27 Juli 2009

Indahnya Hidup Dengan Syukur

Indahnya Hidup dengan Syukur

Hidup manusia kadang dilalui dengan rutinitas yang seakan tidak akan pernah ada habisnya. Pergi pagi hari dan pulang di saat matahari telah tenggelam menjadi makanan aktivitas sehari-hari. Manusia seakan didorong oleh suatu kekuatan untuk mendapatkan kekayaan sebanyak-banyaknya dan jabatan setinggi-tingginya, karena “sistem” dunia masih melihat “kehebatan dan kemuliaan” seseorang disebabkan oleh seberapa banyak dia mengumpulkan kekayaan dan seberapa tinggi jabatan yang mereka raih.
Padahal bukankah kekayaan dan jabatan tidak akan menjamin kebahagiaan seseorang secara batin, bahkan kadang kekayaan dan jabatan lebih banyak menggelincirkan manusia dari jalan Tuhan dan membuat mereka “terpenjara” oleh kekayaan dan jabatannya. Lebih-lebih, apabila jalan mendapatkan kekayaan dan jabatan tersebut didapat dengan cara-cara yang tidak fair, merugikan orang lain, menipu, manipulasi dan cara-cara batil lainnya. Kekayaan dan jabatan akan menjadi siksaan batin dan sumber bencana apabila manusia salah dalam mensikapinya.

Pintu-pintu Rezeki
Rezeki datang pada setiap yang hidup. Bakteri, virus, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia memperoleh rezeki dari Allah. Allah berfirman, “Dan tidak satu pun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi kecuali semuanya dijamin Allah rezekinya”. (Hud 11: 6).
Tanpa ikhtiar, kita telah memperoleh rezeki dari Allah. Sejak spermatozoid berada di indung telur (ovum) sang ibu, tanpa ikhtiar ditumbuhkannya sperma itu menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging (embrio), dan akhirnya lahir sebagai seorang bayi. Allah menyiapkan air susu ibu sehingga sang bayi langsung bisa memperoleh rezekinya. Rezeki yang diperoleh tanpa ikhtiar sebagai mana contoh di atas disebut rezeki jatah dari Rabbul `Alamin.
Setelah rezeki jatah kita terima, ada rezeki yang hanya bisa diperoleh dengan ikhtiar. Rezeki ma`isyah (mata pencaharia) diperoleh dengan cara mendayagunakan instrumen yang lebih dahulu telah diberikan Allah. Akal, pikiran, perasaan, dan fisik adalah alat-alat dari Allah yang berguna untuk menggali rezeki yang tersimpan di semesta alam. Inilah rezeki yang harus kita sikapi dengan hati-hati. Sebab masalahnya bukan bagaimana kita berikhtiar meraih rezeki yang sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana kita berikhtiar memperoleh rezeki yang sebersih-bersihnya. Dengan cara yang sebersih mungkin, maka rezeki yang diperoleh tidak sekedar pemberian dari Allah, tetapi lebih daripada itu merupakan rakhmat dari Allah. Tidak semua rezeki adalah rakhmat Allah. Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagikan rakhmat Tuhanmu? Kamilah yang menentukan penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memanfaatkan sebagian yang lain. Dan rakhmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. ( al-Zuhruf 43: 32).
Setelah kita mengenal rezeki jatah dan rezeki ma`isyah, ada rezeki lain yang bersifat khusus, yaitu rezeki yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman, “ Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”. (al-Thalaq 65: 2-3).
Inilah rezeki yang ketika, yaitu rezeki yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa. Takwa berarti melakukan pengembangan lingkungan (transformasi sosial) di segala bidang dengan motivasi ibadah (mengabdi kepada Allah). Orang yang bertakwa berada dalam kesadaran hidup yang lebih tinggi daripada sekedar hidup untuk mencari rezeki (ma`isyah). Oleh karena itu, Allah berjanji hendak menurunkan rezeki kepada mereka dari arah yang tak disangka-sangka.
Jadi, jika orang yang bertakwa berikhtiar untuk memperoleh rezeki, dia memiliki kemungkinan mendapatkan rezeki melalui tiga pintu : jatah dari Allah, ma`isyah karena usahanya (berdagang, bertani, menjadi pegawai negeri atau swasta, dan pekerjaan yang lain), dan ditambah rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka. Mengapa kita mesti berkeluh kesah memikirkan rezeki? Allah berfirman, “ Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya”. (al-Thalaq 65 : 3).

Mensikapi Rezeki dan Nikmat
Al-Qur`an mengajarkan kepada manusia bagaimana mensikapi nikmat yang berupa kekayaan dan jabatan serta nikmat-nikmat yang menyenangkan lainnya. Hal yang mesti dilakukan pertama kali manusia adalah dengan bersyukur. Syukur adalah simbol dari terima kasih atas apa yang telah dianugerahkan Allah kepada kita. Tapi yang lebih penting dari itu, syukur adalah sebuah sikap batin bahwa kita mengakui bahwa kekayaan dan jabatan serta apa pun yang kita miliki sesungguhnya adalah karena karunia dan kasih sayang Allah, dan bukanlah semata-mata hasil karya dan usaha kita.
Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur dengan firman-Nya dalam Surat Ibrahim ayat 7 :
Waid ta-addana rabbukum, lain syakartum la-aziidannakum, walain kafartum inna `adaabiy lasyadiid.
“Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memberitahukan , “Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Kami akan menambah nikmat kepada kalian, dan jika kalian mengingkari, sungguh azab-Ku sangat keras”.
Betapa banyak nikmat yang Allah telah curahkan kepada kita semua. Bukankah oksigen yang kita hirup setiap saat adalah pemberian gratis Allah yang sangat bernilai harganya, dan itu baru kita rasakan kalau kita sakit dan butuh bantuan oksigen. Ternyata satu tabung oksigen harus kita beli dengan harga yang tidak murah. Bukankah kesehatan yang kita rasakan, juga merupakan anugerah besar dari-Nya, dan itu baru kita insafi kalau kita dalam keadaan sakit. Begitu juga panca indera kita yang semuanya berfungsi. Bayangkan kalau kita tidak bisa melihat dan mendengar, betapa terbatasnya apa yang bisa kita lakukan dan betapa susahnya menjalani hidup. Belum lagi nikmat dan anugerah yang berupa keluarga dan anak-anak yang baik, harta yang kita miliki dan nikmat-nikmat yang lain. Bahkan tidur pun merupakan karunianya yang tiada tara, karena betapa tersiksanya kalau kita tidak bisa tidur untuk waktu yang lama. Dan yang paling berharga tentunya, nikmat iman dan Islam, yang Allah telah tanamkan ke dalam hati kita. Begitu banyaknya rahmat dan nikmat Allah, sehingga kita tidak akan pernah mampu untuk menghitungnya. Allah berfirman : “ Wain ta`udduu ni`matallaahi, laa tuhsuuhaa (Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, tidaklah kalian dapat menghitungnya)” (Surat Ibrahim 14 : 34).
Melihat dan menyadari begitu banyaknya nikmat yang telah kita terima dari Allah, maka hal yang mesti dan wajib kita lakukan adalah mensyukurinya. Diriwayatkan oleh Yahya bin Ya`la dari Abu Khabab, dari Atha` yang berkata, “Aku bersama Ubaid bin Umair mengunjungi Aisyah radiyallahu `anha (semoga Allah meridhainya) dan kami berkata kepadanya, “Ceritakanlah kepada kami sesuatu yang paling mengagumkan yang Anda lihat pada diri Rasulullah? Aisyah menangis dan bertanya, “Adakah yang beliau lakukan yang tidak mengagumkan? Suatu malam beliau datang kepadaku, dan kami tidur hingga tubuh beliau bersentuhan dengan tubuhku. Setelah beberapa lama, beliau berkata : ”Wahai putri Abu Bakar, izinkanlah aku bangun untuk beribadah kepada Tuhanku. Aisyah menjawab, “Saya senang berdekatan dengan Anda, tapi aku mengizinkannya. Kemudian Nabi bangun, pergi ke kantong air dan berwudhu, lalu salat. Beliau mulai menangis hingga air matanya membasahi dadanya, kemudian beliau ruku` dan terus menangis, lalu sujud dan terus menangis, lalu mengangkat kepala dan terus menangis. Terus menerus beliau dalam keadaan demikian sampai Bilal
[1] datang dan memanggil beliau untuk salat subuh. Bilal bertanya kepada Nabi, “Apakah yang menyebabkan Anda menangis wahai Rasul Allah, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda, baik yang terdahulu maupun yang akan datang? Beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?.[2] Bagaimana aku tidak akan menangis sedangkan Allah telah menurunkan ayat ini kepadaku: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya siang dan malam, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang diturunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau menggunakan akal.” (Q.S. Al Baqarah 2: 164). Melihat betapa pentingnya perintah bersyukur ini, Rasulullah pernah berkata kepada Mu`adz bin Jabal (salah seorang sahabatnya), “Demi Allah wahai Mu`adz, aku benar-benar mencintaimu. Maka janganlah engkau lupa mengucapkan setiap habis salat,
Allahumma a`inniy, `ala dzikrika, wasy syukrika, wa husni `ibaadatik
“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur atas nikmat-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu”.
Kalau saja kita mau merenung sejenak, maka terlihatlah bahwa begitu banyak nikmat dan karunia telah Allah berikan kepada kita, sampai-sampai tidak ada celah lagi bagi kita untuk tidak mengakuinya atau mendustakannya. Keluarga yang sakinah, anak-anak yang saleh dan salehah, kekayaan, kesehatan, iman dan islam yang telah Allah curahkan kepada kita. Semuanya merupakan karunia-Nya yang tiada ternilai harganya. Allah pun menciptakan bumi dan langit beserta segala isinya semuanya untuk kita, manusia. Semenjak bangun tidur sampai kita tidur kembali penuh dengan nikmat dan karunia Allah. Tapi terkadang kita sering melupakan dan mengingkarinya. Allah berfirman, Fabi ayyi `aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan ( Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan). Firman Allah dalam Surat Ar-Rahman ini diulang sampai 31 kali untuk mempertegas betapa banyak nikmat-Nya yang diberikan kepada kita dan betapa kita sering mengingkarinya. Di dalam Surah As-Saba` 34 ayat 13 Allah pun menegaskan bahwa, “Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur”.
Perintah Allah untuk mensyukuri nikmat pada hakikatnya merupakan bentuk lain dari nikmat Allah dan kemurahan-Nya kepada hamba. Sebab sesungguhnya syukur bukan untuk Allah, tetapi manfaatnya kembali kepada hamba yang bersyukur, baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman dalam Surah Luqman 31 ayat 12, “Dan barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri”.

Sendi-Sendi Syukur
Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam bukunya Madarijus Salikin
[3] (Pendakian Menuju Allah) mengatakan bahwa syukur itu haruslah dilandaskan kepada lima sendi :
1. Mengakui nikmat-Nya. Artinya orang yang menerima nikmat berupa kesuksesan, kekuasaan, harta, kesehatan dan nikmat-nikmat lainnya mengakui bahwa semua kesuksesan, kekuasaan, harta dan lainnya adalah semata-mata karunia Allah dan tidak boleh diakui sebagai hasil dari usaha dan jerih payahnya semata. Aisyah radiyallahu `anha berkata “ Tanda orang yang bersyukur adalah minimal dia mengakui bahwa apa yang dia peroleh adalah berasal dari Allah”. Contohlah Nabi Sulaiman yang ketika mendapatkan nikmat mengatakan “ Haadaa min fadli rabbiy, liyabluwaniy a-asykuru am akfur (Ini adalah karunia dari Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau inkar)”
[4]. Dan janganlah mencontoh seperti apa yang diucapkan oleh Qorun[5] ketika mendapatkan banyak kekayaan, dia mengatakan, “Qaala innamaa uutiituhu, `ala `ilmin `indiy (Sesungguhnya semua yang kumiliki ini adalah karena ilmu dan usahaku sendiri”).[6] Ini adalah contoh orang yang kufur nikmat dan durhaka kepada Allah.
2. Memuji-Nya karena nikmat itu. Hal pertama yang harus dilakukan oleh orang yang mendapatkan nikmat adalah menyampaikan pujian kepada Pemberi nikmat (Allah) sebagai simbol dari pengakuan dan rasa terima kasih. Kalimat pujian ini biasanya yang paling sederhana adalah mengucapkan alhamdulillahi rabbil `alamiin (segala puji bagi Allah Tuhan penguasa alam semesta raya). Dalam do`a kita sehari-hari pun biasanya dimulai dengan pujian kepada Allah, misalnya Doa sesudah makan “Alhamdulillaahil ladzi ath-`amanaa, wa saqaanaa, waja-`alnaa minal muslimiin (Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberi makan dan minum kepada kami dan telah menjadikan kami termasuk golongan orang-orang yang telah berserah diri kepada-Mu).
[7] Dalam do`a ketika bangun tidur pun juga begitu, kita dianjurkan membaca “ Alhamdulilaahil ladzi ahyaanaa, ba`da maa amaa-tanaa, wa ilayhin nusuur (Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menghidupkan kami, setelah mematikan (menidurkan) kami. Dan kepada-Nya pula kami akan kembali).”[8]
3. Orang yang bersyukur harus tunduk kepada yang memberi nikmat, yaitu Allah. Artinya syukur kita dianggap benar apabila kita tunduk dan patuh serta taat kepada semua ketentuan Allah, baik perintah dan larangan-Nya. Dengan cara kita menjalankan semua perintah-Nya dan menjahui semua larangan-Nya. Allah berfirman : “Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (Al-Baqarah 2 : 21).
Kandungan Surat Al-Baqarah ayat 21 ini Allah memerintahkan keseluruhan manusia, tanpa kecuali, bahwa mereka hanya boleh mengabdikan hidup mereka di dunia ini hanya kepada Allah, Rabb `alamiin, yang telah menciptakan, memelihara, mendidik, dan menyempurnakan manusia serta memenuhi segala keperluan dan perangkat agar tercapainya sebuah hakikat pengabdian. Keperluan dan perangkat tersebut meliputi potensi yang ada pada diri mereka yaitu bentuk fisik yang sempurna, akal, nafs, qalbu atau hati dan ruh, maupun perangkat yang ada di luar diri manusia yang berupa bumi dan langit dan segala yang ada di antara keduanya, yang kesemuanya memang Allah telah sediakan dan tundukkan buat “melayani” dan “memungkinkan” manusia bisa secara maksimal melakukan pengabdian (baca : ibadah).
Muhammad Zuhri dalam bukunya Hidup Lebih Bermakna, memberikan tafsir yang menarik dan orisinil ketika menjelaskan makna Al-Hamdulillahi rabbil `alamin.
Beliau menulis, dalam melakukan manajerial terhadap alam semesta, Allah memberikan semua sarana yang dibutuhkan oleh umat manusia. Sarana itu berupa potensi yang ada di dalam diri maupun potensi yang ada di luar diri. Potensi di dalam diri berupa panca indra, akal pikiran, hati nurani, ketrampilan, dan sebagainya. Potensi di luar diri ialah alam struktural dengan segenap potensi yang ada di dalamnya. Kedua potensi tersebut jika diinteraksikan akan melahirkan ilmu pengetahuan yang sanggup mengungkapkan sumber daya alam untuk kesejahteraan umat manusia. Inilah sifat rahmaniyyah Allah yang diberikan kepada umat manusia.
Di samping melimpahkan potensi yang ada di dalam diri dan di luar diri (yang lahir dari sifat rahmaniyyah), Allah juga memberikan teknis atau cara mendayagunakan semua pemberiaan-Nya melalui sifat rahimiyyah. Dengan demikian, kita mendapatkan keefektifan yang lebih bernilai dalam menjangkau cita-cita tertinggi kita, yaitu menggapai ridha Allah yang berakhir dengan jannah al-na`im ( surga maha nikmat). Sebab jika sarana yang diberikan melalui sifat rahmaniyyah tidak disertai sifat rahiimiyyah, niscaya kita akan sesuka hati dalam mendayagunakan potensi-potensi itu. Akibatnya, kita bisa menjadi liar dan anarkis.
Di samping Allah memberikan semua sarana dan teknis pendayagunaan melalui sifat rahmaniyyah dan rahimiyyah, Allah juga melakukan pengawasan melalui sifat maalikiyyah. Dialah Raja yang mengawasi ketika seseorang menempuh hari-harinya sebagai “hari agama” (yaum al-din). “Hari agama” bukanlah hari akhirat atau hari pembalasan (yaum al-ba`ts). “ Hari agama” adalah hari-hari khusus yang dimiliki oleh orang-orang yang melakukan perjalanan kepada Tuhan. Hari-hari tersebut merupakan momen religi, hari-hari pendekatan kepada Tuhan—yang orang-orang kafir tidak memilikinya.
Dalam proses menempuh waktu, kita diawasi. Dialah raja yang memimpin dan mengawasi kita. Bahkan Dia tidak hanya sekedar mengawasi, tetapi juga memberikan penghargan, pahala, bonus (meluaskan rezeki, memberikan fadhilah, keutamaan) manakala kita dinilai baik dalam pengawasan-Nya. Sebaliknya, ketika Tuhan tidak berkenan, Dia tidak segan-segan memberikan peringatan, sangsi, bahkan pidana atau hukuman. Inilah maalikiyyah Allah.
Dengan demikian, Allah telah mengatur alam semesta ini dengan cara terbaik dan adil; memberikan sarana yang cukup (rahmaniyyah), memberikan teknis atau cara pendayagunaan sarana tersebut (rahiimiyyah), melakukan pengawasan, kontrol, bonus, dan sanksi (maalikiyyah). Ketiga hal itulah yang membuat Allah hamd (terpuji) dan karenanya pengabdian hanya layak ditujukan kepada-Nya.
4. Tidak menggunakan nikmat itu untuk sesuatu yang dibenci-Nya. Hendaknya kita menggunakan nikmat Allah untuk sesuatu yang diperintahkan Allah dan dicintai serta diridhai-Nya, dan bukannya sebaliknya, kita gunakan nikmat Allah untuk maksiat, durhaka dan segala hal yang dibencinya. Kalau kita diberi nikmat penglihatan oleh Allah, maka hendaklah kita melakukan puasa melihat dengan cara kita menahan diri untuk tidak melihat sesuatu yang dibenci, yang dicela, dan segala hal yang yang dapat membimbangkan dan melalaikan hati dari mengingat Allah. Allah memerintahkan agar orang beriman menundukkan pandangannya dan menjaga kehormatannya (Surat An-Nur 24 :30). Nabi bersabda: ” Pandangan adalah salah satu dari panah-panah beracun milik setan, yang telah dikutuk oleh Allah. Barang siapa menjaga pandangannya, semata-mata karena Allah, niscaya Allah akan memberinya merasakan lezatnya keimanan dalam hatinya” (Hadis rirawat al-Hakim)
[9]. Terlalu banyak melihat akan menimbulkan keinginan-keinginan yang tidak terpuaskan. Para psikolog mengukur kekecewaan dengan membandingkan “want” dengan “get”. Jika yang Anda dapatkan dan peroleh lebih sedikit dari yang Anda inginkan, Anda akan mengalami kekecewaan. Makin tinggi keinginan Anda, makin besar kemungkinan Anda kecewa. Dan sumber keinginan banyak berasal dari apa yang Anda lihat. Kalau kita diberi nikmat Lisan, maka hendaknya kita Puasa bicara. Yaitu dengan menahan lisan kita dari perkatan yang sia-sia, berdusta, mengumpat, menyebarkan fitnah, tidak berbicara tentang sesuatu yang tidak kita pahami dan segala perkataan yang bisa membuat sesama kita menjadi bingung, resah, gelisah dan sakit hati. Padahal Nabi telah bersabda ”Al-Muslimu man salimal muslimun min lisaanihi wa yadihi (Orang Islam adalah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya agar tidak menyakiti orang lain) (hadis riwayat Bukhori Muslim)”. Dengan puasa bicara, Allah akan memperdengarkan kepada manusia dengan sangat jernih suara hati nurani mereka. Lewat hati, yang merupakan taman dan rumah Allah dalam diri manusia yang beriman, Allah menyampaikan hidayah atau petunjuk-Nya. Dan karena terlalu banyak bicara, kita tidak lagi sanggup mendengar suara Tuhan dalam hati nurani kita. Kita menjadi tuli, karena terlalu bising mendengarkan suara-suara lain selain seruan Tuhan.
5. Orang yang bersyukur harus mencintai-Nya. Tanda orang yang bersyukur adalah ia harus lebih mencintai Allah dari pada selain-Nya. Kecintaanya kepada pekerjaan, kekayaan, kekuasaan, dan keluarga serta hal-hal lain selain Allah, tidak boleh mengalahkan kecintaanya kepada Allah. Kecintaannya kepada selain Allah tidak boleh melalaikan kewajibannya kepada Sang Pemberi Nikmat dan karunia. Allah berfirman dalam Surat Al-Baqarah ayat 165 : “ Waminan naasi, may yattakhidzu min duunillaahi andaadan, yuhibbuunahum kahubbillah, walladiina aamanuu, asyaddu hubban lillaah ( Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Padahal seharusnya orang yang beriman adalah orang yang sangat cintai kepada Allah)”. Bukankah dalam salat, kita selalu mengikrarkan bahwa hanya menjadikan Allah satu-satunya tujuan kita menyembah dan satu-satunya tempat kita memohon pertolongan (iyya kana`budu, wa iyyaka nasta`iin, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami mohon pertolongan).

Begitu juga harta yang kita miliki, hendaknya kita gunakan untuk membantu sesama dengan cara banyak infaq, sedekah dan berbagi; kekuasaan yang sedang kita genggam, hendaklah kita gunakan untuk memakmurkan dan mensejahterahkan orang atau rakyat yang kita pimpin dan hal-hal lain yang dicintai oleh Allah.
Ibn `Athaillah mengatakan dalam kitab al-Hikamnya : “Siapa tidak mensyukuri nikmat, berarti menginginkan hilangnya. Dan barang siapa mensyukurinya, berati telah secara kuat mengikatnya”. Syukur adalah sarana untuk memanfaatkan dan memelihara karunia-Nya. Hati yang bersyukur memperkuat dan memantapkan kebaikan yang ada, dan akan menghasilkan kebaikan yang belum ada. Orang awam (biasa) hanya bersyukur bila memperoleh rezeki material. Orang-orang yang telah mengalami pencerahan batin selalu bersyukur baik ketika memperoleh nikmat atau pun tidak. Orang-orang yang telah memperoleh nur Ilahi (cahaya Tuhan) tidak memedulikan nikmat maupun penderitaan, karena mereka melihat karunia dan rahmat Allah di balik semua penampakan dan pengalaman.

Ekspresi Syukur
Syukur dibagi menjadi: Syukur dengan lisan, yang berupa Pengakuan atas anugerah dalam derajat kepasrahan, dan syukur dengan tubuh, yang berarti mengambil sikap setia dan mengabdi; syukur dengan hati, adalah tentram dalam latar musyahadah (penyaksian) dengan terus menerus melaksanakan pemuliaan. Dikatakan bahwa kaum cendekiawan bersyukur dengan lidah mereka, kaum pecinta bersyukur dengan perbuatan mereka, dan kaum 'arifin bersyukur dengan istiqamah mereka terhadap-Nya di dalam semua perilaku mereka.
Abu Bakr al Warraq berkata, "Syukur atas nikmat adalah memberikan musyahadah (kesaksian) terhadap anugerah tersebut dan menjaga penghormatan." Dikatakan, "Bersyukur atas kemampuan untuk bersyukur adalah lebih lengkap daripada bersyukur saja. Dengan cara memandang bahwa rasa bersyukur Anda datang karena Dia telah memberikan taufik-Nya. Dan taufiq-Nya itu termasuk nikmat yang diperuntukkan bagi diri Anda. Jadi Anda bersyukur atas kesyukuran Anda, dan kemudian Anda bersyukur terhadap kesyukuran atas kesyukuran Anda, sampai tak terhingga."
Dikatakan, "Bersyukur adalah menisbatkan (mengembalikan) anugerah kepada pemiliknya yang sejati dengan sikap kepasrahan." Al-Junayd mengatakan, "Bersyukur adalah bahwa engkau tidak memandang dirimu layak menerima nikmat." Dikatakan, "Orang yang bersyukur adalah orang yang bersyukur atas apa yang ada, dan orang yang sangat bersyukur adalah yang bersyukur atas apa yang tidak ada." Dikatakan, "Orang yang bersyukur berterimaksih atas pemberian, tapi orang yang sangat bersyukur (Syakur) berterimakasih karena tidak diberi." Dikatakan juga, "Orang yang bersyukur berterimakasih atas pemberian, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih atas kemelaratan." Dikatakan, "Orang yang bersyukur berterimakasih manakala anugerah diberikan, dan orang yang sangat bersyukur berterimakasih manakala anugerah ditunda."
Al-Junayd menjelaskan, "Suatu waktu, ketika aku masih berumur tujuh tahun, aku sedang bermain main di hadapan as-Sary, dan sekelompok orang yang sedang berkumpul di hadapannya, berbincang tentang syukur. Ia bertanya kepadaku, 'Wahai anakku, apakah bersyukur itu?' Aku menjawab, 'Syukur adalah jika orang tidak menggunakan nikmat Allah untuk bermaksiat kepada Nya.' Ia mengatakan, 'Derajatmu di sisi Allah akan segera engkau peroleh melalui lidahmu, nak'!" Al-Junayd mengatakan, 'Aku senantiasa menangis mengingat kata kata as Sary itu." Asy-Syibly menjelaskan, "Syukur adalah kesadaran akan Sang Pemberi nikmat, bukan memandang nikmat itu sendiri."
Dikatakan bahwa Daud as. bertanya, "Ilahi, bagaimana aku dapat bersyukur kepada-Mu, sedangkan bersyukurku itu sendiri adalah nikmat dari Mu?" Allah mewahyukan kepadanya, "Sekarang, engkau benar benar telah bersyukur kepada Ku."
Dikatakan bahwa Musa as. mengatakan dalam doa munajatnya, "Ya Allah, Engkau telah menciptakan Adam dengan Tangan Mu, dan Engkau telah begini dan begitu. Bagaimana ia bersyukur kepada Mu?" Allah Menjawab, "Ia mengetahui bahwa semua itu berasal dari Ku, dan dengan begitu pengetahuannya tentang semua itu adalah syukurnya kepada Ku."
Seseorang mendatangi Sahl bin Abdullah dan mengatakan kepadanya, "Seorang pencuri telah memasuki rumahku dan mencuri barang barangku!" Sahl berkata, "Bersyukurlah kepada Allah swt.! Seandainya sang pencuri itu, yaitu setan, memasuki hatimu dan merusak tauhid dan keimananmu, apa yang akan engkau perbuat?".
Dikatakan, "Syukurnya kedua belah mata adalah bahwa engkau menyembunyikan cacat yang engkau lihat pada sahabatmu, dan syukurnya kedua telinga adalah engkau menyembunyikan cacat yang engkau dengar tentang dirinya."
Diceritakan bahwa suatu delegasi datang kepada Umar bin Abdul Aziz r.a. Di antara mereka ada seorang pemuda, yang memulai membuka pembicaraan. Umar berkata kepadanya, "Coba, yang tua-tua dulu berbicara! " Mendengar itu si pemuda berkata, "Wahai Amirul Mukminin, jika urusan diserahkan kepada orang berdasarkan usianya, maka banyak orang di kalangan kaum Muslimin yang lebih layak menjadi khalifah dibanding Anda." Maka Umar berkata, "Bicaralah! Pemuda itu menjelaskan, "Kami bukanlah delegasi yang menyampaikan keinginan, bukan pula delegasi yang menyampaikan rasa takut. Mengenai keinginan, maka kemurahan Anda telah memenuhi kebutuhan kami, dan tentang soal takut, keadilan Anda pun telah mengamankan kami dari ketakutan." Maka Umar pun bertanya kepadanya, "Lantas, siapa kalian ini?" Ia menjawab, "Kami adalah delegasi yang menyampaikan syukur. Kami datang untuk menyampaikan terimakasih kepada Anda, dan sekarang kami akan pulang."




Tingkatan Syukur
Menurut pengarang kitab Manazilus Sa`irin (Tingkatan-tingkatan Perjalanan Spiritual) Abu Ismail Al-Harawy, syukur ada tiga derajat atau tingkatan.
Mensyukuri hal-hal yang disukai. Ini merupakan syukur yang bisa dilakukan oleh siapa pun, baik orang beriman maupun tidak. Karena memang pada dasarnya manusia akan dengan mudah berterima kasih kalau apa yang dia inginkan terpenuhi atau mendapatkan sesuatu yang dia sangat sukai. Makanya syukur dengan model yang seperti ini merupakan derajat syukur yang terbawah.
Syukur karena mendapatkan sesuatu yang dibenci. Syukur derajat ini bisa dilakukan oleh orang yang tidak terpengaruh oleh berbagai keadaan, dengan tetap memperlihatkan keridhaan atau kerelaan, atau dilakukan oleh orang yang bisa membedakan berbagai macam keadaan, dengan menahan amarah, tidak mengeluh, memperlihatkan etika atau adab, dan mengikuti jalan ilmu. Orang yang bersyukur model inilah yang pertama kali dipanggil masuk surga. Syukur ini memiliki derajat lebih tinggi karena lebih berat dan sulit dilakukan. Dan karenanya tidak bisa dilakukan kecuali oleh salah satu dari dua golongan : Pertama, seseorang yang tidak membedakan berbagai macam keadaan. Dia tidak peduli apakah sesuatu yang diterima dan dihadapinya itu disukai atau dibenci, dia tetap bersyukur atas keadaannya, dengan menampakkan keridhaan dan kerelaan atas apa yang diterima dan dihadapinya. Kedua, orang yang bisa membedakan berbagai macam keadaan. Pada dasarnya dia tidak menyukai sesuatu yang dibenci dan tidak ridha jika hal itu menimpanya. Tetapi seandainya hal yang tidak disukainya benar-benar menimpanya, dia akan tetap bersyukur kepada Allah. Cara bersyukurnya ialah dengan cara menahan amarah, tidak berkeluh kesah, memperhatikan adab dan ilmu. Sebab ilmu dan adab menyuruh kepada Allah, baik dalam keadaan sempit atau lapang, dalam keadaan senang maupun susah. Hal ini akan lebih mudah dilakukan kalau dilandasi khusnudz dzan (berbaik sangka) terhadap Allah dan menyakini bahwa apa pun yang Allah berikan pasti ada hikmahnya dan tidak sia-sia. Allah berfirman, “Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian dan boleh jadi kalian mensukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Dan Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui”. (Al-Baqarah 2 : 216)
Hamba tidak melihat kecuali Sang Pemberi nikmat. Jika dia mempersaksikan-Nya karena penghambaan dan pengabdian , maka dia menganggap nikmat dari Allah itu amat agung. Ini seperti seorang hamba yang berada di hadapan tuannya, maka mereka lupa kemuliaan dirinya, memperhatikan dengan hikmat dan seksama ke arah tuannya, dan lupa memperhatikan keadaan dirinya sendiri. Keadaan seperti ini banyak dilihat dalam pertemuan di hadapan raja umpamanya. Orang yang memiliki kesaksian seperti ini, apabila mendapatkan nikmat dari raja, maka dia menganggap dirinya terlalu kerdil dan kecil untuk menerimanya, namun hatinya tetap dipenuhi dengan rasa cinta kepada raja atau tuannya. Adapun jika dia mempersaksikan-Nya karena cinta, maka kesusahan akan terasa manis baginya. Bagi mereka, dengan energi cinta, yang berat menjadi ringan, yang pahit terasa manis.

Wallaahu a`lam bish shawwab
[1] Bilal adalah sahabat Nabi yang merupakan orang yang pertama masuk Islam dari kalangan budak. Setelah dia masuk Islam beliau mengabdikan dirinya dengan cara sebagai muadzin (orang yang memanggil salat).
[2] Imam al-Qusyairy an-Naisabury, Risalatul Qusyairiyah, Surabaya :Risalah Gusti, Cet. Ke-2,1997, hal. 194.
[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, Madarijus Salikin, Pendakian Menuju Allah, Jakarta :Pustaka al-Kautsar, 1998, hal.273
[4] Surat an-Naml 27: 40
[5] Qarun adalah orang yang sangat kaya yang hidup pada zaman Nabi Musa, tapi kekayaannya membuat dia lupa akan pemberi kekayaan yaitu Allah. Bahkan dia menganggap bahwa semua kekayaannya adalah hasil usahanya sendiri dan tidak ada campur tangan dan urusannya dengan Tuhan. Maka Allah kemudian mengazabnya dengan memasukkan dia ke dalam bumi beserta semua kekayaan yang dia miliki. Dari peristiwa inilah kemudian ada istilah harta karun (hartanya Qarun).
[6] Surat al-Qashash 28:78
[7] Abu Ahmad Muhammad Naufal, Doa-Doa Mustajab, Jogjakarta: Mitra Pustaka, Cet. Ke-3, 1998, hal. 282
[8] Ibid, hal. 232
[9] Imam al-Ghazali, Ibadah Perspektif Sufistik, Surabaya: Risalah Gusti, Cet. Ke 1, 1999, hal . 78

Tidak ada komentar: