KONSEP AL-QUR`AN TENTANG MANUSIA
Dalam Al-Qur`an ada tiga istilah kunci yang mengacu pada makna pokok manusia. Tiga istilah kunci tersebut adalah: Basyar, Insan dan An-Nas. Di samping itu ada istilah unas yang mengacu pada kosa kata anasiy, insiy dan ins, sebagaimana diungkap dalam Al-Qur`an Surat Al-Baqarah 2:60; Al-A`raf:82; Al-Ma`arij 70:160; Al-Isra` 17:71; dan An-Naml 27:56). Istilah unas menunjukan pada kelompok atau golongan manusia. Al-Qur`an surat Al-Baqarah ayat 60, misalnya, menggunakan istilah unas untuk menunjukan ada dua belas golongan pada Bani Israel. Selanjutnya anasiy disebut dalam Al-Qur`an sebanyak satu kali, yaitu pada Surat Al-Furqan 25 ayat 49. Anasiy adalah bentuk jamak dari insan, dengan mengganti nun dengan ya atau boleh jadi juga bentuk jama` dari insiy. Sementara ins dalam Al-Qur`an disebut sebanyak 18 kali ( Al-An`am 6:112,128,130; Al-A`raf 7:38,179; Al-Isra` 17:1,17,27; Fushilat 41:25,29; Al-Ahqaf 46:18,51,56; Ar-Rahman 55:23,29,56,74; dan Al-Jin 72:5,6) dan kerapkali dihubungkan dengan kata jin sebagai hubungan kata-kata manusia yang mukallaf (obyek dari perintah dan larangan Allah).
Kata-kata Basyar dalam Al-Qur`an disebut sebanyak 36 kali. Kata-kata basyar dalam seluruh ayat tersebut menunjuk kepada manusia sebagai makhluk biologis. Hal ini dapat dilihat dari ucapan Maryam yang berbunyi: “Tuhanku, bagaimanan aku mungkin dapat mempunyai anak, padahal tak pernah ada manusia (basyar) yang menyentuhku” (Ali Imran 3:47).
Kata-kata basyar kemudian dihubungkan dengan kata-kata mitslukum (seperti kalian) sebanyak 7 kali, dan dengan kata-kata mitsluna (seperti kita) sebanyak 6 kali. Nabi Muhammad sendiri misalnya berulang kali menyebut dirinya secara biologis sebagai basyar. Surat An-Nisa` 4:6 dan Al-Kahfi 18:110, misalnya, menyatakan: ”Katakanlah, aku ini manusia biasa (basyaran) seperti kalian, hanya saja aku diberi wahyu”. Secara singkat dapat disebutkan bahwa konsep basyar selalu dihubungkan dengan sifat biologis manusia yang memerlukan makan, minum, hubungan seksual dan lain sebagainya.
Selanjutnya mengenai kata-kata insan, disebutkan dalam Al-Qur`an sebanyak 65 kali. Kata-kata insan ini dapat dikelompokkan dalam tiga katagori: Pertama, insan dihubungkan dengan keistimewaanya sebagai khalifah atau penanggung atau pengemban amanah Allah di muka bumi. Kedua, insan dihubungkan dengan predisposisi negatif dalam diri manusia, dan Ketiga, insan dihubungkan dengan proses penciptaanya. Semua konteks insan ini menunjuk kepada manusia dengan seluruh totalitasnya, jiwa dan raga, fisik dan spiritual.
Pada kategori pertama, manusia dilihat dari keistimewaanya sebagai wujud yang berbeda dengan hewan. Surat Al-`Alaq 96 ayat 4 dan 5 misalnya menyebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang diberi ilmu. “Dialah yang mengajari manusia dengan pena dan mengajarkan apa yang belum diketahuinya”. Manusia diberi kemampuan untuk mengembangkan ilmu dengan daya nalarnya. Karena itu, kata-kata insan berkali-kali dihubungkan dengan kata nazhar. Ayat 86 Surat Al-A`raf (7) menyuruh manusia merenung, memikirkan, menganalisa dan mengamati perbuatannya (me-nazhar), dan mengamati tentang proses terbentuknya makanan sejak siraman air hujan sampai menjadi buah-buahan (`Abasa 80:24-36), dan mengamati kejadian mereka sendiri (At-Thariq 86:4-5).
Sebagai pemikul amanah (Al-Ahzab 33:72), maka insan dalam Al-Qur`an juga dihubungkan dengan konsep tanggungjawab ( Al-Qiyamah 75:36; Ya siin 36:75; Qaf 50:16). Ia diwasiatkan agar berbuat baik (Al-Ankabu 29:8; Lugman 31:14; Al-Ahqaf 46:15), amalnya akan dicatat dengan cermat untuk kemudian diberi balasan yang sesuai dengan apa yang dikerjakannya itu (An-Najm 53:39).
Dalam berbakti kepada Tuhan, insan dipengaruhi oleh lingkungannya. Bila diuji dengan musibah, ia cenderung menyembah Allah dengan ikhlas. Sebaliknya bila ia mendapat keuntungan, ia cenderung sombong, takabur atau bahkan musyrik ( Yunus 10:12; Hud 11:9, Al-Isra` 17:67,83; Az-Zumar 39:8,49; Fushilat 41:51,95; Asy-Syuura 42:48; dan Al-Fajr 89:15).
Pada kategori berikutnya, kata-kata insan dihubungkan dengan predisposisi negatif, diantaranya sifat zhalim dan kufur (Ibrahim 14:34; Hajj 22:66; Az-Zukhruf 43:15), tergesa-gesa (Al-Isra` 17:11; Al-Anbiya` 21:37), bakhil atau kikir (Al-Isra` 17:110), bodoh (Al-Ahzab 33:72), banyak membantah (Al-Kahfi 18:54, An-Nahl 16:4, Ya siin 36:77), resah, gelisah, dan segan membantu (Al-Ma`arij 70:19-21), ditakdirkan untuk bersusah payah dan menderita (Al-Insyiqaq 84:6, Al-Balad 90:4), tidak berterima kasih (Al-`Adiyat 100:6), berbuat dosa (At-Taubah 9:6, Al-Qiyamah 75:5), meragukan kiamat dan hari akhirat (Maryam 19:66), dan sebagainya.
Bila dihubungkan dengan sifat-sifat manusia pada kategori pertama, insan menjadi makhluk paradoksal, yaitu makhluk yang selalu berada dalam posisi berjuang mengatasi konflik antara dua kekuatan yang saling bertentangan, yaitu kekuatan untuk memegang fitrah (cenderung kepada kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah) dan memikul amanah ( Ar-Rum 30:30, Al-A`raf 7:172) dengan kekuatan untuk mengikuti predisposisi negatifnya (As-syams 91:8-10). Manusia adalah tempat bertarungnya kekuatan Ilahi (ketuhanan) dengan kekuatan nasuti (sifat dasar manusia yang cenderung menjauh dari kebenaran dan Tuhan). Antara taqwa dan fujur atau antara kebaikan dengan kejahatan dan kedurhakaan (Asy-Syams 91:8-10).
Adapun kategori ketiga dikaitkan dengan proses kejadian manusia. Kejadian manusia ditampilkan dalam Al-Qur`an sebagai wujud yang amat erat berkaitan dengan tanah. Al-Qur`an Surat Nuh 71 ayat 17-18 misalnya menyebutkan : ”Dan Allah menumbuhkan kamu sebagai suatu tumbuhan dari tanah, dan kemudian Dia akan mengembalikanmu kepada-tanah dan Dia akan mengeluarkan kamu (dibangkitkan) dengan sesungguhnya”.
Kata-kata tanah sebagaimana terdapat dalam Al-Qur`an terkadang memakai kata ardun, turabin, salsalin (tanah lempung) hamaim-masnun, sulalat (sari pati). Semuanya menunjukkan unsur materi. Di samping unsur materi, terdapat pula unsur non materi yaitu ruhani sebagaimana ditunjukkan oleh Al-Qur`an Surat Al-Hijr 15:28-29: “ Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah kering dari tanah hitam yang diberi bentuk. Maka apabila Aku telah menyempurnakannya dan meniupkan ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya dengan bersujud (menghormat)”. Jadi manusia adalah makhluk fisik atau jasmani dan juga makhluk ruhani atau spiritual.
Konsep kunci kata-kata yang ketiga adalah An-Nas, yang mengacu kepada manusia sebagai makhluk sosial. Istilah inilah yang paling banyak disebut dalam Al-Qur`an yaitu sebanyak 240 kali. Banyak ayat yang menunjukkan kelompok sosial dengan karateristiknya. Ayat-ayat itu lazimnya memakai ungkapan “wa minannasi” (dan diantara sebagian manusia) misalnya ayat 8 Surat Al-Baqarah (2) : ”Dan diantara sebagian manusia yang menyatakan dirinya beriman, tetapi sebetulnya mereka tidak beriman”.
Potensi Manusia
Al-Qur`an menyatakan bahwa manusia dimuliakan dibanding dengan kebanyakan makhluk-makhluk yang lain (Al-Isra` 17:70) . Manusia berbeda dengan makhluk-makhluk Allah yang lain karena manusia mempunyai potensi-potensi yang sangat sempurna, dibandingkan dengan makhluk yang lain, yang hanya diberikan sebagian potensi. Potensi-potensi manusia tersebut antara lain:
1. Jasmani atau Raga
Allah menginformasikan dalam firman-Nya bahwa Dia menciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baik penciptaan (At-Tin 95:4). Allah mengelurkan manusia dari perut ibunya tidak mengetahui sesuatu, lalu Allah melengkapinya dengan pendengarkan, penglihatan dan hati, supaya dapat bersyukur (An-Nahl 16:78; Al-Insan 76:2-3).
2. `Aql
Kata `aql (akal) tidak ditemukan dalam Al-Qur`an, yang ada adalah bentuk kata kerja. Al-Qur`an menjelaskan bahwa konteks ayat-ayat yang menggunakan akar kata `aql dapat dipahami sebagai : Pertama, daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu, seperti firman Allah dalam Surat Al-Ankabut 29 ayat 43 : ”Demikianlah perumpamaan-perumpamaan yang Kami berikan kepada manusia, tetapi tidak ada yang memahaminya (ya`qiluha) kecuali orang-orang alim (berpengetahuan)”. Kedua, dorongan moral, seperti firman Allah : ”Dan janganlah kalian mendekati perbuatan-perbuatan keji, baik yang nampak atau tersembunyi. Dan jangan kalian membunuh jiwa yang diharamkan Allah melainkan dengan alasan yang benar. Demikian itu diwasiatkan Tuhan kepadamu, semoga kamu memiliki dorongan moral untuk meninggalkannya (ta`qiluun) (Al-An`am 6:151)”. Ketiga, daya untuk mengambil pelajaran dan kesimpulan serta hikmah. Untuk maksud ini biasanya digunakan kata rusyd. Daya ini menggabungkan kedua daya di atas, sehingga ia mengandung daya memahami, daya menganalisis, dan menyimpulkan, serta dorongan moral yang disertai dengan kematangan berfikir.
Al-Qur`an dan hadis Nabi menempatkan akal sebagai sesuatu yang sangat berharga dalam diri manusia. Oleh sebab itu, akal biasa pula dipertentangkan dengan nafsu. Akal senantiasa membawa kepada pertimbangan yang berakhir positif, sementara nafsu adalah keinginan tanpa pertimbangan, yang membawa kepada kehancuran.
3. Nafs
Kata Nafs dalam Al-Qur`an mempunyai aneka makna, sekali diartikan sebagai totalitas manusia (Al-Maidah 5:32), dilain kali ia menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan tingkah laku seperti maksud firman Allah “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan satu masyarakat, sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri mereka (anfusihim)” (Al-Ra`d 13:11). Secara umum dapat dikatakan bahwa nafs dalam konteks pembicaraan tentang manusia, menunjuk kepada sisi dalam manusia yang berpotensi baik dan buruk. Dalam pandangan Al-Qur`an, nafs diciptakan Allah dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan. Allah berfirman “Demi nafs serta penyempunaan ciptaan, Allah mengilhamkan kepadanya kefasikan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang-orang yang mensucikan nafsnya. Dan sungguh merugi orang yang mengotorinya (Asy-Syams 91:7-10)”. Al-Qur`an juga mengisyaratkan keaneragaman nafs serta peringkat-peringkatnya. Secara eksplisit disebutkan tentang nafs ammarah bissu` (nafsu yang masih liar, nafsu ini selalu mengajak kepada kejahatan (Yusuf 12 :53). Orang yang nafsnya masih ammarah biasanya mereka menjadikan hawa nafs sebagai tuhannya (Al-Jasiyah 45:23); nafs lawwamah (nafs ini sudah mulai menyadari kesalahan-kesalahannya, karena mulai menyadari akan adanya hari perhitungan di akhir zaman (Al-Qiyamah 75:1-5), mereka mulai bisa menahan keinginan nafsnya disebabkan rasa takut akan kebesaran Tuhannya (An-Naziat 79:40-41) dan nafs muthmainah (nafs ini benar-benar sudah tenang karena telah dirahmati Tuhannya, dikarenakan keistiqamahan (konsisten dan kontinyu) manusia dalam beribadah, khusu` hatinya dan selalu bersegera dalam kebaikan (Fushilat 41:30; Al-Mukminun 23:57), dan nafs muthmainnah inilah yang dipanggil Tuhannya di akhirat kelak untuk kembali kepada-Nya dengan ridha dan diridai (Al-Fajr 89:27-30).
4. Qalb
Kata qalb terambil dari akar kata yang bermakna membalik, kembali, maju-mundur, naik turun, berubah-ubah. Kata ini digunakan untuk menamai bagian dalam dari manusia yang menjadi sentral diri manusia itu sendiri, yang kita terjemahkan hati. Penamaan demikian, karena ada kaitannya dengan sifat hati itu sendiri yang menjadi lokus (tempat) kebaikan dan kajahatan, kebenaran dan kesalahan, di mana ia sering berubah-ubah, bolak-balik, maju-mundur dalam menerima kebaikan dan kejahatan, sekali senang sekali susah, sekali setuju sekali menolak. Jadi Qalb amat berpotensi untuk tidak konsisten. Al-Qur`an pun menggambarkan demikian, ada yang baik, ada pula sebaliknya. Dari Surat Qaf 50:37; Al-Hadid 57:27; Ali Imran 3:151; dan Al-Hujurat 49:7, terlihat bahwa kalbu adalah wadah dari pengajaran, kasih sayang, takut, dan keimanan. Al-Qur`an juga menginformasikan bahwa ada qalb yang disegel : “Allah telah mengunci mati hati mereka” (Al-Baqarah 2:7), sehingga wajar jika Al-Qur`an menyatakan bahwa ada kunci-kunci penutup kalbu (Muhammad 47:24). Wadah qalb dapat diperbesar, diperkecil atau dipersempit. Al-Qur`an mengatakan, “Mereka itulah yang diperluas hatinya untuk menampung takwa” (Al-Hujurat 49:3). Dan “Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatan, Dia menjadikan dada (qalb)nya sempit lagi sesak (Al-An`am 6:125)”. Hati dapat diperlebar dengan cara selalu mensucikannya, mengingat Tuhan (zikir), ikhlas dalam beribadah, memuliakan syiar Allah dan hanya berlindung kepada Allah (Asy-Syams 91:10; Ar-Ra`d 13:28; Hajj 22:31 dan Al-Isra` 17:65).
Al-Ghazali ketika mencoba menjelaskan pengertian qalb, terlebi dahulu membuat dua kategori qalb. Pertama, qalb dalam pengertian fisik, yaitu segumpal daging sebagai organ tubuh yang terletak pada bagian kiri rongga dada, dan merupakan sentral peredaran darah; dimana darah itu pula yang membawa kehidupan. Al-Ghazali mengatakan, hati dalam kategori pertama ini adalah hati biologis yang menjadi objek kajin para ahli kesehatan.
Kedua, qalb dalam pengertian lathifah rabbaniyyah ruhaniyyah, `sesuatu yang halus, yang memiliki sifat ketuhanan dan keruhanian. Dengannya kita merasa sedih, duka, kesal, gembira, kagum, hormat, benci, marah, cinta, dan sebagainya. Jika fisik kita memiliki indra lahir, maka ruhani memiliki indra batin. Dengan indra batin inilah kita melihat yang tak dapat dilihat oleh penglihatan lahir, mendengar yang tak dapat terdengar oleh pendengaran lahir, dan seterusnya. Jika indra lahir menghadap kepada dunia material, indra batin menghadap kepada dunia metafisik atau spiritual. Orang yang senantiasa mensucikan batinnya, niscaya hatinya akan bersih dan indra batinnya akan lebih tajam. Kebeningan hati menyebabkan hilangnya kabut-kabut penghalang (hijab) antara hamba dan Tuhannya, yang disebut kasyf, sehingga sang hamba dapat menyaksikan Tuhan dengan mata batinya (musyahadah) dan merasa tenggelam dalam hadirat ketuhanan.
Hati dalam kategori kedua inilah yang menjadi fokus pandangan Tuhan, sebagaimana disebutkan Al-Qur`an, ”Tidak ada dosanya jika kamu berbuat salah, kecuali jika hatimu menyengaja.” (Al-Ahzab 33: 5). Dalam hadis Nabi saw. Disebutkan, ”Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk dan tubuhmu, tetapi Dia memperhatikan hati dan perbuatanmu.” (H.R. Muslim). Tuhan hanya memperhatikan hati, karena hati itulah yang menjadi hakikat manusia. Karakter seseorang berbeda dengan yang lain karena hatinya berbeda. Perbedaan itu pula yang menyebabkan perbedaan manusia dalam laku-perbuatannya, dan selanjutnya akan membedakan peringkat manusia di hadapan Tuhannya.
5. Ruh
Berbicara tentang ruh, kata ini seakar dengan kata rih, yang berarti angin. Disebut ruh yang ada dalam jasad manusia dengan sebutan demikian karena halusnya laksana angin, tetapi dapat dirasakan. A-Qur`an mengungkapkan kata ruh dalam lima pengertian, yakni : Malaikat (Ruh al-Qudus), wahyu, rahmat Allah, kenabian, hidup atau kehidupan.
Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim diceritakan bahwa sekelompok orang Yahudi saling berdebat tentang ruh, lalu mereka bertanya kepada Nabi Muhammad saw.. Tidak lama berselang turunlah ayat, “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah, “Ruh itu adalah urusan Tuhan-ku, kamu tidak diberi ilmu kecuali sedikit (Al-Isra` 17:85)”.
Meski ayat di atas mengisyaratkan keterbatasan pemahaman manusia tentang ruh, bukan berarti ruh itu tidak boleh dikaji, hanya saja, kata Sachico Murata, ruh itu tidak dapat didefinisikan, namun pengetahuan diskursif tentang sifat-sifat dalam kenyataannya diberikan oleh pengalaman manusia dan teks-teks wahyu. Ruh tidak dapat didefinisikan karena tidak memiliki ukuran, tidak dapat diindra, tidak dapat dibagi-bagi. Ringkasnya, ia bersifat transenden. Jadi manusia tidak akan tahu hakehat ruh, manusia hanya diberi ilmu yang sedikit, yang dengannya bisa mengetahui gejala-gejalanya.
Di kalangan sufi, ruh tidak mereka definisikan, tetapi mereka melihatnya dari sisi bahwa ruh adalah alat bagi manusia dalam berhubungan dengan Tuhan. Ketika berbicara tentang ruh, Al-Ghazali dalam Ihya` `Ulum al-Din, membicarakannya dalam konteks hubungan dengan Tuhan. Untuk itu, Al-Ghazali membagi ruh menjadi dua kategori. Pertama, ruh yang berhubungan dengan jasad. Ruh ini erat hubungannya dengan jantung, di mana ia beredar bersama peredaran darah, sehingga kalau detak jantung sudah berhenti, maka berakhir pulalah ruh ini. Ruh dalam kategori ini pula yang menjadi sumber pengindraan, dia adalah laksana cahaya yang melimpah dari sebuah pelita ke segenap penjuru rumah. Ruh dalam kategori ini, menurut Al-Ghazali, bukan tujuan kita. Akan tetapi, ruh yang menjadi sasaran tasawuf ialah ruh sebagai al-lathifah al-`alimah al-mudrikah min al-insan (sesuatu yang halus, yang memungkinkan mengetahui dan mempersepsi, yang terdapat dalam diri manusia).
Ruh dalam kategori pertama adalah pemberi hayat atau kehidupan bagi tubuh. Sedangkan ruh dalam kategori kedua adalah pemberi makna dalam kehidupan manusia. Inilah yang terungkap dalam puisi Sa`di :
Jasad manusia mulia karena ruhnya
Tubuh yang indah bukanlah tanda kemanusiaan
Jika manusia itu (disebut) manusia
Karena mata, telinga, atau lidahnya
Maka apa bedanya
Antara manusia dan gambar manusia di dinding
Meski tak terpisah dari tubuh, ruh diciptakan bukan seasal dan tidak sama dengan tubuh. Inilah yang tersirat dalam firman Allah, ” “Dan ingatlah ketika Tuhanmu menjadikan keturunan Adam dari tulang punggung mereka, dan Allah menganbil kesaksian atas diri mereka : Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: betul, kami menjadi saksi (bersyahadah).(Al-A`raf 7: 172). Dengan demikian, sejak awal penciptaanya ruh telah memiliki pengetahuan tentang Tuhan. Akan tetapi, pengetahuan ini tertutup ketika ruh menyatu dengan jasad, tertutup oleh tabiat-tabiat jasadi yang menariknya ke asal usul jasad. Jasad diciptakan dari materi tanah. Karena itu, memiliki sifat-sifat ketanahan yang senantiasa akan jatuh ke bawah, kasar, kotor, dan sifat-sifat rendah lainnya. Berbeda dengan ruh, karena ia berasal langsung dari Ruh Mutlak, maka ia senantiasa rindu untuk kembali kepada asalnya, Tuhan.
Jadi, ruh bersifat ilahiah dan senantiasa rindu kepada kesucian. Puncak kesucian itu sendiri ialah Tuhan Yang Maha Suci. Dengan demikian, puncak kerinduan ruh adalah bertemu dengan Zat Yang Maha Suci. Dengan demikian, ruh merupakan motor penggerak dalam pendekatan diri kepada Tuhan. Bahkan, menurut kaum sufi, ruh adalah penggerak ke arah kebaikan pada umumnya. Kecintaan ruh kepada Tuhan telah melahirkan suatu hasrat dan daya yang terarah kepada satu titik, yakni Tuhan sebagai Kebaikan Mutlak.