampuri susu sapi dengan air sebelum dijual. Maksudnya agar volumenya bertambah sehingga lebih menguntungkan. Namun si anak berkata : "Bukankah Amirul mukmini melarang kita untuk berbuat demikian ?". "Memangnya kamu tahu di mana Amirul Mukminin sekarang ?. Dia kan tidak melihat kita", guman sang Ibu. "Ibu, meskipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi pasti Tuhannya Amirul Mukminin melihat !".
Jawaban sanri, anak penggembala dan anak penjual susu tersebut adalah esensi muraqabah. Keduanya menyadari sepenuhnya bahwa Allah senantiasa menyaksikan, mengawasi dan mengetahui perbuatan hamba-Nya.
Makna Muraqabah
Kata muraqabah berasal dari kata raqaba yang berarti menjaga, menyertai dan mengawasi. Dalam Al-Qur`an, Allah menegaskan, “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (Al-Ahzab 33 ayat 52). Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan hadis Jibril atau arkan al- din ( sendi-sendi agama : Iman, Islam, dan Ihsan ), khusus mengenai Ihsan disebutkan ” Beritahu aku wahai Muhammad apa itu Ihsan? Nabi menjawab, ”Ihsan itu an ta`budallah ka-annaka tarahu fain lam yakun yarahu fainnahu yaraka (hendaknya Engkau menyembah Allah seolah-olah Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu).”
Secara terminologis, muraqabah berarti melestarikan pengamatan kepada Allah dengan hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya. Atau dengan kata lain, muraqabah adalah meresapkan kesadaran bahwa Allah melihat, mengawasi, memonitor diri kita dalam gerak dan diam kita, baik lahir maupun batin.
Adapun di kalangan para sufi, kita menemukan beberapa definisi atau makna muraqabah, diantaranya:
• Al-Junaid berkata, “Barang siapa mewujudkan muraqabah, hanyalah takut akan hilangnya bagian dari Allah, tidak yang lain”.
• Dzun Nuu al-Mishry mengatakan,” Tanda muraqabah adalah memilih apa yang dipilih oleh Allah, menganggap besar apa yang dipandang besar oleh-Nya, dan menganggap remeh apa yang dipandang-Nya remeh”.
• Ibrahim an-Nashr Abadzy menegaskan, ” Harapan (raja`) mendorongmu untuk taat, takut (khauf) menghindarkanmu dari maksiat, dan muraqabah diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki”.
• Al-Jurary menjelaskan, ” Jalan kita dibangun atas dua jalan, yaitu hendaknya engkau memaksa jiwamu untuk muraqabah terhadap Allah dan hendaknya ilmu tampak dalam perilaku lahiriyahmu”.
• Abdullah al-Murta`isy berkomentar, ” Muraqabah adalah menjaga diri atas batin sendiri dikarenakan kesadaran akan Yang Gaib dalam setiap pandangan dan ucapan”.
• Abu Ustman menuturkan, ” Abu Hafs mengatakan kepadaku : “Manakala engkau duduk mengajar orang banyak, jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu, sebab mereka hanya memperhatikan wujud lahiriyahmu, sedangkan Allah memperhatikan wujud batinmu”.
• Muhammad al-Wasithy berkata, ”Amal ibadah terbaik adalah menjaga waktu”. Artinya, si hamba tidak melihat ke luar batas dirinya, tidak memikirkan sesuatu pun selain Tuhannya, dan tidak menyertakan diri dengan sesuatu pun selain waktunya."
• Abu Sa'id al Kharraz mengabarkan, "Salah seorang syeikh mengatakan kepadaku, 'Engkau harus mengawasi batinmu dan bermawas diri terhadap Allah. Suatu ketika aku sedang bepergian melalui padang pasir, dan tiba tiba aku mendengar suara keras yang menakutkan di belakangku. Aku ingin menoleh, tapi hal itu tak kulakukan. Lalu, aku melihat sesuatu jatuh ke atas pundakku, dan aku menoleh, sedang aku menjaga batinku, lantas aku menoleh dan kulihat seekor binatang buas yang besar'."
Manfaat Muraqabah
" Barang siapa bisa muraqabah kepada Allah, niscaya ia akan ikhlas kepada-Nya, baik secara rahasia maupun terang-terangan dan lahir maupun batin di setiap waktu dalam kehidupannya", tulis Syaikh Khalid Sayyid Rusyah dalam bukunya Nikmatnya Beribadah. Terkait dengan hal ini, Allah SWT. berfirman : " Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya" (Al Baqarah 235). "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud", (Asy-Syu'ara 218). "Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan", (Al Qashash 69).
Karena itu barangsiapa yang selalu mengingat Allah dalam hatinya, maka Allah akan melindunginya dalam setiap gerakan tubuhnya. Dan barangsiapa selalu mengingat Allah di dalam batinnya, maka Allah akan menunjukkan perilaku yang baik dalam hatinya. Seorang mukmin yang saleh yang selalu ingat Tuhannya dalam setiap gerakannya dan mengetahui bahwa Tuhannya mengawasinya baik lahir maupun batinnya. Dengan begitu perilakunya menjadi berubah lebih santun dan ia mempunyai sifat malu. Sesungguhnya, sifat malu tidak akan dimiliki kecuali orang yang selalu mengingat Tuhannya dan dia tahu bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Ia juga memilih amal-amal yang lebih utama karena ia sadar bahwa Tuhannya mengetahui dan mengawasinya. Selain itu ia juga akan senantiasa tetap istiqamah. Setiap kali setan datang untuk menjerumuskannya dari jalan yang lurus, ia akan teringat dengan pengawasan Tuhannya sehingga ia pun kembali istiqamah.
Selain itu, muraqabah dipraktekkan agar kita dapat menyaksikan dan mengalami kesadaran diri dan keterjagaan diri sebagai proses awal kebangunan gnostik (makrifat) atau pencerahan spiritual. Selain itu, dengan muraqabah, orang akan sadar setiap waktu tentang keadaan di dalam batin yang tak terlukiskan, yang tak ada batasnya , dan senantiasa merasakan kehadiran Tuhan bersamanya.
Orang yang Muraqabah adalah orang yang sadar bahwa setiap ucapan dan perilakunya selalu berada di bawah tatapan-Nya. Badannya bergetar ketika menyebut asma Allah, hatinya menangis ketika mendengar suara azan, air matanya menetes ketika membaca atau mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Quran, dia merasa kecil ketika menyebut kalimat 'Allahu Akbar', dia selalu merasa takut kepada Allah kalau-kalau ikrarnya dalam doa iftitah setiap salat, tidak diterima oleh Allah.
Proses Muraqabah
Untuk mencapai derajat muraqabah, seseorang yang berjalan menuju Tuhan haruslah menaiki tujuh anak tangga sebagai berikut :
1. Muhasabah (instropeksi). Kita melakukan perhitungan baik dan buruk terhadap perbuatan yang sudah kita lakukan. Bila kita lebih banyak melakukan kebaikan kita bersyukur dan berusaha meningkatkannya, atau paling tidak mempertahankannya, dan kalau ternyata amal kejahatan dan kelalaian kita lebih banyak kita wajib taubat dan memperbaikinya.
Umar bin Khattab mengatakan : ”Adakanlah perhitungan terhadap dirimu sendiri sebelum kamu nanti diadakan perhitungan di hadapan Tuhan”. Ibn `Araby berkata : ”Buatlah perhitungan sebelum perhitungan di buat untukmu, timbanglah dosa-dosamu sebelum ia timbang untukmu”. Allah berfirman : “ Bacalah bukumu. Cukuplah engkau sendiri pada hari ini menghitung amalmu” (Al-Isra` 17: 14).
Bagi Ibn `Araby ada tiga bahaya yang mencegah dari muhasabah, instropeksi atas tindakan-tindakanmu dan bersyukur atas kedermawanan Tuhan. Ketiga bahaya dan kendala itu adalah : Ketaksadaran, kelalaian, ghaflah; luapan selera dan hasrat hawa nafsumu, jiwa rendahmu; dan kebiasaan buruk, atau semua kebiasaanmu yang membuatmu seperti sebuah mesin.
2. Mu`aqabah (sanksi terhadap pelanggaran). Bila kita melakukan kesalahan, kita harus mengecam diri kita, mempersoalkannya, dan kemudian menghukumnya. Kita menjadi hakim sekaligus terdakwa bagi diri kita sendiri. Proses mu`aqabah ini perlu dilakukan untuk melemahkan posisi hawa nafsu yang memang potensi dasarnya menyuruh kita untuk berbuat kesalahan. Tanpa mu`aqabah biasanya kita begitu mudah dan gampang untuk mengulangi kesalahan yang telah kita lakukan.
3. Muhasanah (memperbaiki dan mempercantik diri). Hal ini bisa dilakukan dengan cara membiasakan dan menghiasi diri dengan perbuatan baik ( a`mal al-hasanat) agar proses muhasabah dan mu`aqabah-nya menjadi benar. Dalam tahap ini kita dituntut untuk memperbanyak amalan-amalan saleh sehingga suatu saat menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
4. Mujahadah (optimalisasi). Kita berjuang keras dengan segala yang kita miliki untuk terus menjaga dan meningkatkan kebaikan serta kedekatan kita kepada Allah. Kita harus memaksimalkan setiap potensi kita untuk menjaga kesadaran kita akan Dia, dan kalau bisa meningkatkannya.
5. Istiqamah (disiplin). Kita menjaga kesinambungan atau kontinuitas kebaikan kita agar selalu stabil, atau bahkan kalau bisa lebih baik. Rasulullah lebih menyukai amal yang istiqamah walaupun sedikit daripada yang amal yang banyak tetapi tidak istiqamah. Membaca Al-Qur`an 5 atau bahkan 1 ayat perhari tetapi rutin akan lebih berdampak positif daripada kita membacanya mungkin satu surat tapi tidak rutin, seminggu sekali atau mungkin sebulan sekali.
6. Muraqabah (merasakan pengawasan Allah terus-terus setiap waktu).
7. Mukasyafah atau Musyahadah (terbukanya tabir antara diri dengan Allah)
Macam-macam Muraqabah
Penggapaian kesadaran akan kehadiran Allah SWT itu tidak instan. Perlu keimanan yang dipertajam oleh pengetahuan akan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, ditambah dengan perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur`an. Sebab, bagaimana mungkin menggapai muraqabah, jika tidak mengetahui bahwa Allah SWT adalah raqib (Yang Maha Mengawasi setiap saat).
Latihan muraqabah dapat dilakukan melalui dzikir, tafakur, dan do`a dalam suasana uzlah (menyendiri). Uzlah adalah salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengasingkan diri, baik secara fisik dengan cara menyendiri di suatu tempat maupun secara batini dengan cara menjaga hati dari hiruk pikuk serta pengaruh negatif dunia, dengan memperbanyak ibadah, berzikir, dan bertafakur.
Ada empat macam cara yang bisa kita gunakan untuk muraqabah, Yaitu:
1. Muraqabah yang diambil dari sari Al-Qur`an, yang diijtihadkan untuk merasakan kehadiran Allah, yaitu dengan memperbanyak membaca kalimah : Allahu hadiriy (Allah hadir bersamaku); Allahu nadzari (Allah selalu melihatku); Allahu syahidi (Allah selalu menyaksikanku); dan Allahu ma`i(Allah sealu bersamaku)
2. Muraqabah melalui asma` al-Husna (nama-nama Allah yang baik). Diantara nama-nama itu yang paling agung adalah ism al-Dzat, yaitu Allah. Kita mengucapakannya melalui lisan, menghayatinya dalam hati lewat dzikir sirr atau pelan. Atau dengan menyebut nama-nama Allah yang lain misalkan, Ar-Raqib (Maha penjaga); Al-`alim (Maha mengetahui), AS-Sami` (Maha mendengar), Al-Bashir (Maha Melihat).
3. Muraqabah melalui perenungan ayat-ayat Allah , diantaranya:
• “Di sisi-Nya segala kunci yang gaib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui segala yang ada dalam lautan dan di daratan. Tiada gugur sehelai daun pun melainkan Allah mengetahuinya, dan sebiji pun jatuh dalam gelap gulita bumi serta tiada pula benda yang basah maupun yang kering melainkan semuanya itu dalam kitab yang terang.” (Al-An`am 6 : 59)
• “Sesungguhnya telah kami jadikan manusia dan Kami ketahui apa-apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Al-Qaf 50 ayat 16)
• “Dia yang Awal dan Dia yang Akhir, Dia yang Lahir dan yang Batin, dan Dia mengetahui tiap-tiap sesuatu .”( Al-Hadid 57 ayat 3). Dan ayat-ayat yang lain.
4. Muraqabah melalui mengingat mati. Banyak ayat Al-Qur`an yang menyentak kesadaran kita tentang kematian yang pasti kita mengalaminya, seperti:
• Katakanlah, “Sesungguhnya mati yang kamu lari darinya, sesungguhnya ia akan menemui kamu. Kemudian kamu dikembalaikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dikabarkan kepadamu apa-apa yang kamu kerjakan (Al-Jumu`ah 62 ayat 8)
• Di mana pun kamu berada, niscaya maut akan menjemputmu, meskipun kamu tinggal dalam benteng yang tertinggi (An-Nisa` 4 ayat 78).