31 Juli 2009

DOA SEBELUM BELAJAR

DOA IBTIDAAUL MAJLISIL `ILMI
DOA PEMBUKAAN MAJLIS ILMU

• Membaca Shalawat
• Membaca dua kalimat Syahadah
• Membaca Istigfar 3x

رَبَّنَا لاَ تَكِلْنَا اِلىَ نَفْسِنَا طَرْفَةَ عَيْنٍ

Rabbanaa laa takilnaa ilaa nafsinaa tharfata `ain
Ya Allah, janganlah Engkau biarkan kami sendirian tanpa bimbingan dan petunjuk-Mu walaupun hanya sekejab mata.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا اِسْتِعْدَادًا كَاِملاً لِقَبُوْلِ فَيْضِكَ اْلاَ قْدَاسِ

Rabbanaa hablanaa isti`daadan kaamilan liqabuuli faidhikal aqdas
Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kesiapan (ruhani) yang sempurna untuk menerima pancaran suci-Mu.

رَبَّنَا ِزدْنَا عِلْمًا وَرْزُقْنَا فَهْمًا وَاهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ

Rabbanaa zidnaa `ilma warzuqnaa fahma wahdinash shiraathal mustaqim

Ya Tuhan kami, tambahkanlah kepada kami pengetahuan, anugerahkanlah kepada kami kemudahan untuk memahami ilmu-Mu, dan bimbinglah kami ke jalan-Mu yang lurus.


DOA KAFARATUL MAJLISIL `ILMI
DOA PENUTUP MAJLIS ILMU

سُبْحَانَكَ اَلَّلهُمَّ وَبِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَاَتُوْبُ ِالَيْكَ

Subhaanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik

Maha Suci Engkau ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau. Aku memohon ampunan kepada-Mu dan aku kembali kepada-Mu.

30 Juli 2009

Mutiara Hikmah

Cukuplah kematian sebagai nasehat dan keyakinan (iman) sebagai kekayaan.

Muraqabah : Hidup Bersama Tuhan

MURAQABAH :
HIDUP BERSAMA TUHAN

“Dia beserta kamu, di mana pun kamu berada. Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan ( Al-Hadid 57 ayat 4).”
Salah seorang syaikh (guru) mempunyai beberapa orang santri, tetapi ia lebih menyukai salah seorang santrinya dan memberinya perhatian lebih dari santri-santri yang lainnya. Ketika ditanya oleh santri-santrinya tentang hal ini, sang syaikh menjawab: Aku akan menunjukan kepada kalian mengapa aku lebih menyukai dia. Lalu sang syaikh memberikan kepada setiap santrinya seekor burung dan memerintahkan agar menyembelih burung tersebut di suatu tempat di mana tidak seorang pun akan melihatnya. Mereka semua lalu berangkat , kemudian masing-masing kembali dengan burung sembelihannya, kecuali sang santri kesayangan syaikh. Ketika syaikh bertanya, Mengapa engkau tidak menyembelihnya? Si santri menjawab, Tuan guru memerintahkan saya untuk menyembelih burung ini di tempat yang tidak dilihat oleh siapapun, dan saya tidak menemukan tempat seperti itu. Mendengar jawaban santrinya itu, sang syaikh lalu berkata kepada santri-santrinya yang lain, inilah sebabnya mengapa aku lebih memberikan perhatian kepadanya dan menyayanginya.
Suatu ketika, saat Umar bin Khaththab r.a. sedang dalam perjalanan, ia melihat seorang anak menggembala domba. Umar meminta kepadanya agar menjual seekor dombanya. Penggembala itu menjawab, domba-domba ini bukan milikku, aku hanya seorang budak. Umar membujuknya agar menjualnya seekor saja dengan berkata, dombanya kan banyak sekali, jika ketahuan kurang satu, bilang saja di makan serigala! Anak penggembala itu terdiam. Ia menatap Umar serius sembari berkata : ”Lalu di mana Allah sekarang”.
Satu malam, Umar bin Khattab RA, sebagaimana lajimnya, keluar secara menyamar untuk mengecek denyut kehidupan rakyatnya. Menjeleng tengah malam, dari kejauhan beliau melihat kerdipan lampu, pertanda penghuni gubuk itu belum tidur. Ketika didekati, samar-samar khalifah kedua ini mendengar suara seorang ibu yang meminta putrinya untuk mencampuri susu sapi dengan air sebelum dijual. Maksudnya agar volumenya bertambah sehingga lebih menguntungkan. Namun si anak berkata : "Bukankah Amirul mukmini melarang kita untuk berbuat demikian ?". "Memangnya kamu tahu di mana Amirul Mukminin sekarang ?. Dia kan tidak melihat kita", guman sang Ibu. "Ibu, meskipun Amirul Mukminin tidak melihat kita, tapi pasti Tuhannya Amirul Mukminin melihat !".
Jawaban sanri, anak penggembala dan anak penjual susu tersebut adalah esensi muraqabah. Keduanya menyadari sepenuhnya bahwa Allah senantiasa menyaksikan, mengawasi dan mengetahui perbuatan hamba-Nya.

Makna Muraqabah
Kata muraqabah berasal dari kata raqaba yang berarti menjaga, menyertai dan mengawasi. Dalam Al-Qur`an, Allah menegaskan, “Dan Allah Maha Mengawasi segala sesuatu” (Al-Ahzab 33 ayat 52). Dalam sebuah hadis yang dikenal dengan hadis Jibril atau arkan al- din ( sendi-sendi agama : Iman, Islam, dan Ihsan ), khusus mengenai Ihsan disebutkan ” Beritahu aku wahai Muhammad apa itu Ihsan? Nabi menjawab, ”Ihsan itu an ta`budallah ka-annaka tarahu fain lam yakun yarahu fainnahu yaraka (hendaknya Engkau menyembah Allah seolah-olah Engkau melihat-Nya, dan jika Engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu).”
Secara terminologis, muraqabah berarti melestarikan pengamatan kepada Allah dengan hati, sehingga manusia mengamati pekerjaan dan hukum-hukum-Nya. Atau dengan kata lain, muraqabah adalah meresapkan kesadaran bahwa Allah melihat, mengawasi, memonitor diri kita dalam gerak dan diam kita, baik lahir maupun batin.
Adapun di kalangan para sufi, kita menemukan beberapa definisi atau makna muraqabah, diantaranya:
• Al-Junaid berkata, “Barang siapa mewujudkan muraqabah, hanyalah takut akan hilangnya bagian dari Allah, tidak yang lain”.
• Dzun Nuu al-Mishry mengatakan,” Tanda muraqabah adalah memilih apa yang dipilih oleh Allah, menganggap besar apa yang dipandang besar oleh-Nya, dan menganggap remeh apa yang dipandang-Nya remeh”.
• Ibrahim an-Nashr Abadzy menegaskan, ” Harapan (raja`) mendorongmu untuk taat, takut (khauf) menghindarkanmu dari maksiat, dan muraqabah diri membawamu kepada jalan kebenaran hakiki”.
• Al-Jurary menjelaskan, ” Jalan kita dibangun atas dua jalan, yaitu hendaknya engkau memaksa jiwamu untuk muraqabah terhadap Allah dan hendaknya ilmu tampak dalam perilaku lahiriyahmu”.
• Abdullah al-Murta`isy berkomentar, ” Muraqabah adalah menjaga diri atas batin sendiri dikarenakan kesadaran akan Yang Gaib dalam setiap pandangan dan ucapan”.
• Abu Ustman menuturkan, ” Abu Hafs mengatakan kepadaku : “Manakala engkau duduk mengajar orang banyak, jadilah seorang penasehat kepada hati dan jiwamu sendiri dan jangan biarkan dirimu tertipu oleh berkumpulnya mereka di sekelilingmu, sebab mereka hanya memperhatikan wujud lahiriyahmu, sedangkan Allah memperhatikan wujud batinmu”.
• Muhammad al-Wasithy berkata, ”Amal ibadah terbaik adalah menjaga waktu”. Artinya, si hamba tidak melihat ke luar batas dirinya, tidak memikirkan sesuatu pun selain Tuhannya, dan tidak menyertakan diri dengan sesuatu pun selain waktunya."
• Abu Sa'id al Kharraz mengabarkan, "Salah seorang syeikh mengatakan kepadaku, 'Engkau harus mengawasi batinmu dan bermawas diri terhadap Allah. Suatu ketika aku sedang bepergian melalui padang pasir, dan tiba tiba aku mendengar suara keras yang menakutkan di belakangku. Aku ingin menoleh, tapi hal itu tak kulakukan. Lalu, aku melihat sesuatu jatuh ke atas pundakku, dan aku menoleh, sedang aku menjaga batinku, lantas aku menoleh dan kulihat seekor binatang buas yang besar'."

Manfaat Muraqabah
" Barang siapa bisa muraqabah kepada Allah, niscaya ia akan ikhlas kepada-Nya, baik secara rahasia maupun terang-terangan dan lahir maupun batin di setiap waktu dalam kehidupannya", tulis Syaikh Khalid Sayyid Rusyah dalam bukunya Nikmatnya Beribadah. Terkait dengan hal ini, Allah SWT. berfirman : " Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu, maka takutlah kepada-Nya" (Al Baqarah 235). "Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk salat), dan (melihat pula) perubahan gerak badanmu di antara orang-orang yang sujud", (Asy-Syu'ara 218). "Dan Tuhanmu mengetahui apa yang disembunyikan (dalam) dada mereka dan apa yang mereka nyatakan", (Al Qashash 69).
Karena itu barangsiapa yang selalu mengingat Allah dalam hatinya, maka Allah akan melindunginya dalam setiap gerakan tubuhnya. Dan barangsiapa selalu mengingat Allah di dalam batinnya, maka Allah akan menunjukkan perilaku yang baik dalam hatinya. Seorang mukmin yang saleh yang selalu ingat Tuhannya dalam setiap gerakannya dan mengetahui bahwa Tuhannya mengawasinya baik lahir maupun batinnya. Dengan begitu perilakunya menjadi berubah lebih santun dan ia mempunyai sifat malu. Sesungguhnya, sifat malu tidak akan dimiliki kecuali orang yang selalu mengingat Tuhannya dan dia tahu bahwa Allah senantiasa mengawasinya. Ia juga memilih amal-amal yang lebih utama karena ia sadar bahwa Tuhannya mengetahui dan mengawasinya. Selain itu ia juga akan senantiasa tetap istiqamah. Setiap kali setan datang untuk menjerumuskannya dari jalan yang lurus, ia akan teringat dengan pengawasan Tuhannya sehingga ia pun kembali istiqamah.
Selain itu, muraqabah dipraktekkan agar kita dapat menyaksikan dan mengalami kesadaran diri dan keterjagaan diri sebagai proses awal kebangunan gnostik (makrifat) atau pencerahan spiritual. Selain itu, dengan muraqabah, orang akan sadar setiap waktu tentang keadaan di dalam batin yang tak terlukiskan, yang tak ada batasnya , dan senantiasa merasakan kehadiran Tuhan bersamanya.
Orang yang Muraqabah adalah orang yang sadar bahwa setiap ucapan dan perilakunya selalu berada di bawah tatapan-Nya. Badannya bergetar ketika menyebut asma Allah, hatinya menangis ketika mendengar suara azan, air matanya menetes ketika membaca atau mendengarkan bacaan ayat-ayat Al Quran, dia merasa kecil ketika menyebut kalimat 'Allahu Akbar', dia selalu merasa takut kepada Allah kalau-kalau ikrarnya dalam doa iftitah setiap salat, tidak diterima oleh Allah.

Proses Muraqabah
Untuk mencapai derajat muraqabah, seseorang yang berjalan menuju Tuhan haruslah menaiki tujuh anak tangga sebagai berikut :
1. Muhasabah (instropeksi). Kita melakukan perhitungan baik dan buruk terhadap perbuatan yang sudah kita lakukan. Bila kita lebih banyak melakukan kebaikan kita bersyukur dan berusaha meningkatkannya, atau paling tidak mempertahankannya, dan kalau ternyata amal kejahatan dan kelalaian kita lebih banyak kita wajib taubat dan memperbaikinya.
Umar bin Khattab mengatakan : ”Adakanlah perhitungan terhadap dirimu sendiri sebelum kamu nanti diadakan perhitungan di hadapan Tuhan”. Ibn `Araby berkata : ”Buatlah perhitungan sebelum perhitungan di buat untukmu, timbanglah dosa-dosamu sebelum ia timbang untukmu”. Allah berfirman : “ Bacalah bukumu. Cukuplah engkau sendiri pada hari ini menghitung amalmu” (Al-Isra` 17: 14).
Bagi Ibn `Araby ada tiga bahaya yang mencegah dari muhasabah, instropeksi atas tindakan-tindakanmu dan bersyukur atas kedermawanan Tuhan. Ketiga bahaya dan kendala itu adalah : Ketaksadaran, kelalaian, ghaflah; luapan selera dan hasrat hawa nafsumu, jiwa rendahmu; dan kebiasaan buruk, atau semua kebiasaanmu yang membuatmu seperti sebuah mesin.
2. Mu`aqabah (sanksi terhadap pelanggaran). Bila kita melakukan kesalahan, kita harus mengecam diri kita, mempersoalkannya, dan kemudian menghukumnya. Kita menjadi hakim sekaligus terdakwa bagi diri kita sendiri. Proses mu`aqabah ini perlu dilakukan untuk melemahkan posisi hawa nafsu yang memang potensi dasarnya menyuruh kita untuk berbuat kesalahan. Tanpa mu`aqabah biasanya kita begitu mudah dan gampang untuk mengulangi kesalahan yang telah kita lakukan.
3. Muhasanah (memperbaiki dan mempercantik diri). Hal ini bisa dilakukan dengan cara membiasakan dan menghiasi diri dengan perbuatan baik ( a`mal al-hasanat) agar proses muhasabah dan mu`aqabah-nya menjadi benar. Dalam tahap ini kita dituntut untuk memperbanyak amalan-amalan saleh sehingga suatu saat menjadi kebiasaan kita sehari-hari.
4. Mujahadah (optimalisasi). Kita berjuang keras dengan segala yang kita miliki untuk terus menjaga dan meningkatkan kebaikan serta kedekatan kita kepada Allah. Kita harus memaksimalkan setiap potensi kita untuk menjaga kesadaran kita akan Dia, dan kalau bisa meningkatkannya.
5. Istiqamah (disiplin). Kita menjaga kesinambungan atau kontinuitas kebaikan kita agar selalu stabil, atau bahkan kalau bisa lebih baik. Rasulullah lebih menyukai amal yang istiqamah walaupun sedikit daripada yang amal yang banyak tetapi tidak istiqamah. Membaca Al-Qur`an 5 atau bahkan 1 ayat perhari tetapi rutin akan lebih berdampak positif daripada kita membacanya mungkin satu surat tapi tidak rutin, seminggu sekali atau mungkin sebulan sekali.
6. Muraqabah (merasakan pengawasan Allah terus-terus setiap waktu).
7. Mukasyafah atau Musyahadah (terbukanya tabir antara diri dengan Allah)

Macam-macam Muraqabah
Penggapaian kesadaran akan kehadiran Allah SWT itu tidak instan. Perlu keimanan yang dipertajam oleh pengetahuan akan nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT, ditambah dengan perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur`an. Sebab, bagaimana mungkin menggapai muraqabah, jika tidak mengetahui bahwa Allah SWT adalah raqib (Yang Maha Mengawasi setiap saat).
Latihan muraqabah dapat dilakukan melalui dzikir, tafakur, dan do`a dalam suasana uzlah (menyendiri). Uzlah adalah salah satu metode untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan mengasingkan diri, baik secara fisik dengan cara menyendiri di suatu tempat maupun secara batini dengan cara menjaga hati dari hiruk pikuk serta pengaruh negatif dunia, dengan memperbanyak ibadah, berzikir, dan bertafakur.
Ada empat macam cara yang bisa kita gunakan untuk muraqabah, Yaitu:
1. Muraqabah yang diambil dari sari Al-Qur`an, yang diijtihadkan untuk merasakan kehadiran Allah, yaitu dengan memperbanyak membaca kalimah : Allahu hadiriy (Allah hadir bersamaku); Allahu nadzari (Allah selalu melihatku); Allahu syahidi (Allah selalu menyaksikanku); dan Allahu ma`i(Allah sealu bersamaku)
2. Muraqabah melalui asma` al-Husna (nama-nama Allah yang baik). Diantara nama-nama itu yang paling agung adalah ism al-Dzat, yaitu Allah. Kita mengucapakannya melalui lisan, menghayatinya dalam hati lewat dzikir sirr atau pelan. Atau dengan menyebut nama-nama Allah yang lain misalkan, Ar-Raqib (Maha penjaga); Al-`alim (Maha mengetahui), AS-Sami` (Maha mendengar), Al-Bashir (Maha Melihat).
3. Muraqabah melalui perenungan ayat-ayat Allah , diantaranya:
• “Di sisi-Nya segala kunci yang gaib, tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri. Dia mengetahui segala yang ada dalam lautan dan di daratan. Tiada gugur sehelai daun pun melainkan Allah mengetahuinya, dan sebiji pun jatuh dalam gelap gulita bumi serta tiada pula benda yang basah maupun yang kering melainkan semuanya itu dalam kitab yang terang.” (Al-An`am 6 : 59)
• “Sesungguhnya telah kami jadikan manusia dan Kami ketahui apa-apa yang dibisikkan oleh hatinya dan kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (Al-Qaf 50 ayat 16)
• “Dia yang Awal dan Dia yang Akhir, Dia yang Lahir dan yang Batin, dan Dia mengetahui tiap-tiap sesuatu .”( Al-Hadid 57 ayat 3). Dan ayat-ayat yang lain.
4. Muraqabah melalui mengingat mati. Banyak ayat Al-Qur`an yang menyentak kesadaran kita tentang kematian yang pasti kita mengalaminya, seperti:
• Katakanlah, “Sesungguhnya mati yang kamu lari darinya, sesungguhnya ia akan menemui kamu. Kemudian kamu dikembalaikan kepada Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu dikabarkan kepadamu apa-apa yang kamu kerjakan (Al-Jumu`ah 62 ayat 8)
• Di mana pun kamu berada, niscaya maut akan menjemputmu, meskipun kamu tinggal dalam benteng yang tertinggi (An-Nisa` 4 ayat 78).


29 Juli 2009

Mutiara Hikmah

Pada setiap kejadian, kita sebanarnya punya banyak pilihan makna arti/tafsir yang bisa kita lekatkan pada kenyadian itu.

28 Juli 2009

Mutiara Hikmah

Barang siapa tidak mensyukuri nikmat berarti ia menginginkan hilangnya nikmat tersebut. Dan barang siapa mensyukurinya berarti ia telah mengikatnya dengan ikatan yang kuat. (Ibn Athaillah al-Sakandari)

27 Juli 2009





MENGENAL RASULULLAH

Dunia mengalami krisis keteladanan. Dunia berada pada titik “kejahiliyahan” baru. Manusia tidak lagi mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Krisis moral melanda hampir di semua lini kehidupan, termasuk di kalangan pemimpin, intelektual, bahkan di kalangan agamawan. Manusia mengalami “amnesia” spiritual, tercerabut dari fitrahnya. Manusia teralineasi, terasing dari dirinya sendiri yang sejati. Al-Qur`an menggambarkan krisis ini sebagai kebodohan (jahilillah) :

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur 24 : 40).
Untuk bisa keluar dari krisis “jahiliyyah” baru ini, manusia haruslah mencari “cahaya” Ilahi yang akan memberikan peta jalan dan bimbingan untuk bisa terbebas dari kegelapan. Cahaya Ilahi tersebut adalah Al-Qur`an dan pengamal Al-Qur`an yang paripurna adalah Rasulullah saw. Maka mengenal Rasulullah menjadi sebuah keniscayaan.

Maulid Nabi
Peringatan maulid (kelahiran) Nabi saw. hendaknya tidak berhenti pada seremonial belaka, melainkan haruslah dijadikan momentum untuk mengenal Rasulullah lebih dekat lagi. Pengenalan ini akan melahirkan kecintaan kepada beliau, yang diwujudkan dengan menjadikan beliau living model dan teladan, dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mengikuti teladan Nabi merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah swt.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran 3 : 31)

Muhammad adalah teladan terbaik. Allah sendiri telah memberikan “jaminan” bahwa pada diri Rasulullah Saw. terdapat uswah hasanah, teladan yang baik :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Al-Ahzab 33 : 21).

Di ayat yang lain, Allah lebih mempertegas dengan firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam 68 :4)

Keagungan akhlak Nabi tidak hanya diakui oleh umatnya saja, tetapi orang-orang non muslim pun juga mengakuinya. Micheal H. Hart bahkan menempatkan Rasulullah di urutan teratas dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh (Rangking of 100 most Influential Person in History). Karen Armstrong pun menulis biografi Muhammad dan mengakui keagungan akhlaknya, walaupun dia sendiri seorang Nasrani. George Bernard Shaw dalam bukunya Whither Islam mengatakan : “Saya telah meramalkan keyakinan yang dibawa Muhammad, bahwa keyakinan baru itu akan dapat diterima hari esok. Saya telah melakukan studi atas Muhammad, orang yang sangat mengagumkan dan menurut saya, ia jauh dari memusuhi Kristen, dia mestinya disebut sebagai Juru Penyelamat Manusia (Saviour of Humanity). Anni Besant pun menyatakan kekagumannya. Dalam bukunya The Life and Teaching of Muhammad dia berkata : “Tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter Nabi Besar asal Arab ini, merasakan yang lain kecuali kekaguman (penghormatan) kepada guru hebat asal Arab itu.”. Barnaby Rogerson dalam bukunya The Prophet Muhammad juga mengagumi akhlak Rasulullah.
Namun sayangnya tidak semua umatnya mampu melihat keagungan dan kebaikan akhlak Rasulllah. Mereka lebih senang menjadikan banyak tokoh yang tidak mendapatkan “jaminan” dari Allah integritas moralnya sebagai panutan. Manusia menjadi korban model baju, rambut, cara bicara, bahkan cara berprilaku para idolanya.
Keagungan akhlak Rasulullah hanya bisa dilihat oleh orang yang hanya mengharapkan (kemuliaan dan ridha di sisi) Allah dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat dan banyak mengingat (berdzikir) Allah, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring (dalam semua keadaan). Mereka akan berada pada frekwensi yang sama dengan akhlak Nabi, sehingga bisa melihat keagungan akhlak Nabi dan tidak merasa berat untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Adapun seperti apakah akhlak Rasulullah, Aisyah ketika ditanya para sahabat bagaimana akhlak Nabi menjawab : kaana khuluquhul qur`an, sesungguhnya akhlaknya (Nabi) adalah Al-Qur`an. (H.R. Muslim dan Abu Dawud). Rasulullah adalah Al-Qur`an berjalan. Semua perkataan, perbuatan dan penetapannya adalah Al-Qur`an. Beliau membumikan Al-Qur`an dalam semua aspek kehidupannya.
Di bawah ini akan coba dipaparkan beberapa akhlak dan teladan Rasulullah yang dapat dijadikan contoh bagi umatnya.
Rasulllah sebagai hamba Allah :
Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang paling ikhlas dan “mewakafkan” hidupnya untuk-NYA.
Beliau tidak pernah berbicara karena nafsunya, tetapi semata-mata hanya menyampaikan wahyu Allah. (An-Najm 53 : 3-4)
Selalu shalat malam. Rasulullah melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak. Beliau juga tidak senang bila ada orang yang berjalan di belakangnya. (H. R. Bukhori Muslim)
Tidak pernah meninggalkan puasa senin kamis dan ayamul bidh

Rasulullah sebagai suami, Bapak, dan kakek :
Beliau mempersonifikasikan peran dari ayah dan suami yang sempurna. Dia sangat baik dan toleran terhadap istri-istrinya sehingga mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya, dan mereka tidak ingin hidup jauh darinya.
Rasulullah adalah suami yang sangat baik dan lembut, dan tidak pernah bertindak kasar terhadap istrinya.
Nabi bermusyawarah dengan istri-istrinya. Rasulullah pernah minta pendapat kepada Ummu Salama tentang Perjanjian Hudaibiyah yang mengecewakan dan memicu kemarahan kaum muslimin, karena salah satu isinya adalah mereka tidak dapat melakukan haji pada tahun itu.
Rasulullah sangat demokratis terhadap istri-istrinya. Ketika istrinya yang menginginkan kehidupan yang makmur bertanya :” Bisakah kami hidup dengan lebih mewah, seperti perempuan muslim lainnya? Bisakah kami paling tidak memiliki semangkuk sup setiap hari, atau beberapa baju yang lebih indah? Setelah mendengar permintaan mereka Rasulullah pergi untuk menyendiri. Dalam penyendiriannya beliau berkesimpulan bahwa : “Aku tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan.”Akhirnya, Nabi memberi pilihan kepada istri-istrinya untuk tetap bersamanya atau meninggalkannya. Allah berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا. وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. “(Al-Ahzab 33 : 28-29)
Dan Allah pun menegaskan bahwa :

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا.
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab 33 : 32)
· Rasulullah adalah suami yang luar biasa, ayah yang sempurna dan kakek yang istimewa. Anas bin Malik, yang menjadi pelayan Rasululah selama 10 tahun mengatakan : “Aku tidak pernah melihat seorang pria yang lebih sayang kepada anggota keluarganya selain Muhammad.” (H.R. Muslim).
· Rasulullah mencintai anak-anak dan cucunya, mendidik mereka menuju akhirat, ke dunia keindahan abadi, dan kepada Allah. Ketika beliau melihat Fatimah mengenakan kalung, beliau bertanya : “Apakah engkau ingin penduduk bumi dan langit mengatakan bahwa putriku menggunakan rantai dari neraka”. Lalu Fatimah segera menjual kalung itu, membeli dan membebaskan seorang budak. (H.R. Nasa’i)

Rasulullah sebagai guru/Pembimbing

uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur =»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å"s9 9@»n=Ê &ûüÎ7•B ÇËÈ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(Al-Jumu’ah 62 : 2).
Dalam mendidik beliau memperhatikan semua potensi manusia : Membacakan ayat-ayat (akal), mensucikan mereka (hati), mengajarkan kitab ( akal ) dan hikmah (emosi dan spiritual).
Beliau mendidik dengan contoh, lisanul hal afshahu min lisanul maqal

Rasulullah sebagai pedagang
seorang pedagang yang jujur. Umur 12 tahun Nabi sudah magang kepada pamannya Abu Thalib. Umur 17 tahun menjadi bussines manager. Umur 20 tahun menjadi Invesment manager. Umur 25 tahun menjadi owner. Dan umur 37 tahun sudah mencapai tahap “financial freedom”.

Rasulullah sebagai panglima perang
Nabi tidak pernah menyerang, semua perang yang terjadi zaman Nabi (27 X) karena mempertahankan diri.

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(Al-Baqarah 2 : 190)
Dalam perang Nabi selalu melindungi perempuan, anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia.



Nabi sebagai Rakhmat Semesta Alam
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya 21 : 107)
Dia menaungi orang Mukmin dengan sayap kelembutannya melalui rakhmatnya (15:88), dan penjaga kaum Mukmin dan lebih dekat kepada mereka dari pada mereka sendiri (33:6). Ketika seorang sahabat meninggal, dia bertanya kepada para pelayat apakah orang itu punya hutang. Ketika mengetahui dia punya hutang, maka mengumumkan bahwa para kreditur harus datang kepada dirinya untuk pembayaran hutang. (H.R. Bukhori Muslim).
Kasihnya bahkan meliputi kaum munafik dan kafir. Dia tahu siapa saja yang munafik, namun tak pernah menyebut mereka, karena hal itu akan menyebabkan mereka kehilangan hak kewarganegaraan yang mereka dapatkan melalui kesaksian dan praktek iman lahiriyah mereka.
Kasihnya bahkan meliputi hewan. Rasulullah marah ketika para sahabat mengambil anak-anak burung dari sarangnya. (H.R. Abu Dawud). Ibn Abbas melaporkan bahwa ketika Rasulullah melihat seorang pria mengasah pisaunya hanya sebentar saja sebelum menyembelih seekor domba, Rasul bertanya : “Apakah engkau ingin membunuhnya berkali-kali.” (H.R. Hakim). Rasulullah pun menegur Pemilik unta yg tidak memberi makan dengan sepantasnya sehingga untanya sangat kurus.

Kelembutan dan Kesabaran Nabi

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.” (At-Taubah 9 : 128)
Rasulullah tidak memarahi orang-orang yang menuruti keinginan mereka sendiri dan para pemanah yang meninggalkan posnya pada peristiwa perang Uhud. Sebaliknya, dia malah menunjukkan kemurahan hati :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran 3:159).
Rasulullah tak pernah marah kepada siapa saja karena apa-apa yang dilakukan mereka terhadap dirinya. Ketika istrinya Aisyah difitnah, dia tidak ingin menghukum si penfitnah meskipun namanya telah dibersihkan oleh Al-Qur`an. Suku Badui serinkali berprilaku tak sopan kepadanya, tetapi dia tidak pernah cemberut kepada mereka. Meskipun sangat sensitive, dia selalu menunjukkan kesabaran kepada kawan dan lawan.
Saat membagi rampasan perang setelah perang Hunayn, Dhu al-Huwaysira keberatan : “Berlaku adillah wahai Muhammad.! Inilah adalah penghinaan yang tak termaafkan, karena Nabi diutus untuk menegakkan keadilan. Karena tak kuasa menahan amarah atas kelancangan itu, Umar minta izin untuk membunuh “orang munafik” tersebut saat itu juga. (H.R. Bukhrori Muslim).
Rasulullah pun mengampuni seorang perempuan Yahudi yang ingin meracuninya lewat domba panggang setelah penaklukan Khaybar. (H.R. Bukhori). Nabi juga bersabar ketika seorang Badui menarik kerah bajunya dan berkata denga kasar : “Hai Muhammad! Berikan hakku! Muati dua untaku. Tanpa menunjukkan rasa tersinggung, dia berkata kepada sahabat : “Berikan apa yang dia minta.” (H. R. Abu Dawud dan Nasa’i).

Kedermawanan Nabi
Rasulullah suka membagi apa saja yang dia punyai. Dia ikut dalam perdagangan sampai menjadi Nabi, dan banyak mendapatkan kekayaan. Setelah itu, dia dan istrinya yang kaya membelanjakan segala sesuatu di jalan Allah. Ketika Khadijah meninggal dunia, tidak ada uang untuk membeli kain kafan. Rasulullah harus meminjam uang untuk memakamkan istrinya, orang pertama yang memeluk Islam dan sekaligus pendukung utamanya. (Ibn Katsir, Al-Bidaya)
Rasulullah tidak pernah menolak permintaan. Ketika seorang Yahudi datang dan meminta sesuatu kepada Rasulullah, Rasulullah memenuhi permintaanya. Orang Badui itu meminta lagi, dan Rasulullah tetap memberikan apa yang dimintanya sampai ia tidak punya apa-apa lagi. Ketika orang Badui itu meminta lagi, dia berjanji akan memberikannya kalau sudah punya. (Ibn Katsir,al-Bidaya).

Kesederhanaan Nabi
· Aisyah melaporkan bahwa Rasulullah menjahit bajunya, memperbaiki sepatunya dan membantu istrinya mengerjakan pekerjan rumah tangga. (H.R. Tirmidzi)
· Rasulullah tidak pernah menganggap dirinya lebih besar ketimbang siapa pun. Hanya wajahnya yang bersinar dan menarik itulah yang membedakannya dari para sahabat. Dia hidup dan berpakaian seperti orang paling miskin dan duduk dan makan bersama mereka, seperti yang dia lakukan dengan para budak dan hamba sahaya.
· Suatu ketika saat Nabi sedang melayani sahabatnya, seorang Badui datang dan berteriak : “siapa tuan dari orang ini?” Rasulullah menjawab dengan menjelaskan prinsip substansial dari ajaran kepemimpinan Islam : “Pemimpin umat adalah orang yang melayani mereka.” Ali berkata bahwa di antara orang-orang itu Rasulullah adalah salah seorang di antaranya.
· Ketika Rasulullah dan Abu Bakar mencapai Quba saat hijrah ke Madinah, beberapa orang Madinah yang tak mengenal rupa sang Nabi berusaha mencium tangan Abu Bakar. Satu-satunya tanda eksternal yang membedakan Nabi dari orang lain adalah bahwa Abu Bakar tampak lebih tua dibanding Rasulullah.
· Umar pernah melihat Nabi berbaring di atas tikar yang kasar, dan karenanya ia menangis. Ketika Rasulullah bertanya mengapa ia menangis, Umar menjawab : “Ya Rasulullah, saat raja-raja tidur di atas ranjang bulu yang empuk, engkau berbaring di atas tikar yang kasar. Engkau adalah Rasulullah, dan pantas mendapatkan kehidupan yang nyaman ketimbang orang lain.” Nabi menjawab : “Tidakkah engkau setuju bahwa kemewahan dunia adalah milik mereka, dan kemewahan akhirat adalah milik kita. (H.R. Bukhari Muslim)

Menjadikan Al-Qur`an Sebagai Pedoman Hidup dan Akhlak

MENJADIKAN AL-QUR`AN SEBAGAI
PEDOMAN HIDUP DAN AKHLAK

Al-Quran merupakan salah satu kitab langit yang diturunkan Allah sebagai petunjuk berkehidupan bagi manusia. Pernyataan ini menunjukan bahwa Al-Quran sama sekali tidak menafikan eksistensi kitab langit lainnya, seperti : Taurat (Q.S. Al-Maidah 5: 44-45), Zabur (Q.S. Al-Ambiya` 21 :105), dan Injil ( Q.S. Al-Fath 48 :28). Al-Quran turun berfungsi sebagai mushaddiqan (membenarkan) terhadap kitab-kitab sebelumnya dan sekaligus sebagai penyempurna baginya. Al-Quran merupakan kontinyuitas progresif bagi kitab-kitab yang hadir sebelum Al-Quran.
Al-Quran turun sebagai media komunikasi Allah kepada manusia dan sekaligus sebagai sumber nilai dan tuntunan bagi kehidupan mereka. Hal ini bisa dilihat dari tema-tema Al-Quran yang dapat dikatakan berisi tiga ajaran pokok yang merupakan pedoman bagi kehidupan manusia, yaitu : Pertama, petunjuk akidah atau tauhid (bagaimana manusia secara tepat melihat posisi antara mereka dan Tuhannya), Kedua, petunjuk mengenai syariat dan hukum serta ibadah (baik mengenai hubungan dengan Tuhan maupun sesama manusia, baik ibadah maghdah maupun ghairu maghdah), dan Ketiga, petunjuk mengenai akhlak (baik akhlak terhadap Allah, sesama manusia maupun dengan alam semesta). Ketiga pokok ajaran di atas dapat diwakili dengan tiga kata : Iman, Islam, dan Ihsan.
Kedudukan Al-Quran sebagai media komunikasi dan petunjuk di atas, sayangnya tidak banyak dipahami secara benar oleh manusia, khususnya umat Islam sendiri. Tidak banyak umat Islam yang mampu membaca realitas yang dihadirkan Al-Quran. Hal ini dikarenakan mayoritas umat Islam hanya membaca Al-Quran secara “kering” dan belum mampu memahami ungkapan-ungkapan dan pesan-pesan yang ingin disampaikan Al-Quran. Dengan kata lain, ketika umat Islam berhadapan dengan Al-Quran, yang lahir hanyalah suara tanpa makna. Meskipun secara ritual merupakan ibadah yang berimplikasi pada pencapaian pahala ilahi.
Padahal substansi dan hakikat Al-Quran terkandung pada makna setiap kalimah-nya (katanya). Karenanya, tanpa mengetahui makna-makna setiap kata dalam Al-Quran sulit bagi manusia untuk menempatkan Al-Quran sebagai pedoman dan petunjuk dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan dan membumikannya sebagai jalan hidup atau akhlak sehari-hari.

Perbedaan Al-Quran, Hadis Qudsi, dan Hadis
Secara sederhana Al-Quran didefinisikan sebagai Firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad lewat perantaraan malaikat jibril, baik lafadz maupun maknanya. Sedangkan hadis qudsi diartikan pernyataan yang diriwayatkan berasal dari Rasul, yang isinya berkaitan dengan sabda atau tindakan Allah terhadap manusia, hanya saja pernyataan tersebut bukan merupakan bagian dari Al-Quran. Dengan kata lain hadis qudsi merupakan firman Allah secara maknawi karena redaksi yang digunakan berasal dari Nabi Muhammad. Oleh karena itu, membaca hadis qudsi tidak berimplikasi pada perolehan pahala, sebagaimana ketika membaca Al-Quran.
Perbedaan lainnya adalah Al-Quran secara keseluruan diriwayatkan secara mutawatir (oleh banyak orang) dan terjaga keaslian dan keontentikannya oleh jaminan Allah sendiri (al-Hijr 15 : 9), sementara kebanyakana hadis qudsi diriwayatkan secara individual (ahad), sehingga tidak semua hadis qudsi bisa diterima atau nilainya sahih. Kita mengenal hadis sahih, hasan, dho`if (lemah) dan hadis maudhu` (hadis palsu).
Adapun hadis adalah laporan atau kabar yang berupa perkataan ( seperti hadis Innamal a`maalu bin niyyaat), perbuatan ( seperti hadis Sholluu kamaa roaytuuniy usholliy dan khudzuu `anniy manaasikakum) dan ketetapan Nabi Muhammad saw. Hadis tidak dinyatakan dan diriwayatkan dengan redaksi yang baku, sebagaimana Al-Quran. Dan tidak ada jaminan dari Allah untuk selalu menjaganya, sebagaimana jaminan Allah untuk menjaga Al-Quran.

Nama-nama Al-Quran
Al-Quran merupakan salah satu nama yang diberikan Allah. Terdapat nama-nama lain yang diberikan Allah kepada Al-Quran. Nama-nama tersebut atara lain: Al-Kitab (buku, tulisan, Q.S. Al-Ambiya` 21:10), Al-Furqan (pembeda yang baik dan yang buruk, Q.S. Al-Furqan 25:1), Al-Dzikr (Pengingat, Q.S. Al-Hijr 15:9), dan Al- Tanzil (yang diturunkan, Q.S. Al-Syu`ara` 26:192). Namun yang paling sering dipakai adalah nama Al-Quran dan Al-Kitab. Menurut Dr. M. Abdullah Daraz, kedua nama ini paling sering dipakai karena keberadaan Al-Quran sendiri yang selalu dibaca dengan lisan dan terdokumentasikan dalam wujud tulisan (kitab).
Selain mempunyai banyak nama, Al-Quran juga mempunyai beberapa sifat dan fungsi, antara lain : an-Nur (cahaya, an-Nisa` 4:174), al-Huda ( petunjuk, al-Baqarah 2 : 2), al-Syifa` (obat, penyembuh, al-Isra` 17 : 82), al-Rahmah (sebagai rahmat, al-Isra` 17 : 82), al-Mau`idzah (pelajaran atau wejangan, Yunus 10:57), al-Busyraa (kabar gembira, Al-Baqarah 2:97), Al-Nadzir (pemberi peringatan, Fushilat 41:3-4), al-Mubarak (yang diberkati, al-An`am 6:92) dan lain-lain.

Keutamaan Al-Qur`an
Allah memuliakan orang-orang yang menjadi ahlul Qur`an dengan membaca, menghafal dan mengamalkannya dengan berbagai keutamaan, baik di dunia maupun di akhirat. Rasulullah bersabda : “Ahlul Qur`an adalah keluarga dan orang-orang khusus di sisi Allah”. (H. R.Nasai dan Ibnu Majah).
Dari Utsman bin Affan diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “ Yang terbaik di antara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur`an dan mengajarkannya”. (H.R.Muslim dan Abu dawud).
Dari Ibnu Umar diriwayatkan bahwa Nabi bersabda : “Hasad hanya diperbolehkan terhadap dua orang : orang yang diberikan Allah Al-Qur`an kemudian ia selalu membacanya di malam dan siang hari. Dan orang yang diberikan harta oleh Allah, lalu ia menginfaqkannya siang dan malam”. (H. R. Bukhari Muslim).
Di hadis yang lain Rasulullah bersabda : “ Orang yang membaca Al-Qur`an dengan lancar akan dikumpulkan bersama para malaika yang baik dan Mulia. Sementara orang yang membaca Al-Qur`an dengan terbata-bata dan mengalami kesulitan dalam membacanya, akan memperoleh dua pahala”. (H. R. Bukhari Muslim).
Dalam kesempatan yang lain Rasulullah pernah bersabda : “Barang siapa yang membaca satu huruf dari Kitab Allah, maka baginya satu pahala kebaikan, dan satu pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf “. (H.R. Tirmidzi)
Berkaitan dengan majlis Qur`an dan keutamaannya, Rasulullah bersabda : “ Tidaklah suatu kaum berkumpul dalam sebuah rumah dari rumah-rumah Allah untuk membaca Kitab Allah dan mengakajinya di antara mereka melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, rakhmat akan selalu menyelimuti mereka, para malaikat senantiasa mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di hadapan orang-orang yang ada di sisi-Nya”. ( H. R. Muslim dan Abu Dawud).

Fungsi Al-Qur`an
Al-Qur`an diturunkan Allah kepada manusia bukanlah tanpa tujuan. Al-Qur`an hadir di hadapan manusia untuk menjadi :
Hudan, petunjuk. Al-Qur`an hadir di hadapan manusia sebagai petunjuk dan arahan serta peta kehidupan. Sehingga dengan mengikuti petunjuk dan arahannya serta membaca petanya manusia bisa menjalani hidupnya dengan benar, sesuai dengan sang Pemberi Petunjuk, yaitu Allah swt. Allah berfirman :

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ.
Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. (Al-baqarah 2 : 2)

Sebagai tabyinan, penjelasan. Artinya Al-Qur`an hadir berfungsi sebagai penjelasan atas berbagai macam masalah dan persoalan, baik itu persoalan akidah, ibadah, mu’amalah maupun akhlak. Allah berfirman :

لَقَدْ أَنْزَلْنَا ءَايَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ.
Sesungguhnya Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (an-Nur 24 :46)
3. Sebagai Furqon, pembeda. Al-Qur`an datang berfungsi sebagai pembeda antara yang haq atau benar dan yang batil atau salah. Antara yang halal dan yang haram. Antara yang diperintahkan dan yang dilarang. Allah berfirman :

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah 2:185)
4. Sebagai rakhmat. Artinya Al-Qur`an hadir di hadapan manusia berfungsi sebagai bentuk kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya. Selain itu dengan membacanya akan menimbulkan rasa damai dan tentram dalam hati. Al-Qur`an berfirman :

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا.
Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (Al-Isra` 17 : 82)
5. Sebagai nuran, cahaya. Al-Qur`an juga berfungsi sebagai cahaya yang akan menerangi kehidupan pembacanya. Sehingga dengan cahaya Al-Qur`an tersebut dia akan terhindar dari kesesatan dan jalan kegelapan. Dengan bimbingan cahaya Al-Qur`an manusia akan mampu menempuh perjalanan menuju Allah dengan benar dan lurus. Allah berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا.
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). (an-Nisa` 4 : 174)
6. Sebagai syifa`, obat. Al-Qur`an berfungsi sebagai obat bagi para pembaca dan pengamalnya. Baik itu obat batin, yaitu obat yang akan menyembuhkan berbagai penyakit hati yang diderita manusia, seperti takabur, munafik, iri, dengki, ujub dan penyakit hati lainnya. Selain sebagai obat batin, Al-Qur`an juga berfungsi sebagai obat fisik. Dengan membaca ayat-ayat Al-Qur`an akan mampu menyembuhkan berbagai penyakit fisik.

Adab dan Etika Membaca dan Memahami Al-Qur`an
Untuk bisa menjadikan Al-Qur`an sebagai hudan, tabyin, furqon, rakhmat, nuran, dan syifa, ada beberapa adab dan etika yang mesti disiapkan dan dilakukan sebelum membaca Al-Qur`an. Adap dan etika tersebut antara lain :
Istiadzah, memohon perlindungan kepada Allah agar dalam membaca dan memahami Al-Qur`an tidak tergoda dan diselewengkan oleh bisikan setan. Sehingga pemahamannya terhadap ayat-ayat Allah bisa salah dan jauh dari kehendak dan maksud Allah berfirman :

فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. إِنَّهُ لَيْسَ لَهُ سُلْطَانٌ عَلَى الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. إِنَّمَا سُلْطَانُهُ عَلَى الَّذِينَ يَتَوَلَّوْنَهُ وَالَّذِينَ هُمْ بِهِ مُشْرِكُونَ.
Apabila kamu membaca Al Qur'an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan ini tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (syaitan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah. (an-Nahl 16 : 98-100)
Memohon izin kepada Allah dengan membaca basmalah agar diberikan kekuatan dan bimbingan serta kemudahan dalam memahami makna-makna Al-Qur`an. Dengan kekuatan dan bimbingan-Nya kita akan mampu menangkap dan memahami pesan Al-Qur`an dengan benar. Allah berfirman :

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا.
Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan." (Thaha 20 : 114)
3. Hatinya harus suci sehingga mampu menangkap pesan Al-Qur`an dengan jernih dan benar. Tidak hanya sekedar suci badan dengan cara berwudhu, tetapi yang lebih penting adalah suci batin dan bersihnya hati. Sebab tanpa kesucian batin dan bersihnya hati kita tidak akan mampu menyentuh dan menangkap makna sejati dari pesan Allah yang disampaikan dengan media Al-Qur`an. Allah berfirman :

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ.
tidak menyentuhnya (memahami makna sejati Al-Qur`an) kecuali hamba-hamba yang disucikan. (al-Waqi`ah 56 :79)
4. Membacanya dengan tartil, pelan-pelan, tenang, dan tidak terburu-buru, agar mampu memahami makna Al-Qur`an dengan tepat dan benar. Tartil bermakna membaca sesuai dengan tajwid yang benar. Allah berfiraman :

لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ. إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْءَانَهُ. فَإِذَا قَرَأْنَاهُ فَاتَّبِعْ قُرْءَانَهُ. ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ.
Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Qur'an karena hendak cepat-cepat (menguasai) nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya. (al-Qiyamah 75 : 16-19)
5. Berserah diri kepada Allah, tidak melibatkan ego dan hawa nafsu dalam memahami Al-Qur`an, tetapi membiarkan Allah yang menjelaskan firman dan tanda-Nya kepada kita. Karena membaca Al-Qur`an adalah aktivitas berkomunikasi dengan Allah, maka berikanlah waktu untuk Allah untuk berbicara dengan kita, untuk menjelaskan maksud dari firman-Nya. Allah berfirman :

قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ.
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Qur'an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (an-nahl 16 : 102)

MEMBUMIKAN AL-QUR`AN
Al-Qur`an adalah wahyu Allah terakhir kepada umat manusia. Kitab suci ini mengandung semua kunci untuk membuka pengetahuan Allah yang tidak terbatas (Q.S. Al-Kahfi 18:109). Al-Qur`an adalah petunjuk Allah. Allah berfirman, “Kitab Al-Quran ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertaqwa” (QS. Al-Baqarah 2: 2).
Dengan mempelajari Al-Quran, seseorang akan terlepas dari kebodohan dan kesesatan dalam mengarungi kehidupan ini. Dengan Al-Quran, hati akan lembut dan terhindar dari penyakit-penyakit hati atau ruhani. Dada akan senantiasa lapang dan luas dalam menerima petunjuk-petunjuk dan titah-titah ketuhanan. Akal pikiran menjadi cerdas dan terbebas dari kesesatan berpikir picik dan dangkal. Perilaku akan terhindar dari gerak jiwa yang dapat mendatangkan petaka dan kerugian bagi diri, orang lain maupun linkungannya. Seluruh aktivitas diri akan senantiasa terarah dari dan menuju kebenaran. Rasulullah Saw. bersabda : “Sebaik-baik manusia adalah siapa yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya kepada orang lain”. (H.R. Bukhari dari Utsman ibn `Affan Ra).
Al-Quran merupakan jaring yang ditebarkan oleh Yang Maha Tunggal untuk menarik kaum pria dan wanita yang tersesat di dalam dunia ini agar kembali kepada sumber Ilahi mereka. Al-Qur`an adalah peta dan petunjuk kehidupan. Hidup dalam sinaran petunjuk Al-Quran dan mematuhi ketentuan-ketentuannya merupakan kunci untuk mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan, baik di dunia maupun di akhirat.
Untuk bisa hidup dalam sinaran petunjuk Al-Quran, manusia haruslah melakukan iqra’. Iqra` terambil dari akar kata qara`a yang berarti “menghimpun”, sehingga tidak harus selalu diartikan “membaca teks tertulis dengan aksara tertentu”. Dari “menghimpun” lahir aneka ragam makna, seperti menyampaikan, menelaah, mendalami, meneliti, mengetahui ciri sesuatu , dan membaca, baik teks tertulis maupun tidak.
Melakukan iqra` terhadap Al-Quran berarti kita melakukan aktivitas membaca, menelaah, menganalisa, memahami, mendalami, menyelami, mengamalkan dan mengambil hikmah dalam kehidupan. Aktivitas ini merupakan perpaduan antara kinerja qalbu (hati) dan akal.
Membaca teks Al-Quran adalah aktivitas awal dan fondasi awal dalam melakukan iqra`. Aktivitas ini meliputi mengenal huruf Al-Quran dan cara mengucapkannya; cara membacanya, memanjangkan yang seharusnya dibaca panjang dan memendekkan yang seharusnya dibaca pendek (tajwid Al-Quran).
Aktivitas membaca teks yang sudah benar mengantarkan pembacanya untuk tahapan selanjutnya yaitu menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami Al-Quran. Aktivitas ini dimulai dengan mempelajari makna kata-kata Al-Quran, atau apa yang biasa disebut dengan belajar tarjamah Al-Quran. Setelah mengerti makna tiap-tiap kata dari ayat Al-Quran, maka langkah selanjutnya adalah mencoba menafsirkankan dengan bantuan atau rujukan kepada kitab-kitab tafsir yang ada sebagai upaya dari proses “menelaah, memahami, menganalisa, dan mendalami” Al-Quran.
Setelah proses pertama dan kedua selesai, maka proses ketiga adalah mengamalkan dan menjadikannya akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Proses ini sering disebut sebagai upaya untuk “membumikan” Al-Quran. Al-Quran tidak lagi hanya kumpulan teks atau firman Tuhan yang terdiri dari 30 Juz dan 114 Surah, tetapi merupakan sumber inspirasi dan pedoman hidup manusia dalam mengarungi kehidupan mereka. Al-Quran tidak lagi hanya sebagai ajaran yang melangit tetapi sudah membumi lewat umat Islam yang akhlak dan perilakunya sesuai dengan ajaran Al-Quran. Ketika Aisyah Ra ditanya para sahabat tentang akhlak Rasulullah Saw, Aisyah menjawab : “ Kaana khuluquhul Al-Quran, Bahwanya akhlak Rasulullah adalah Al-Quran”. Rasulullah adalah Al-Quran berjalan. Beliau adalah model paling ideal pengamal Al-Quran. Pada pribadi beliau ada uswatun hasanah, contoh atau teladan yang baik. Allah berfirman, “ Sungguh telah ada buat kalian pada pribadi Rasulullah Saw. teladan yang baik bagi orang yang mendambakan bertemu Allah dan hari akhir, dan yang banyak mengingat Allah” (Q.S. Al-Ahzab 33: 21).

Wallaahu a`lam bish shawwab
Semoga bermanfaat..






















Doa Al-Qur’an
{Dari Nabi Muhammad Saw diriwayatkan oleh Imam ‘Ali bin Abi Thalib as}

أللهم إني توكلت في غيبك وقلت بكتا بك فأرني ما هوالمكتوب في سرك المكنون
وغيبك المخزون أللهم أنت الحق أنزل الحق على الحق برحمتك يا أرحم الراحمين .

Allahumma innii tawakkaltu fii ghaibika
Wa qultu bikitaabika
Fa ariniy maa huwal maktuub
Fii sirrikal maknuun wa ghaibikal makhzuun
Allahumma antal Haqq
Anzilil Haqqa `alal Haqq
Birahmatika Ya Arhamar Rahimin.

Ya Allah, sesungguhnya aku bertawakal, kupasrahkan diri, jiwa dan ruhku kepada kelembutan-Mu, dan aku hanya berpikir, berkata, bersaksi dan bertingkahlaku dengan petunjuk kitab-Mu. Maka bukakanlah rahasia-rahasia kitab-Mu yang belum terungkap dan misteri kegaiban-Mu yang belum tersingkap.Ya Allah, Engkau Maha Benar turunkanlah kepada kami Kebenaran di atas Kebenaran, Dengan rahmat-Mu Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.



DOA SETELAH MEMBACA AL-QUR`AN

اللهم ارحمنى بالقران, واجعله لى اماما ونورا وهدى ورحمة.اللهم ذكرنى منه ما نسيت وعلمنى منه ما جهلت.وارزقنى تلاوته اناءالليل واناء النهار. واجعله لى حجة يا رب العالمين.

Allahummar hamniy bil Qur`an, waj`alhu liy imaama wa nuuran wa hudan wa rahmah, Allahumma dzakkirniy minhu maa nasiitu wa `alimniy minhu maa jahiltu, warzuqniy tilaawatahu anaa-al laili wa anaa-an nahaar. Waj`alhu liy hujjatan yaa rabbal `aalamiin.

Ya Allah, rahmatilah aku disebabkan oleh Al-Qur`an, jadikanlah Al-Qur`an sebagai imam, cahaya, petunjuk, dan rakhmat bagiku. Ya Allah ingatkan daku dari Al-Qur`an apa-apa yang aku lupakan, dan ajarkanlah kepadaku dari Al-Qur`an apa-apa yang aku tidak tahu. Anugerahkanlah kepadaku kesempatan untuk membaca, menelaah dan merenungkan serta mengamalkan Al-Qur`an di waktu malam dan siangku. Dan Jadikanlah Al-Qur`an sebagai Hujjah (argumen dan saksi) bagiku di akhirat kelak, wahai Tuhan semesta alam.




Indahnya Hidup Dengan Syukur

Indahnya Hidup dengan Syukur

Hidup manusia kadang dilalui dengan rutinitas yang seakan tidak akan pernah ada habisnya. Pergi pagi hari dan pulang di saat matahari telah tenggelam menjadi makanan aktivitas sehari-hari. Manusia seakan didorong oleh suatu kekuatan untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya dan jabatan setinggi-tingginya, karena “sistem” dunia masih melihat “kehebatan dan kemuliaan” seseorang disebabkan oleh seberapa banyak dia mengumpulkan kekayaan dan seberapa tinggi jabatan yang mereka raih.
Padahal bukankah kekayaan dan jabatan tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang secara batin, bahkan kadang kekayaan dan jabatan lebih banyak menggelincirkan manusia dari jalan Tuhan dan membuat mereka “terpenjara” oleh kekayaan dan jabatannya. Lebih-lebih, apabila jalan mendapatkan kekayaan dan jabatan tersebut didapat dengan cara-cara yang tidak fair, merugikan orang lain, menipu, manipulasi dan cara-cara batil lainnya. Kekayaan dan jabatan akan menjadi siksaan batin dan sumber bencana apabila manusia salah dalam mensikapinya.

Pintu-pintu Rezeki
Rezeki datang pada setiap yang hidup. Bakteri, virus, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia memperoleh rezeki dari Allah. Allah berfirman, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi kecuali semuanya dijamin Allah rezekinya”. (Hud 11: 6).
Tanpa ikhtiar, kita telah memperoleh rezeki dari Allah. Sejak spermatozoid berada di indung telur (ovum) sang ibu, tanpa ikhtiar ditumbuhkannya sperma itu menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging (embrio), dan akhirnya lahir sebagai seorang bayi. Allah menyiapkan air susu ibu sehingga sang bayi langsung bisa memperoleh rezekinya. Rezeki yang diperoleh tanpa ikhtiar sebagai mana contoh di atas disebut rezeki jatah dari Rabbul `Alamin.
Setelah rezeki jatah kita terima, ada rezeki yang hanya bisa diperoleh dengan ikhtiar. Rezeki ma`isyah (mata pencaharia) diperoleh dengan cara mendayagunakan instrumen yang lebih dahulu telah diberikan Allah. Akal, pikiran, perasaan, dan fisik adalah alat-alat dari Allah yang berguna untuk menggali rezeki yang tersimpan di semesta alam. Inilah rezeki yang harus kita sikapi dengan hati-hati. Sebab masalahnya bukan bagaimana kita berikhtiar meraih rezeki yang sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana kita berikhtiar memperoleh rezeki yang sebersih-bersihnya. Dengan cara yang sebersih mungkin, maka rezeki yang diperoleh tidak sekedar pemberian dari Allah, tetapi lebih daripada itu merupakan rakhmat dari Allah. Tidak semua rezeki adalah rakhmat Allah. Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagikan rakhmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rakhmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. ( al-Zuhruf 43: 32).
Setelah kita mengenal rezeki jatah dan rezeki ma`isyah, ada rezeki lain yang bersifat khusus, yaitu rezeki yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman, “ Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (al-Thalaq 65: 2-3).
Inilah rezeki yang ketika, yaitu rezeki yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Takwa berarti melakukan pengembangan lingkungan (transformasi sosial) di segala bidang dengan motivasi ibadah (mengabdi kepada Allah). Orang yang bertakwa berada dalam kesadaran hidup yang lebih tinggi daripada sekedar hidup untuk mencari rezeki (ma`isyah). Oleh karena itu, Allah berjanji hendak menurunkan rezeki kepada mereka dari arah yang tak disangka-sangka.
Jadi, jika orang yang bertakwa berikhtiar untuk memperoleh rezeki, dia memiliki kemungkinan mendapatkan rezeki melalui tiga pintu : jatah dari Allah, ma`isyah karena usahanya (berdagang, bertani, menjadi pegawai negeri atau swasta, dan pekerjaan yang lain), dan ditambah rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka. Mengapa kita mesti berkeluh kesah memikirkan rezeki? Allah berfirman, “ Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya”. (al-Thalaq 65 : 3).

Mensikapi Rezeki dan Nikmat
Al-Qur`an mengajarkan kepada manusia bagaimana mensikapi nikmat yang berupa kekayaan dan jabatan serta nikmat-nikmat yang menyenangkan lainnya. Hal yang mesti dilakukan pertama kali manusia adalah dengan bersyukur. Syukur adalah simbol dari terima kasih atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Tapi yang lebih penting dari itu, syukur adalah sebuah sikap batin bahwa kita mengakui bahwa kekayaan dan jabatan serta apa pun yang kita miliki sesungguhnya adalah karena karunia dan kasih sayang Allah, dan bukanlah semata-mata hasil karya dan usaha kita.
Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur dengan firman-Nya dalam Surat Ibrahim ayat 7 :
Waid ta-addana rabbukum, lain syakartum la-aziidannakum, walain kafartum inna `adaabiy lasyadiid.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memberitahukan , “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari, sungguh azab-Ku sangat keras”.
Betapa banyak nikmat yang Allah telah curahkan kepada kita semua. Bukankah oksigen yang kita hirup setiap saat adalah pemberian gratis Allah yang sangat bernilai harganya, dan itu baru kita rasakan kalau kita sakit dan butuh bantuan oksigen. Ternyata satu tabung oksigen harus kita beli dengan harga yang tidak murah. Bukankah kesehatan yang kita rasakan, juga merupakan anugerah besar dari-Nya, dan itu baru kita insafi kalau kita dalam keadaan sakit. Begitu juga panca indera kita yang semuanya berfungsi. Bayangkan kalau kita tidak bisa melihat dan mendengar, betapa terbatasnya apa yang bisa kita lakukan dan betapa susahnya menjalani hidup. Belum lagi nikmat dan anugerah yang berupa keluarga dan anak-anak yang baik, harta yang kita miliki dan nikmat-nikmat yang lain. Bahkan tidur pun merupakan karunianya yang tiada tara, karena betapa tersiksanya kalau kita tidak bisa tidur untuk waktu yang lama. Dan yang paling berharga tentunya, nikmat iman dan Islam, yang Allah telah tanamkan ke dalam hati kita. Begitu banyaknya rahmat dan nikmat Allah, sehingga kita tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya. Allah berfirman : “ Wain ta`udduu ni`matallaahi, laa tuhsuuhaa (Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya)” (Surat Ibrahim 14 : 34).
Melihat dan menyadari begitu banyaknya nikmat yang telah kita terima dari Allah, maka hal yang mesti dan wajib kita lakukan adalah mensyukurinya. Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya`la dari Abu Khabab, dari Atha` yang berkata, “Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah radiyallahu `anha (semoga Allah meridhainya) dan kami berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada diri Rasulullah? Aisyah menangis dan bertanya, “Adakah yang beliau lakukan yang tidak mengagumkan? Suatu malam beliau datang kepadaku, dan kami tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa lama, beliau berkata : ”Wahai putri Abu Bakar, izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada Tuhanku. Aisyah menjawab, “Saya senang berdekatan dengan Anda, tapi aku mengizinkannya. Kemudian Nabi bangun, pergi ke kantong air dan berwudhu, lalu salat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku` dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal
[1] datang dan memanggil beliau untuk salat subuh. Bilal bertanya kepada Nabi, “Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasul Allah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang? Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?.[2] Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.” (Q.S. Al Baqarah 2: 164). Melihat betapa pentingnya perintah bersyukur ini, Rasulullah pernah berkata kepada Mu`adz bin Jabal (salah seorang sahabatnya), “Demi Allah wahai Mu`adz, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lupa mengucapkan setiap habis salat,
Allahumma a`inniy, `ala dzikrika, wasy syukrika, wa husni `ibaadatik
“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.
Kalau saja kita mau merenung sejenak, maka terlihatlah bahwa begitu banyak nikmat dan karunia telah Allah berikan kepada kita, sampai-sampai tidak ada celah lagi bagi kita untuk tidak mengakuinya atau mendustakannya. Keluarga yang sakinah, anak-anak yang saleh dan salehah, kekayaan, kesehatan, iman dan islam yang telah Allah curahkan kepada kita. Semuanya merupakan karunia-Nya yang tiada ternilai harganya. Allah pun menciptakan bumi dan langit beserta segala isinya semuanya untuk kita, manusia. Semenjak bangun tidur sampai kita tidur kembali penuh dengan nikmat dan karunia Allah. Tapi terkadang kita sering melupakan dan mengingkarinya. Allah berfirman, Fabi ayyi `aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan ( Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan). Firman Allah dalam Surat Ar-Rahman ini diulang sampai 31 kali untuk mempertegas betapa banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada kita dan betapa kita sering mengingkarinya. Di dalam Surah As-Saba` 34 ayat 13 Allah pun menegaskan bahwa, “Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur”.
Perintah Allah untuk mensyukuri nikmat pada hakikatnya merupakan bentuk lain dari nikmat Allah dan kemurahan-Nya kepada hamba. Sebab sesungguhnya syukur bukan untuk Allah, tetapi manfaatnya kembali kepada hamba yang bersyukur, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam Surah Luqman 31 ayat 12, “Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri”.

Sendi-Sendi Syukur
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Madarijus Salikin
[3] (Pendakian Menuju Allah) mengatakan bahwa syukur itu haruslah dilandaskan kepada lima sendi :
1. Mengakui nikmat-Nya. Artinya orang yang menerima nikmat berupa kesuksesan, kekuasaan, harta, kesehatan dan nikmat-nikmat lainnya mengakui bahwa semua kesuksesan, kekuasaan, harta dan lainnya adalah semata-mata karunia Allah dan tidak boleh diakui sebagai hasil dari usaha dan jerih payahnya semata. Aisyah radiyallahu `anha berkata “ Tanda orang yang bersyukur adalah minimal dia mengakui bahwa apa yang dia peroleh adalah berasal dari Allah”. Contohlah Nabi Sulaiman yang ketika mendapatkan nikmat mengatakan “ Haadaa min fadli rabbiy, liyabluwaniy a-asykuru am akfur (Ini adalah karunia dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau inkar)”
[4]. Dan janganlah mencontoh seperti apa yang diucapkan oleh Qorun[5] ketika mendapatkan banyak kekayaan, dia mengatakan, “Qaala innamaa uutiituhu, `ala `ilmin `indiy (Sesungguhnya semua yang kumiliki ini adalah karena ilmu dan usahaku sendiri”).[6] Ini adalah contoh orang yang kufur nikmat dan durhaka kepada Allah.
2. Memuji-Nya karena nikmat itu. Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang yang mendapatkan nikmat adalah menyampaikan pujian kepada Pemberi nikmat (Allah) sebagai simbol dari pengakuan dan rasa terima kasih. Kalimat pujian ini biasanya yang paling sederhana adalah mengucapkan alhamdulillahi rabbil `alamiin (segala puji bagi Allah Tuhan penguasa alam semesta raya). Dalam do`a kita sehari-hari pun biasanya dimulai dengan pujian kepada Allah, misalnya Doa sesudah makan “Alhamdulillaahil ladzi ath-`amanaa, wa saqaanaa, waja-`alnaa minal muslimiin (Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan telah menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang telah berserah diri kepada-Mu).
[7] Dalam do`a ketika bangun tidur pun juga begitu, kita dianjurkan membaca “ Alhamdulilaahil ladzi ahyaanaa, ba`da maa amaa-tanaa, wa ilayhin nusuur (Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menghidupkan kami, setelah mematikan (menidurkan) kami. Dan kepada-Nya pula kami akan kembali).”[8]
3. Orang yang bersyukur harus tunduk kepada yang memberi nikmat, yaitu Allah. Artinya syukur kita dianggap benar apabila kita tunduk dan patuh serta taat kepada semua ketentuan Allah, baik perintah dan larangan-Nya. Dengan cara kita menjalankan semua perintah-Nya dan menjahui semua larangan-Nya. Allah berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 2 : 21).
Kandungan Surat Al-Baqarah ayat 21 ini Allah memerintahkan keseluruhan manusia, tanpa kecuali, bahwa mereka hanya boleh mengabdikan hidup mereka di dunia ini hanya kepada Allah, Rabb `alamiin, yang telah menciptakan, memelihara, mendidik, dan menyempurnakan manusia serta memenuhi segala keperluan dan perangkat agar tercapainya sebuah hakikat pengabdian. Keperluan dan perangkat tersebut meliputi potensi yang ada pada diri mereka yaitu bentuk fisik yang sempurna, akal, nafs, qalbu atau hati dan ruh, maupun perangkat yang ada di luar diri manusia yang berupa bumi dan langit dan segala yang ada di antara keduanya, yang kesemuanya memang Allah telah sediakan dan tundukkan buat “melayani” dan “memungkinkan” manusia bisa secara maksimal melakukan pengabdian (baca : ibadah).
Muhammad Zuhri dalam bukunya Hidup Lebih Bermakna, memberikan tafsir yang menarik dan orisinil ketika menjelaskan makna Al-Hamdulillahi rabbil `alamin.
Beliau menulis, dalam melakukan manajerial terhadap alam semesta, Allah memberikan semua sarana yang dibutuhkan oleh umat manusia. Sarana itu berupa potensi yang ada di dalam diri maupun potensi yang ada di luar diri. Potensi di dalam diri berupa panca indra, akal pikiran, hati nurani, ketrampilan, dan sebagainya. Potensi di luar diri ialah alam struktural dengan segenap potensi yang ada di dalamnya. Kedua potensi tersebut jika diinteraksikan akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sanggup mengungkapkan sumber daya alam untuk kesejahteraan umat manusia. Inilah sifat rahmaniyyah Allah yang diberikan kepada umat manusia.
Di samping melimpahkan potensi yang ada di dalam diri dan di luar diri (yang lahir dari sifat rahmaniyyah), Allah juga memberikan teknis atau cara mendayagunakan semua pemberiaan-Nya melalui sifat rahimiyyah. Dengan demikian, kita mendapatkan keefektifan yang lebih bernilai dalam menjangkau cita-cita tertinggi kita, yaitu menggapai ridha Allah yang berakhir dengan jannah al-na`im ( surga maha nikmat). Sebab jika sarana yang diberikan melalui sifat rahmaniyyah tidak disertai sifat rahiimiyyah, niscaya kita akan sesuka hati dalam mendayagunakan potensi-potensi itu. Akibatnya, kita bisa menjadi liar dan anarkis.
Di samping Allah memberikan semua sarana dan teknis pendayagunaan melalui sifat rahmaniyyah dan rahimiyyah, Allah juga melakukan pengawasan melalui sifat maalikiyyah. Dialah Raja yang mengawasi ketika seseorang menempuh hari-harinya sebagai “hari agama” (yaum al-din). “Hari agama” bukanlah hari akhirat atau hari pembalasan (yaum al-ba`ts). “ Hari agama” adalah hari-hari khusus yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan perjalanan kepada Tuhan. Hari-hari tersebut merupakan momen religi, hari-hari pendekatan kepada Tuhan—yang orang-orang kafir tidak memilikinya.
Dalam proses menempuh waktu, kita diawasi. Dialah raja yang memimpin dan mengawasi kita. Bahkan Dia tidak hanya sekedar mengawasi, tetapi juga memberikan penghargan, pahala, bonus (meluaskan rezeki, memberikan fadhilah, keutamaan) manakala kita dinilai baik dalam pengawasan-Nya. Sebaliknya, ketika Tuhan tidak berkenan, Dia tidak segan-segan memberikan peringatan, sangsi, bahkan pidana atau hukuman. Inilah maalikiyyah Allah.
Dengan demikian, Allah telah mengatur alam semesta ini dengan cara terbaik dan adil; memberikan sarana yang cukup (rahmaniyyah), memberikan teknis atau cara pendayagunaan sarana tersebut (rahiimiyyah), melakukan pengawasan, kontrol, bonus, dan sanksi (maalikiyyah). Ketiga hal itulah yang membuat Allah hamd (terpuji) dan karenanya pengabdian hanya layak ditujukan kepada-Nya.
4. Tidak menggunakan nikmat itu untuk sesuatu yang dibenci-Nya. Hendaknya kita menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang diperintahkan Allah dan dicintai serta diridhai-Nya, dan bukannya sebaliknya, kita gunakan nikmat Allah untuk maksiat, durhaka dan segala hal yang dibencinya. Kalau kita diberi nikmat penglihatan oleh Allah, maka hendaklah kita melakukan puasa melihat dengan cara kita menahan diri untuk tidak melihat sesuatu yang dibenci, yang dicela, dan segala hal yang yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Allah memerintahkan agar orang beriman menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (Surat An-Nur 24 :30). Nabi bersabda: ” Pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk oleh Allah. Barang siapa menjaga pandangannya, semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan memberinya merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya” (Hadis rirawat al-Hakim)
[9]. Terlalu banyak melihat akan menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak terpuaskan. Para psikolog mengukur kekecewaan dengan membandingkan “want” dengan “get”. Jika yang Anda dapatkan dan peroleh lebih sedikit dari yang Anda inginkan, Anda akan mengalami kekecewaan. Makin tinggi keinginan Anda, makin besar kemungkinan Anda kecewa. Dan sumber keinginan banyak berasal dari apa yang Anda lihat. Kalau kita diberi nikmat Lisan, maka hendaknya kita Puasa bicara. Yaitu dengan menahan lisan kita dari perkatan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami dan segala perkataan yang bisa membuat sesama kita menjadi bingung, resah, gelisah dan sakit hati. Padahal Nabi telah bersabda ”Al-Muslimu man salimal muslimun min lisaanihi wa yadihi (Orang Islam adalah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya agar tidak menyakiti orang lain) (hadis riwayat Bukhori Muslim)”. Dengan puasa bicara, Allah akan memperdengarkan kepada manusia dengan sangat jernih suara hati nurani mereka. Lewat hati, yang merupakan taman dan rumah Allah dalam diri manusia yang beriman, Allah menyampaikan hidayah atau petunjuk-Nya. Dan karena terlalu banyak bicara, kita tidak lagi sanggup mendengar suara Tuhan dalam hati nurani kita. Kita menjadi tuli, karena terlalu bising mendengarkan suara-suara lain selain seruan Tuhan.
5. Orang yang bersyukur harus mencintai-Nya. Tanda orang yang bersyukur adalah ia harus lebih mencintai Allah dari pada selain-Nya. Kecintaanya kepada pekerjaan, kekayaan, kekuasaan, dan keluarga serta hal-hal lain selain Allah, tidak boleh mengalahkan kecintaanya kepada Allah. Kecintaannya kepada selain Allah tidak boleh melalaikan kewajibannya kepada Sang Pemberi Nikmat dan karunia. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 165 : “ Waminan naasi, may yattakhidzu min duunillaahi andaadan, yuhibbuunahum kahubbillah, walladiina aamanuu, asyaddu hubban lillaah ( Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal seharusnya orang yang beriman adalah orang yang sangat cintai kepada Allah)”. Bukankah dalam salat, kita selalu mengikrarkan bahwa hanya menjadikan Allah satu-satunya tujuan kita menyembah dan satu-satunya tempat kita memohon pertolongan (iyya kana`budu, wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).

Begitu juga harta yang kita miliki, hendaknya kita gunakan untuk membantu sesama dengan cara banyak infaq, sedekah dan berbagi; kekuasaan yang sedang kita genggam, hendaklah kita gunakan untuk memakmurkan dan mensejahterahkan orang atau rakyat yang kita pimpin dan hal-hal lain yang dicintai oleh Allah.
Ibn `Athaillah mengatakan dalam kitab al-Hikamnya : “Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan barang siapa mensyukurinya, berati telah secara kuat mengikatnya”. Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, dan akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam (biasa) hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur baik ketika memperoleh nikmat atau pun tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur Ilahi (cahaya Tuhan) tidak memedulikan nikmat maupun penderitaan, karena mereka melihat karunia dan rahmat Allah di balik semua penampakan dan pengalaman.

Ekspresi Syukur
Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah (penyaksian) dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan. Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum 'arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap-Nya di dalam semua perilaku mereka.
Abu Bakr al Warraq berkata, "Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah (kesaksian) terhadap anugerah tersebut dan menjaga penghormatan." Dikatakan, "Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik-Nya. Dan taufiq-Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga."
Dikatakan, "Bersyukur adalah menisbatkan (mengembalikan) anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan." Al-Junayd mengatakan, "Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat." Dikatakan, "Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada." Dikatakan, "Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi." Dikatakan juga, "Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan." Dikatakan, "Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda."
Al-Junayd menjelaskan, "Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, 'Wahai anakku, apakah bersyukur itu?' Aku menjawab, 'Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.' Ia mengatakan, 'Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak'!" Al-Junayd mengatakan, 'Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu." Asy-Syibly menjelaskan, "Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri."
Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, "Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?" Allah mewahyukan kepadanya, "Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku."
Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, "Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?" Allah Menjawab, "Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku."
Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, "Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!" Sahl berkata, "Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid dan keimananmu, apa yang akan engkau perbuat?".
Dikatakan, "Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya."
Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, "Coba, yang tua-tua dulu berbicara! " Mendengar itu si pemuda berkata, "Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda." Maka Umar berkata, "Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, "Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan." Maka Umar pun bertanya kepadanya, "Lantas, siapa kalian ini?" Ia menjawab, "Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang."




Tingkatan Syukur
Menurut pengarang kitab Manazilus Sa`irin (Tingkatan-tingkatan Perjalanan Spiritual) Abu Ismail Al-Harawy, syukur ada tiga derajat atau tingkatan.
Mensyukuri hal-hal yang disukai. Ini merupakan syukur yang bisa dilakukan oleh siapa pun, baik orang beriman maupun tidak. Karena memang pada dasarnya manusia akan dengan mudah berterima kasih kalau apa yang dia inginkan terpenuhi atau mendapatkan sesuatu yang dia sangat sukai. Makanya syukur dengan model yang seperti ini merupakan derajat syukur yang terbawah.
Syukur karena mendapatkan sesuatu yang dibenci. Syukur derajat ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak terpengaruh oleh berbagai keadaan, dengan tetap memperlihatkan keridhaan atau kerelaan, atau dilakukan oleh orang yang bisa membedakan berbagai macam keadaan, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memperlihatkan etika atau adab, dan mengikuti jalan ilmu. Orang yang bersyukur model inilah yang pertama kali dipanggil masuk surga. Syukur ini memiliki derajat lebih tinggi karena lebih berat dan sulit dilakukan. Dan karenanya tidak bisa dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua golongan : Pertama, seseorang yang tidak membedakan berbagai macam keadaan. Dia tidak peduli apakah sesuatu yang diterima dan dihadapinya itu disukai atau dibenci, dia tetap bersyukur atas keadaannya, dengan menampakkan keridhaan dan kerelaan atas apa yang diterima dan dihadapinya. Kedua, orang yang bisa membedakan berbagai macam keadaan. Pada dasarnya dia tidak menyukai sesuatu yang dibenci dan tidak ridha jika hal itu menimpanya. Tetapi seandainya hal yang tidak disukainya benar-benar menimpanya, dia akan tetap bersyukur kepada Allah. Cara bersyukurnya ialah dengan cara menahan amarah, tidak berkeluh kesah, memperhatikan adab dan ilmu. Sebab ilmu dan adab menyuruh kepada Allah, baik dalam keadaan sempit atau lapang, dalam keadaan senang maupun susah. Hal ini akan lebih mudah dilakukan kalau dilandasi khusnudz dzan (berbaik sangka) terhadap Allah dan menyakini bahwa apa pun yang Allah berikan pasti ada hikmahnya dan tidak sia-sia. Allah berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan boleh jadi kalian mensukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. (Al-Baqarah 2 : 216)
Hamba tidak melihat kecuali Sang Pemberi nikmat. Jika dia mempersaksikan-Nya karena penghambaan dan pengabdian , maka dia menganggap nikmat dari Allah itu amat agung. Ini seperti seorang hamba yang berada di hadapan tuannya, maka mereka lupa kemuliaan dirinya, memperhatikan dengan hikmat dan seksama ke arah tuannya, dan lupa memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Keadaan seperti ini banyak dilihat dalam pertemuan di hadapan raja umpamanya. Orang yang memiliki kesaksian seperti ini, apabila mendapatkan nikmat dari raja, maka dia menganggap dirinya terlalu kerdil dan kecil untuk menerimanya, namun hatinya tetap dipenuhi dengan rasa cinta kepada raja atau tuannya. Adapun jika dia mempersaksikan-Nya karena cinta, maka kesusahan akan terasa manis baginya. Bagi mereka, dengan energi cinta, yang berat menjadi ringan, yang pahit terasa manis.

Wallaahu a`lam bish shawwab
[1] Bilal adalah sahabat Nabi yang merupakan orang yang pertama masuk Islam dari kalangan budak. Setelah dia masuk Islam beliau mengabdikan dirinya dengan cara sebagai muadzin (orang yang memanggil salat).
[2] Imam al-Qusyairy an-Naisabury, Risalatul Qusyairiyah, Surabaya :Risalah Gusti, Cet. Ke-2,1997, hal. 194.
[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin, Pendakian Menuju Allah, Jakarta :Pustaka al-Kautsar, 1998, hal.273
[4] Surat an-Naml 27: 40
[5] Qarun adalah orang yang sangat kaya yang hidup pada zaman Nabi Musa, tapi kekayaannya membuat dia lupa akan pemberi kekayaan yaitu Allah. Bahkan dia menganggap bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri dan tidak ada campur tangan dan urusannya dengan Tuhan. Maka Allah kemudian mengazabnya dengan memasukkan dia ke dalam bumi beserta semua kekayaan yang dia miliki. Dari peristiwa inilah kemudian ada istilah harta karun (hartanya Qarun).
[6] Surat al-Qashash 28:78
[7] Abu Ahmad Muhammad Naufal, Doa-Doa Mustajab, Jogjakarta: Mitra Pustaka, Cet. Ke-3, 1998, hal. 282
[8] Ibid, hal. 232
[9] Imam al-Ghazali, Ibadah Perspektif Sufistik, Surabaya: Risalah Gusti, Cet. Ke 1, 1999, hal . 78