27 Juli 2009


MENGENAL RASULULLAH

Dunia mengalami krisis keteladanan. Dunia berada pada titik “kejahiliyahan” baru. Manusia tidak lagi mampu membedakan mana yang haq dan mana yang batil. Krisis moral melanda hampir di semua lini kehidupan, termasuk di kalangan pemimpin, intelektual, bahkan di kalangan agamawan. Manusia mengalami “amnesia” spiritual, tercerabut dari fitrahnya. Manusia teralineasi, terasing dari dirinya sendiri yang sejati. Al-Qur`an menggambarkan krisis ini sebagai kebodohan (jahilillah) :

أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ.
“Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun.” (An-Nur 24 : 40).
Untuk bisa keluar dari krisis “jahiliyyah” baru ini, manusia haruslah mencari “cahaya” Ilahi yang akan memberikan peta jalan dan bimbingan untuk bisa terbebas dari kegelapan. Cahaya Ilahi tersebut adalah Al-Qur`an dan pengamal Al-Qur`an yang paripurna adalah Rasulullah saw. Maka mengenal Rasulullah menjadi sebuah keniscayaan.

Maulid Nabi
Peringatan maulid (kelahiran) Nabi saw. hendaknya tidak berhenti pada seremonial belaka, melainkan haruslah dijadikan momentum untuk mengenal Rasulullah lebih dekat lagi. Pengenalan ini akan melahirkan kecintaan kepada beliau, yang diwujudkan dengan menjadikan beliau living model dan teladan, dengan cara menghidupkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mengikuti teladan Nabi merupakan bukti kecintaan kita kepada Allah swt.

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ.
“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran 3 : 31)

Muhammad adalah teladan terbaik. Allah sendiri telah memberikan “jaminan” bahwa pada diri Rasulullah Saw. terdapat uswah hasanah, teladan yang baik :

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”(Al-Ahzab 33 : 21).

Di ayat yang lain, Allah lebih mempertegas dengan firman-Nya :

وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ.
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Al-Qalam 68 :4)

Keagungan akhlak Nabi tidak hanya diakui oleh umatnya saja, tetapi orang-orang non muslim pun juga mengakuinya. Micheal H. Hart bahkan menempatkan Rasulullah di urutan teratas dari 100 tokoh dunia yang paling berpengaruh (Rangking of 100 most Influential Person in History). Karen Armstrong pun menulis biografi Muhammad dan mengakui keagungan akhlaknya, walaupun dia sendiri seorang Nasrani. George Bernard Shaw dalam bukunya Whither Islam mengatakan : “Saya telah meramalkan keyakinan yang dibawa Muhammad, bahwa keyakinan baru itu akan dapat diterima hari esok. Saya telah melakukan studi atas Muhammad, orang yang sangat mengagumkan dan menurut saya, ia jauh dari memusuhi Kristen, dia mestinya disebut sebagai Juru Penyelamat Manusia (Saviour of Humanity). Anni Besant pun menyatakan kekagumannya. Dalam bukunya The Life and Teaching of Muhammad dia berkata : “Tidak mungkin bagi seseorang yang mempelajari kehidupan dan karakter Nabi Besar asal Arab ini, merasakan yang lain kecuali kekaguman (penghormatan) kepada guru hebat asal Arab itu.”. Barnaby Rogerson dalam bukunya The Prophet Muhammad juga mengagumi akhlak Rasulullah.
Namun sayangnya tidak semua umatnya mampu melihat keagungan dan kebaikan akhlak Rasulllah. Mereka lebih senang menjadikan banyak tokoh yang tidak mendapatkan “jaminan” dari Allah integritas moralnya sebagai panutan. Manusia menjadi korban model baju, rambut, cara bicara, bahkan cara berprilaku para idolanya.
Keagungan akhlak Rasulullah hanya bisa dilihat oleh orang yang hanya mengharapkan (kemuliaan dan ridha di sisi) Allah dan mempersiapkan dirinya untuk kehidupan akhirat dan banyak mengingat (berdzikir) Allah, baik ketika berdiri, duduk maupun berbaring (dalam semua keadaan). Mereka akan berada pada frekwensi yang sama dengan akhlak Nabi, sehingga bisa melihat keagungan akhlak Nabi dan tidak merasa berat untuk menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Adapun seperti apakah akhlak Rasulullah, Aisyah ketika ditanya para sahabat bagaimana akhlak Nabi menjawab : kaana khuluquhul qur`an, sesungguhnya akhlaknya (Nabi) adalah Al-Qur`an. (H.R. Muslim dan Abu Dawud). Rasulullah adalah Al-Qur`an berjalan. Semua perkataan, perbuatan dan penetapannya adalah Al-Qur`an. Beliau membumikan Al-Qur`an dalam semua aspek kehidupannya.
Di bawah ini akan coba dipaparkan beberapa akhlak dan teladan Rasulullah yang dapat dijadikan contoh bagi umatnya.
Rasulllah sebagai hamba Allah :
Rasulullah adalah seorang hamba Allah yang paling ikhlas dan “mewakafkan” hidupnya untuk-NYA.
Beliau tidak pernah berbicara karena nafsunya, tetapi semata-mata hanya menyampaikan wahyu Allah. (An-Najm 53 : 3-4)
Selalu shalat malam. Rasulullah melakukan shalat malam sehingga kedua kakinya bengkak. Beliau juga tidak senang bila ada orang yang berjalan di belakangnya. (H. R. Bukhori Muslim)
Tidak pernah meninggalkan puasa senin kamis dan ayamul bidh

Rasulullah sebagai suami, Bapak, dan kakek :
Beliau mempersonifikasikan peran dari ayah dan suami yang sempurna. Dia sangat baik dan toleran terhadap istri-istrinya sehingga mereka tidak bisa membayangkan hidup tanpa dirinya, dan mereka tidak ingin hidup jauh darinya.
Rasulullah adalah suami yang sangat baik dan lembut, dan tidak pernah bertindak kasar terhadap istrinya.
Nabi bermusyawarah dengan istri-istrinya. Rasulullah pernah minta pendapat kepada Ummu Salama tentang Perjanjian Hudaibiyah yang mengecewakan dan memicu kemarahan kaum muslimin, karena salah satu isinya adalah mereka tidak dapat melakukan haji pada tahun itu.
Rasulullah sangat demokratis terhadap istri-istrinya. Ketika istrinya yang menginginkan kehidupan yang makmur bertanya :” Bisakah kami hidup dengan lebih mewah, seperti perempuan muslim lainnya? Bisakah kami paling tidak memiliki semangkuk sup setiap hari, atau beberapa baju yang lebih indah? Setelah mendengar permintaan mereka Rasulullah pergi untuk menyendiri. Dalam penyendiriannya beliau berkesimpulan bahwa : “Aku tidak bisa memberikan apa yang mereka inginkan.”Akhirnya, Nabi memberi pilihan kepada istri-istrinya untuk tetap bersamanya atau meninggalkannya. Allah berfirman :

يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ إِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا فَتَعَالَيْنَ أُمَتِّعْكُنَّ وَأُسَرِّحْكُنَّ سَرَاحًا جَمِيلًا. وَإِنْ كُنْتُنَّ تُرِدْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ فَإِنَّ اللَّهَ أَعَدَّ لِلْمُحْسِنَاتِ مِنْكُنَّ أَجْرًا عَظِيمًا.

“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: "Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut`ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik di antaramu pahala yang besar. “(Al-Ahzab 33 : 28-29)
Dan Allah pun menegaskan bahwa :

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا.
“Hai isteri-isteri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (Al-Ahzab 33 : 32)
· Rasulullah adalah suami yang luar biasa, ayah yang sempurna dan kakek yang istimewa. Anas bin Malik, yang menjadi pelayan Rasululah selama 10 tahun mengatakan : “Aku tidak pernah melihat seorang pria yang lebih sayang kepada anggota keluarganya selain Muhammad.” (H.R. Muslim).
· Rasulullah mencintai anak-anak dan cucunya, mendidik mereka menuju akhirat, ke dunia keindahan abadi, dan kepada Allah. Ketika beliau melihat Fatimah mengenakan kalung, beliau bertanya : “Apakah engkau ingin penduduk bumi dan langit mengatakan bahwa putriku menggunakan rantai dari neraka”. Lalu Fatimah segera menjual kalung itu, membeli dan membebaskan seorang budak. (H.R. Nasa’i)

Rasulullah sebagai guru/Pembimbing

uqèd “Ï%©!$# y]yèt/ ’Îû z`¿Íh‹ÏiBW{$# Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Ftƒ öNÍköŽn=tã ¾ÏmÏG»tƒ#uä öNÍkŽÏj.t“ãƒur ãNßgßJÏk=yèãƒur =»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur bÎ)ur (#qçR%x. `ÏB ã@ö6s% ’Å"s9 9@»n=Ê &ûüÎ7•B ÇËÈ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”(Al-Jumu’ah 62 : 2).
Dalam mendidik beliau memperhatikan semua potensi manusia : Membacakan ayat-ayat (akal), mensucikan mereka (hati), mengajarkan kitab ( akal ) dan hikmah (emosi dan spiritual).
Beliau mendidik dengan contoh, lisanul hal afshahu min lisanul maqal

Rasulullah sebagai pedagang
seorang pedagang yang jujur. Umur 12 tahun Nabi sudah magang kepada pamannya Abu Thalib. Umur 17 tahun menjadi bussines manager. Umur 20 tahun menjadi Invesment manager. Umur 25 tahun menjadi owner. Dan umur 37 tahun sudah mencapai tahap “financial freedom”.

Rasulullah sebagai panglima perang
Nabi tidak pernah menyerang, semua perang yang terjadi zaman Nabi (27 X) karena mempertahankan diri.

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ.
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”(Al-Baqarah 2 : 190)
Dalam perang Nabi selalu melindungi perempuan, anak-anak dan orang yang sudah lanjut usia.



Nabi sebagai Rakhmat Semesta Alam
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Al-Anbiya 21 : 107)
Dia menaungi orang Mukmin dengan sayap kelembutannya melalui rakhmatnya (15:88), dan penjaga kaum Mukmin dan lebih dekat kepada mereka dari pada mereka sendiri (33:6). Ketika seorang sahabat meninggal, dia bertanya kepada para pelayat apakah orang itu punya hutang. Ketika mengetahui dia punya hutang, maka mengumumkan bahwa para kreditur harus datang kepada dirinya untuk pembayaran hutang. (H.R. Bukhori Muslim).
Kasihnya bahkan meliputi kaum munafik dan kafir. Dia tahu siapa saja yang munafik, namun tak pernah menyebut mereka, karena hal itu akan menyebabkan mereka kehilangan hak kewarganegaraan yang mereka dapatkan melalui kesaksian dan praktek iman lahiriyah mereka.
Kasihnya bahkan meliputi hewan. Rasulullah marah ketika para sahabat mengambil anak-anak burung dari sarangnya. (H.R. Abu Dawud). Ibn Abbas melaporkan bahwa ketika Rasulullah melihat seorang pria mengasah pisaunya hanya sebentar saja sebelum menyembelih seekor domba, Rasul bertanya : “Apakah engkau ingin membunuhnya berkali-kali.” (H.R. Hakim). Rasulullah pun menegur Pemilik unta yg tidak memberi makan dengan sepantasnya sehingga untanya sangat kurus.

Kelembutan dan Kesabaran Nabi

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ.
“Sesungguhnya telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mu'min.” (At-Taubah 9 : 128)
Rasulullah tidak memarahi orang-orang yang menuruti keinginan mereka sendiri dan para pemanah yang meninggalkan posnya pada peristiwa perang Uhud. Sebaliknya, dia malah menunjukkan kemurahan hati :
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma`afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Ali Imran 3:159).
Rasulullah tak pernah marah kepada siapa saja karena apa-apa yang dilakukan mereka terhadap dirinya. Ketika istrinya Aisyah difitnah, dia tidak ingin menghukum si penfitnah meskipun namanya telah dibersihkan oleh Al-Qur`an. Suku Badui serinkali berprilaku tak sopan kepadanya, tetapi dia tidak pernah cemberut kepada mereka. Meskipun sangat sensitive, dia selalu menunjukkan kesabaran kepada kawan dan lawan.
Saat membagi rampasan perang setelah perang Hunayn, Dhu al-Huwaysira keberatan : “Berlaku adillah wahai Muhammad.! Inilah adalah penghinaan yang tak termaafkan, karena Nabi diutus untuk menegakkan keadilan. Karena tak kuasa menahan amarah atas kelancangan itu, Umar minta izin untuk membunuh “orang munafik” tersebut saat itu juga. (H.R. Bukhrori Muslim).
Rasulullah pun mengampuni seorang perempuan Yahudi yang ingin meracuninya lewat domba panggang setelah penaklukan Khaybar. (H.R. Bukhori). Nabi juga bersabar ketika seorang Badui menarik kerah bajunya dan berkata denga kasar : “Hai Muhammad! Berikan hakku! Muati dua untaku. Tanpa menunjukkan rasa tersinggung, dia berkata kepada sahabat : “Berikan apa yang dia minta.” (H. R. Abu Dawud dan Nasa’i).

Kedermawanan Nabi
Rasulullah suka membagi apa saja yang dia punyai. Dia ikut dalam perdagangan sampai menjadi Nabi, dan banyak mendapatkan kekayaan. Setelah itu, dia dan istrinya yang kaya membelanjakan segala sesuatu di jalan Allah. Ketika Khadijah meninggal dunia, tidak ada uang untuk membeli kain kafan. Rasulullah harus meminjam uang untuk memakamkan istrinya, orang pertama yang memeluk Islam dan sekaligus pendukung utamanya. (Ibn Katsir, Al-Bidaya)
Rasulullah tidak pernah menolak permintaan. Ketika seorang Yahudi datang dan meminta sesuatu kepada Rasulullah, Rasulullah memenuhi permintaanya. Orang Badui itu meminta lagi, dan Rasulullah tetap memberikan apa yang dimintanya sampai ia tidak punya apa-apa lagi. Ketika orang Badui itu meminta lagi, dia berjanji akan memberikannya kalau sudah punya. (Ibn Katsir,al-Bidaya).

Kesederhanaan Nabi
· Aisyah melaporkan bahwa Rasulullah menjahit bajunya, memperbaiki sepatunya dan membantu istrinya mengerjakan pekerjan rumah tangga. (H.R. Tirmidzi)
· Rasulullah tidak pernah menganggap dirinya lebih besar ketimbang siapa pun. Hanya wajahnya yang bersinar dan menarik itulah yang membedakannya dari para sahabat. Dia hidup dan berpakaian seperti orang paling miskin dan duduk dan makan bersama mereka, seperti yang dia lakukan dengan para budak dan hamba sahaya.
· Suatu ketika saat Nabi sedang melayani sahabatnya, seorang Badui datang dan berteriak : “siapa tuan dari orang ini?” Rasulullah menjawab dengan menjelaskan prinsip substansial dari ajaran kepemimpinan Islam : “Pemimpin umat adalah orang yang melayani mereka.” Ali berkata bahwa di antara orang-orang itu Rasulullah adalah salah seorang di antaranya.
· Ketika Rasulullah dan Abu Bakar mencapai Quba saat hijrah ke Madinah, beberapa orang Madinah yang tak mengenal rupa sang Nabi berusaha mencium tangan Abu Bakar. Satu-satunya tanda eksternal yang membedakan Nabi dari orang lain adalah bahwa Abu Bakar tampak lebih tua dibanding Rasulullah.
· Umar pernah melihat Nabi berbaring di atas tikar yang kasar, dan karenanya ia menangis. Ketika Rasulullah bertanya mengapa ia menangis, Umar menjawab : “Ya Rasulullah, saat raja-raja tidur di atas ranjang bulu yang empuk, engkau berbaring di atas tikar yang kasar. Engkau adalah Rasulullah, dan pantas mendapatkan kehidupan yang nyaman ketimbang orang lain.” Nabi menjawab : “Tidakkah engkau setuju bahwa kemewahan dunia adalah milik mereka, dan kemewahan akhirat adalah milik kita. (H.R. Bukhari Muslim)

Tidak ada komentar: